Sebuah Refleksi Semarang

Sudah 2,5 tahun ini saya bermukim di KOTA semarang dan melihat segala aspek yang ada, Secara garis besar menurut saya Semarang dibagi menjadi 2 daerah daerah perbukitan, dan daerah dataran rendah landai. Dimana pusat Kota berada pada daerah dataran rendah. Dari cerita-cerita, baca blog orang lain, dan nyari-nyari pustaka dibeberapa buku dan tempat serta survey lapangan. ada hal yang membuat saya prihatin akan perkembangan Urbanisasi Semarang dan perkembangan tata kota yang hampir tidak melihat posisi tata guna lahan sebenarnya. Jangan heran bila terdapat penamakan subsidence dibeberapa tempat, tanah longsor di sekitar sekaran, daerah robb di daerah utara. Semua hal tersebut tidak lepas dari peranan fungsi kota yang saya lihat asal…… Lihat saja warga tembalang yang mulai membor sumur sampai kedalaman 50 meter secara rasional ngebor sampai 20 meter saja mungkin sudah mendapatkan airtanah karena menurut saya daerah ini sebagai daerah recharge, namun kenyataanya ditiap rumah saling ngebor dan mengebor dan akhirnya tatanan
sistem akuifer menjadi kacau. Bahkan terkadang terjadi ketidak seimbangan akuifer daerah walaupun masih didalam satu sistem akuifer namun apalah daya, banyak masyarakat awam tidak terlalu mementingkan airtanah karena memang sejauh ini belum terlalu berat dirasakan lalu bagaimana kasusnya kalau hal ini terjadi lebih parah ditahun-tahun yang akan mendatang…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: