Bahan Galian Non Golongan A dan B

Sekedar bagi bagi cerita lagi kali ini mau membahas bahan tambang apa saja yang ditambang yang bukan termasuk Golongan A dan B. Berarti golongan yang tidak terlalu strategis terhadap kepentingan pertahanan dan keamanan negara, bahan galian tersebut sebagai berikut :

1.Endapan posfat
Endapan posfat berupa posfat guano berwarna coklat keabu-abuan, berbentuk serbuk, dan mudah digali. Berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa endapan posfat ini pernah digali/ diambil. Berdasarkan hasil analisa kimia dari contah fospat, memperlihatkan Komposisi kimia sebagai berikut : SiO2 = 12,30 %, TiO2 = 0,04 %, Al2O3 = 19,27 %, Fe2O3 = 5,80 %, CaO = 25,25 %, MgO = 18,22 %, MnO = 4,17 %, H2O = 14,95 %. Kegunaan endapan posfat terutama sebagai pupuk, baik pupuk buatan maupun pupuk alam, dalam industri detergen, asam sulfat dan industri kimia lainnya.
2.Grafit
Mineral logam dengan rumus kimia C, sebagai butiran dalam urat atau tersebar dalam batuan malihan digunakan untuk pensil cat pelumas dan elektrode.

3.Batu permata
Mineral atau bahan sintesis lainnya yang memiliki keawetan dan keindahan alami ataupun keindahan buatan sertai memadai untuk digunakan sebagai perhiasaan.

4.Batu setengah permata
Bahan galian ini dikenal juga sebagai batu aji atau batu mulia. Bahan galian ini dijumpai di Kabupaten Garut bagian selatan tersebar antara lain di Blok Cilending, Blok Cigajah dan Blok Kiara Payung, Desa Sukarame, Kecamatan Caringin dengan jumlah cadangan terkira 9.035 ton dengan mutu yang bervariasi.
Berdasarkan mutu dapat dipegunakan sebagai bahan perhiasan (kalung, gelang, cincin) ataupun sebagai bahan rumah tangga (meja, patung, asbak, dan sebaginya).
Jenisnya sangat beragam seperti krisopras – Jamrud Garut, native copper (Batu Urat Tembaga), agat, kuarsa/kalsedon (kecubung), kriskola, jaspir, fosil kayu terkersikkan, dan lain-lain.

5.Kaolin
Kaolin merupakan bahan galian industri yang banyak dipergunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kertas, keramik, cat, isolator, material pengisi dan lain sebagainya. Singkapan terbentuk akibat proses kaolinisasi dan diduga berasosiasi dengan proses pelapukan/proses hidrotermal alterasi pada batuan yang mengandung feldsfar (tuf). Jenis lempung yang sebagian besar terdiri dari mineral kaolinit, bila dibakar berwarna putih atau keputih-putihan digunakan sebagai bahan dasar keramik dan penggunaan lainnya.
6.Batu apung
Rumus kimia SiO2 Al2 O3, Surumalao terdapat di Pulau Tidore dengan cadangan yang menyebar Batu apung merupakan hasil material erupsi gunung api yang mengandung silika tinggi dan mempunyai sifat titik berongga-rongga. Lokasi bahan galian ini di Desa Nagrek, Kecamatan Bl. Limbangan, tersebar secara tidak merata dalam batuan breksi gunung api.

7.Trass
Endapan Trass pada umumnya berwarna putih – keabu-abuan, merupakan lapisan dari endapan tufa Toba yang bersifat tufa riolitik, tidak menunjukkan suatu perlapisan. Singkapan-singkapan trass sangat mudah dilihat, umumnya pada tebing-tebing perbukitan tepi jalan. Potensi bahan galian trass terdapat di desa Nari Gunung, Kecamatan Payung, dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal dengan kondisi jalan baik.
Berdasarkan hasil analisa kimia contoh trass, memperlihatkan komposisi sebagai berikut : SiO2 = 4,73 %, TiO2 = 0,15 %, Al2O3 = 6,75 %, Fe2O3 = 25,40 %, CaO = 41,55 %, MgO = 1,12 %, , MnO = 0,05 %, H2O = 20,25 %, Kegunaan trass ini biasanya sebagai bahan campuran pembuatan semen, pembuatan batako, campuran pembuatan beton, campuran plester dan tanah urug. Tras adalah batuan gunung api yang telah mengalami perubahan komposisi kimia yang disebabkan oleh pelapukan dan pengaruh kondisi air bawah tanah. Bahan galian ini berwarna putih kekuningan hingga putih kecoklatan, kompak dan padu dan agak sulit digali dengan alat sederhana. Kegunaan tras adalah untuk bahan baku batako, industri semen, campuran bahan bangunan dan semen alam. Pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun secara lokal telah dimanfaatkan penduduk untuk pembuatan batako.

8.Obsidian
Merupakan batuan yang terbentuk oleh hasil kegiatan erupsi gunung api bersusunan asam hingga basa yang pembekuannya sangat cepat sehingga akan terbentuk gelas atau kaca daripada kristal dominan. Obsidian adalah batuan yang disusun secara keseluruhan dari kaca amorf dan sedikit kristal feldspar, mineral hitam dan kuarsa.
9.Perlit
Adalah batuan yang terbentuk oleh lava riolit. Pada waktu lava mengalir, bagian bawahnya bersentuhan dengan media air dan akibat beban diatasnya dan aliran lava yang tertahan akan terjadi pendinginan sangat cepat, maka terbentuklah perlitisasi. Batuan ini berwarna abu-abu kehijauan hingga abu-abu kehitaman dan mempunyai sifat yang khas, apabila dipanaskan akan mengembang antara 4 hingga 20 kali, serta batuan ini tahan terhadap api.

10.Batu kapur
Jenis batu gamping lunak seperti tanah, berpori dan berwarna putih sampai abu-abu muda, berupa kumpulan cangkang kerang yang berukuran halus terdiri dari 90 – 99 kalsit.
11.Dolomit
Dolomit, berwarna putih keabu-abuan – kekuningan – kemerahan, keras, kompak, masif, terkekarkan, terisi mineral kalsit, sebagian lepas, sehingga mudah digali, sebagian telah mengalami pelapukan, ketebalan sekitar 5 meter. Dolomit di daerah ini membentuk perbukitan sedang, merupakan perladangan dan sebagian semak belukar. Potensi bahan galian dolomit di Kecamatan Kutabuluh, meliputi desa Lau Buluh, Genting, dan Kutabuluh Gugung, di Kecamatan Payung, meliputi desa Kuta Kepar, Susuk dan Penampen, dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal. Kedua daerah kecamatan tersebut merupakan satu jalur dari arah kota Kabanjahe.
Analisa kimia terhadap contoh dolomit, memperlihatkan komposisi sebagai berikut : SiO2 = 2,25 %, TiO2 = 0,57 %, Al2O3 = 5,89 %, Fe2O3 = 35,85 %, CaO = 45,43 %, MgO = 3,86 %, MnO = 0,45 %, H2O = 5,90 %. Kegunaan dolomit sangat beragam, antara lain sebagai bahan refraktori dalam tungku pemanas atau tungku pencair, sebagai pupuk (unsur Mg) dan pengatur Ph tanah, pengembang dan pengisi cat, plastik, kertas dan bahan pembuat semen sorel.
12.Kalsit
Kalsit umumnya ditemukan berupa urat-urat kalsit pada rekahan rekahan batugamping/marmer, ketebalan urat-urat kalsit bervariasi dari 1 – 5 cm, berwarna putih, belahan 3 arah, mudah pecah pada bidang belahannya, penyebarannya setempat-setempat. Kalsit terjadi karena penghabluran kembali larutan batugamping akibat pengaruh airtanah. Kalsit umumnya ditemukan pada pengisian rongga-rongga, rekahan atau kekar, sehingga jumlahnya tidak banyak karena sifatnya hanya setempat-setempat dan tidak potensi untuk ditambang. Kalsit terdapat di desa Paya Mbelang, Kecamatan Lau Baleng. Daerah tersebut dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan desa sekitar 6 – 8 Km. Kalsit biasanya digunakan untuk pemutih dan pengisi, cat, gelas, plastik dan bahan pelapis kertas. Dengan adanya perubahan teknik pembuatan kertas dari asam ke netral atau alkali, maka penggunaan kaolin sebagai bahan pelapis digantikan oleh kalsit.

13.Granit
Batuan beku dalam (plutonik) asam berbutir kasar, terutama terdiri atas mineral-mineral feldspar dan kuarsa.
14.Andesit
Rumus kimia SiO2 Fe2, O3 MgO; terdapat di Bobo, Dokiri, dan Soadara (Pulau Tidore) dengan cadangan yang menyebar Bahan galian andesit, berupa lava andesit, berwarna abu-abu – gelap, kompak, keras, masif, rekah-rekah, sedikit berpori, tekstur afanitik, dan disusun oleh mineral utama plagioklas, hornblende, biotit dan piroksin, umumnya membentuk perbukitan menyebar ke arah selatan dan barat meliputi daerah Berastagi, Kabanjahe dan Surbakti.
Bahan galian andesit ini umumnya menempati daerah pemukiman, perkebunan bunga, perladangan dan hutan. Bahan galian andesit dijumpai di Kecamatan Berastagi (Berastagi), Kecamatan Kabanjahe (Kabanjahe) dan Kecamatan Simpang Empat (Surbakti). Kegunaan bahan galian andesit ini terutama untuk bahan bangunan (agregat) dan batu hias (ornamental stone).

15.Tanah Liat
Rumus kimia SiO2 Al2 O3, Fe2 O3 TiO2 terdapat di Pulau Mare dengan cadangan yang menyebar Lempung atau tanah liat telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk membuat genteng dan bata merah. Bahan galian ini tersebar di beberapa tempat seperti Desa Cihonje, Sukabandung, Banyuresmi dan Sukarame.
16.Pasir dan Sirtu
Batu Pasir (Sirtu) rumus kimia SiO2 Fe2, O3 CaO MgO, terdapat di Oba Utara (Pulau Halmahera), dengan cadangan yang menyebar Pasir dan batu (sirtu) merupakan batuan hasil rombakan dari batuan asal yang tidak terkonsolidasi. Sirtu ini pada umumnya ditemukan pada aliran sungai. Potensi bahan galian sirtu di daerah ini tersebar dan sebagian telah dimanfaatkan. Pasir dan batu di daerah ini tersebar, pada umumnya terdapat di aliran sungai dan sebagian telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Sirtu dapat digunakan dalam sektor konstruksi, seperti bangunan perumahan, banguanan pertokoan, bangunan perkantoran, jembatan, dan jalan serta fondasi pasir umumnya sebagai endapan aluvium, sedangkan endapan kegiatan gunung api berupa lahar akan menghasilkan sirtu (pasir dan batu).
17.Marmer
Batuan Marmer berwarna abu-abu gelap – agak kemerahan, keras, kompak, masif, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit dan oksida besi, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan, ketebalan 5 – 10 meter. Batuan marmer di daerah ini membentuk perbukitan terjal, sebagian berupa perladangan dan hutan semak belukar. Potensi bahan galian marmer di Kecamatan Kutabuluh, terdapat di desa Lau Buluh, di Kecamatan Lau Baleng, terdapat di desa Mbal-mbal Petarum dan desa Paya Mbelang, dan di Kecamatan Mardinding, terdapat di desa Lau Solu, pada umumnya dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal sampai ibukota kecamatan dan selanjutnya menuju lokasi bahan galian dengan kondisi jalan tanah dan pengerasan batuan, juga dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat.
Berdasarkan hasil analisa kimia contoh marmer, memperlihatkan komposisi sebagai berikut : SiO2 = 2,30 %, TiO2 = 0,04 %, Al2O3 = 1,27 %, Fe2O3 = 75,80 %, CaO = 5,25 %, MgO = 2,14 %, MnO = 0,17 %, H2O = 13,03 %. Marmer terutama digunakan untuk bangunan seperti ubin lantai, dinding, papan nama, dekorasi atau hiasan, ornamen dan perabot rumah tangga seperti meja.

18.Batugamping
Batugamping berwarna abu-abu – gelap – putih, keras, kompak, struktur masif, tekstur kristalin, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit dan oksida besi, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan, ketebalan 2 – 8 meter. Batugamping ini tersusun oleh mineral kalsit (CaCo3), terjadi secara organik, mekanik atau kimia. Batugamping ini pada umumnya membentuk perbukitan merupakan areal perladangan dan semak belukar. Potensi bahan galian Batugamping di Kecamatan Juhar, terdapat di desa Kidupen dan desa Pergendangan, di Kecamatan Payung, terdapat di desa Tanjung Mbelang, sedangkan di Kecamatan Tiga Binanga terdapat di desa Lau Kapur, pada umumnya dapat dijangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal dengan kondisi jalan baik.
Berdasarkan hasil analisa kimia contoh Batugamping, memperlihatkan komposisi sebagai berikut : SiO2 = 37,96 %, TiO2 = 0,85 %, Al2O3 = 35,95 %, Fe2O3 = 2,95 %, CaO = 4,47 %, MgO = 6,82 %, MnO = 0,02 %, H2O = 10,98 %. Penggunaan batugamping tergantung pada sifat-sifat fisik dan kimianya. Penggunaan sebagai bahan bangunan ditentukan oleh sifat fisiknya, sedangkan sebagai bahan industri ditentukan oleh sifat kimianya.
Batugamping banyak digunakan sebagai bahan baku semen, karbid, bahan pemutih, penetral keasaman tanah dalam pertanian, pupuk industri, keramik, bahan bangunan, bahan ornamen, pengembang dan pengisi dalam industri cat, kertas, karet, kaca dan plastik serta dalam industri farmasi, kosmetik dan industri kimia lainnya. Disamping itu, daerah yang mempunyai topografi karst dapat dikembangkan menjadi objek wisata.
19.Tawas
Endapan ini adalah sulfat dari K dan Al yang mengandung air dan ditemukan sebagai larutan dalam danau-danau kawah seperti kawah Ijen. Tawas digunakan dalam perusahaan tekstil kulit sebagai cat. Endapan ini mulai kurang berharga karena adanya pembuatan tawas secara kimia.
20.Yarosit
Mineral ini merupakan persenyawaan sulfat yang mengandung kalium besi dan hidroksida. Di Ciater, Jawa Barat, yarosit ditemukan sebagai hasil sumber airpanas yang mungkin ada hubungannya dengan gejala vulkanik di sekitarnya. Mineral ini digunakan untuk pengambilan zat K2O akan tetapi cara pemisahan zat-zat ini dari persenyawaannya masih sulit

About these ads

Satu Balasan ke Bahan Galian Non Golongan A dan B

  1. alfarizi mengatakan:

    saya lagi mau penelitian masalah tras, saya bingung literatur mengenai tras,,, minta tolong bantuannya untuk tras y, makasih banyak… minta tolong kirim k email y makasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: