Reklamasi Pantai Marina

Pertumbuhan dan perpindahan penduduk yang semakin pesat telah menimbulkan permasalahan yang pelik bagi tempat dimana mereka tinggal. Tidak hanya peningkatan angka kriminalitas tetapi juga kerusakan lingkungan yang semakin parah. Pertambahan jumlah penduduk menuntut pula bertambahnya tempat tinggal. Sayangnya, lahan yang diperuntukan untuk pemukiman di setiap kota terbatas, bahkan semakin lama luasnya semakin berkurang karena beralihfungsi menjadi pusat perbelanjaan dan perkantoran.
Desakan kebutuhan ekonomi menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya. Daerah sepadan pantai, dihitung 100 meter dari pantai pada waktu pasang tertinggi, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, tidak bebas lagi dari kegiatan pembangunan.
Ribuan hektare lahan di pesisir pantai utara Jawa Tengah musnah tergerus abrasi. Data di Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah menyebutkan saat ini setidaknya abrasi telah menghilangkan 1.486 hektare lahan. Data tersebut baru mencantumkan abrasi di Kabupaten Pati, Jepara, Demak, Semarang, Kendal, dan Brebes. Jika data tersebut ditambah abrasi di Rembang, Batang, Pekalongan, Kota Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Kota Tegal, dipastikan luas lahan yang terkena abrasi bisa mencapai dua kali lipat lebih. “Kecenderungannya dari tahun ke tahun luas abrasi terus mengalami peningkatan.” Kota semarang sendiri mencapai kerusakan seluas Semarang 154 hektare. Sekitar 80
persen wilayah pantai saat ini dikuasai oleh swasta salah satunya ialah pengusaha. Dengan dalih telah mempunyai izin dari pusat pada zaman pemerintahan Orde Baru, mereka dengan leluasa mengubah pantai, termasuk mendirikan bangunan, baik di wilayah pantai maupun di laut dengan cara mereklamasi pantai. Sebagai contoh ialah reklamasi Pantai Marina Semarang yang diduga menyebabkan abrasi pantai Tawangmas. Bukan hanya itu, rob atau limpasan air laut di wilayah Kelurahan Tawangmas juga semakin parah.
Dari beberapa fakta diatas, dapat diketahui bahwa salah satu faktor penyebab abrasi adalah pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan. reklamasi pantai Marina, Semarang, mengakibatkan abrasi di kawasan Semarang Timur dan Sayung Demak. Demikian pula dengan pembangunan terminal Kayu Lapis di Kaliwungu, Kendal, yang mengakibatkan abrasi di kawasan Mangkang, Semarang.. Hilangnya hutan mangrove juga mempercepat abrasi.
Persetujuan pemanfaatan lahan perairan dan pelaksanaan reklamasi Pantai Marina itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota No 590/04310 bertanggal 31 Agustus 2004. Berikutnya, PT IPU dan Pemkot membuat surat perjanjian (MoU) Nomor 415.4/50 bertanggal 3 Desember 2004 antara Pemkot dan PT IPU. Dalam MoU itu disebutkan, Pemkot mendapat kompensasi berupa lahan seluas lima hektare, jembatan, dan konstruksi penghambat arus air Kali Siangker. Reklamasi direncanakan seluas 200 ha yang secara administratif masuk Kelurahan Tambakharjo, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang
Kawasan di yang reklamasi tersebut memanjang sesuai dengan bibir atau garis pantai. Dengan pola reklamasi yang demikian, maka ini akan melewati daerah tambak yang dimiliki oleh petambak pada daerah tepi pantai. Lebih lanjut reklamasi ini akan mengarah ke laut. Hal ini melihat daerah yang akan di reklamasi cukup luas yaitu sekitar 200 hektar. Padahal daerah yang sebagian merupakan area tambak kurang produktif yaitu hanya 80 hektar. Jadi kemungkinan penambahan daratan atau reklamasi akan mengarah ke laut.
Pelaksanaan pembangunan reklamasi ini tidak dilakukan dalam satu tahap, namun kegiatan tersebut akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pada tahap awal kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penimbunan atau pengurukan dengan material sebanyak 5 juta m3. Material tersebut akan diambil dari kawasan industri candi, sedangkan sisanya akan diambilkan dari daerah sekitar lokasi. Total material pengurukan adalah 15 juta m3. Material yang digunakan berupa batuan vulkanik dan breksi. Pada bagian bawah diisi dengan breksi. Kemudian diatasnya diisi dengan batuan vulkanik. Dengan kondisi tersebut, material timbunan akan mengalami penurunan atau penyusutan. Kemudian pada tahap selanjutnya akan dilakukan penimbunan kembali sesuai dengan target.
Teknik pondasi yang dilakukan oleh IPU dengan tiang pancang. Tiang-tiang tersebut berbahan bambu. Hal ini berfungsi untuk mencegah gelombang dan juga berfungsi untuk mengetahui serta menargetkan daerah yang akan direklamasi.
Sebagai normalisasi dan antisipasi terhadap adanya banjir, maka sesuai dengan AMDAL yang telah dibuat pada kawasan ini akan dibangun kanal dengan lebar 5 m yang berfungsi untuk mengalirkan air ke laut. Pada kondisi hujan perlu perawatan yang khusus sehingga dapat berfungsi dengan baik. Perawatan yang dilakukan seperti pengerukan atau menjaga kedalaman sungai agar tetap dalam, sehingga dapat menampung air yang masuk ke badan sungai. Meski agak diragukan kemampuanya mengingat hujan yang intensitasnya rendah atau sedang saja pada kawasan ini dapat mengakibatkan air yang terdapat pada badan sungai dapat meluap.
Langkah lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya banjir yaitu dengan membuat kolam-kolam kecil. Luas kolam yang harus disediakan dari total area reklamasi minimal 10%. Jadi jikalau area yang akan direklamasi seluas 200 hektar, maka minimal kolam-kolam tersebut luasnya 10 hektar. Kolam buatan ini dimaksudkan sebagai tangkapan dan daerah resapan air.
Melihat dari AMDAL yang telah dilakukan dan diinplementasikan dalam pembangunan Pantai Marina ini, terlihat bahwa seakan-akan proyek yang telah dikerjakan tidak akan menimbulkan dampak yang negative baik secara fisik, ekonomi maupun sosial. Dampak yang paling menonjol adalah secara fisik yaitu perubahan kondisi morfologi pantai. Batas pantai atau garis pantai menjadi lebih menjorok ke arah laut. Perubahan garis pantai mengakibatkan perubahan arus yang mengarah ke pantai. Arus yang sedianya dapat tertahan di Pantai Marina kemudian berubah arah masing-masing ke arah barat dan timur. Arus yang ke arah timur memiliki arus yang relatif besar dengan tidak membawa sedimen laut. Pada arus ini akan mengakibatkan abrasi terhadap pantai seperti yang terjadi di Pantai Tawang Mas dan Pantai Sayung. Hal ini diperparah dengan kondisi vegetasi mangroove yang sudah rusak. Dengan demikian abrasi yang terjadi akan lebih intensif dan sangat mengkhawatirkan. Beberapa tambak yang dimiliki oleh petambak di Pantai Timur Semarang dan Pantai Demak hilang akibat adanya abrasi. Selain itu juga ada beberapa kampung yang mulai tenggelam dan ditinggalkan oleh penghuninya.
Demikian juga arus yang berarah ke barat. Arus yang membawa sedimen laut tersebut relatif sedikit sehingga penumpukan material laut yang akan membentuk daratan atau akresi akan menjadi lebih sempit. Jadi proses akresi yang terjadi tidaklah sama atau sebagus yang terbentuk pada kondisi pantai yang masih alami. Perbandingan antara daerah yang terabrasi dan mengalami akresi yang paling besar yaitu daerah yang mengalami abrasi. Pada peta yang ada mungkin terlihat bahwa garis pantai berarah maju ke laut. Hal ini merupakan hasil dari sedimentasi sungai yang mengarah ke Pantai Utara Semarang dan juga merupakan hasil dari sedimentasi yang dibawa oleh gelombang. Namun pada kondisi sekaranga majunya garis pantai lebih diakibatkan oleh adanya aktifitas reklamasi yang dilakukan oleh pengembang.
Dampak lain yang mungkin timbul adalah makin panjangnya masalah rob. Hal ini disebabkan semakin panjangnya jalur yang harus ditempuh oleh air untuk sampai ke laut. Daerah yang tadinya dijadikan sebagai daerah resapan dan tempat berhentinya air sementara seperti di pinggir pantai terkena reklamasi, sehingga air tidak bisa meresap dan tidak dapat langsung menuju ke laut. Fakto-faktor di atas merupakan pemicu semakin rumitnya masalah rob. Masalah yang timbul kemudian setelah adanya rob yaitu penurunan atau subsidence. Laju penurunan muka tanah di kawasan Semarang Utara semakin cepat, meskipun kisaranya dalam cm. namun demikian masalah ini dapat mengancam semua orang yang tinggal atau memiliki bangunan di kawasan ini. Bangunan yang terdapat pada daerah ini harus dilakukan penambahan ketinggian agar ambles.
Dampak yang berupa rusaknya sebuah ekosistem juga dapat terjadi pada kawasan ini. Dimana sebuah ekosistem pantai yang sudah lama terbentuk dan tertata sebagaimana mestinya dapat hancur atau hilang akibat adanya reklamasi. Biota pantai yang biasa hidup pada lingkungan dengan kondisi sedemikian rupa tidak dapat tumbuh seperti jalur hidupnya. Peprindahan tempat dari habitatnya ke lingkungan yang baru memerlukan penyesuaian diri atau adaptasi makhluk nidup tehadap lingkungan. Jika pada lingkungan yang baru makhluk hidup tersebut tidak dapat menyesuaikan diri atau kondisinya terlalu ekstrim sebagai tempat hidup kemungkinan makhluk hidup tersebut akan mati.
Masalah yang berhubungan dengan biota laut atau pantai di atas juga dapat berimbas pada ekonomi nelayan. Matinya biota laut dapat membuat ikan yang dulunya mempunyai sumber pangan menjadi lebih sedikit sehiungga ikan tersebut akan melakukan migrasi ke daerah lain atau kea rah laut yang lebih dalam. Dari hal ini tampak bahwa para nelayan akan semakin sulit dalam mencari ikan. Mereka harus lebih ke tengah laut untuk mendapatkan ikan. Semakin susah mencari ikan maka kondisi ekonomi nelayan pun akan semakin susah.
Di bidang sosial dan budaya juga akan mengalami perubahan. Daerah yang tadinya berupa pantai dengan sedikit bangunan akan terubah menjadi kawasan perkantoran dan perumahan. Daerah yang terbuka atau ruang publik akan tertutup oleh banguna tersebut. Disisi lain masyarakat yang tinggal disekitar pantai akan tersingkir dengan adanya bangunan-bangunan mewah tersebut yang rencananya akan dibuat di atas tanah reklamasi.
Reklamasi yang artinya memperbaiki kondisi dari yang kurang baik menjadi lebih baik pada tanah tidak tampak pada Pantai Marina Semarang. Dampak yang reklatif lebih buruk malah justru yang timbul. Dilihat dari konpensasi yang diperoleh oleh Pemerintah Kota Semarang dari PT IPU selaku pengembang tampak bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan. Kompensasi yang diperoleh Pemkot adalah pembangunan sebuah jembatan dengan panjang 60 m dan tanah reklamasi seluas 5 hektar (Suara Merdeka.com), sedangkan kerugian yang timbul tidak hanya berimbas pada sati aspek saja tapi juga ke aspek-aspek lainya yang saling berkaitan. Jadi dapat dikatakan bahwa reklamasi yang dilakukan di Pantai Marina kurang tepat dilaksanakan. Misalnya akan dilanjutkan pembangunanya maka diperlukan studi yang melingkupi bebagai aspek, seperti ekonomi, sosial dan fisik, sehingga dampak negatif yang mungkin akan timbul dapat diminimalkan.
4.1 Kajian Geologi Dan Geomorfologi Pantai Marina
Secara geologi pantai marina merupakan pantai yang tersusun oleh sedimentasi laut dan sungai serta terdapat endapan aluvium delta yang berumur kuarter. Material aluvium delta yang berupa batulempung merupakan litologi yang belum terkompaksi secara utuh apalagi ditambah adanya intrusi air laut yang diakibatkan penggunaan air tanah secara berlebihan sehingga akuifer dangkal yang ada menjadi rusak dan terintrusi oleh air laut. Hal ini karena dipesisir pantai marina digunakan sebagai kawasan pariwisata dan perkantoran serta kawasan huni mewah yang sangat banyak membutuhkan air bersih sehingga banyak yang melakukan pengeburan sumur artesis yang mencari lapisan akuifer dalam sehingga terjadi proses kerusakan akuifer dan berdampak pada proses land subsidence didaerah pesisir utara dan secara morfogenesa kawasan pantai marina merupakan daerah pantai genetic yang endapannya tersusun oleh endapan material laut dan sedimentasi sungai. Namun penyalahgunaan fungsi sungai sebagai bahan pembuangan limbah menjadikan daerah kawasan pantai marina menjadi daerah yang kotor. Dari gelombang laut menurut data pasang surut pada bab sebelumnya menunjukan bahwa pantai marina merupakan daerah yang bergelombang menengah keatas sehingga perlunya dilakukan penerapan sistem hijau pantai yang diperlukan sebagai kawasan transisi dan menjaga kestabilan daerah darat dari proses abrasi air laut yang berlebihan.
Berdasarkan peta geologi lingkungan daerah pantai marina merupakan daerah pantai yang jelek akibat endapan litologi berupa napal dan lempung dan gejala amblesan dan pemakaian airtanah yang dieksploitasi yang berlebihan pada rusaknya stratigrafi daerah utara semarang yang berumur kuarter, serta adanya proses pembebanan pondasi bangunan yang tidak memperhatikan kestabilan dan daya dukung tanah ketika melakukan pembangunan dan pengubahan kawasan hutan bakau menjadi daerah terbuka membuat tingkat lingkungan pantai marina rusak berlebihan secara kuantitatif dan fisik sehingga perlu dilakukan pemulihan dan konservasi lingkungan. Hal lain perlu ditambahkan bahwa reklamasi pantai semarang seharusnya juga memperhatikan daerah aliran sungai dan tingkat kestabilan tanah serta kajian geologinya sehingga perlu penyelidikan tingkat lanjut untuk mengetahui sebaran dan tebal endapan litologi satuan batuan alluvium dan lempung. Hal ini diperlukan sebagai bahan referensi didalam pengelolaan wilayah tingkat lanjut
4.2 Langkah-langkah mengurangi abrasi
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi abrasi yang terjadi yaitu dengan melakukan penanaman mangroove disekitar pantai. Dengan adanya hutan mangroove diharapkan abrasi yang terjadi intensitasnya akan lebih kecil. Manfaat lainya yaitu biota laut juga dapat hidup dan tumbuh dengan baik sehingga ikan dapat berkembang biak. Kondisi yang demikian ini dapat menguntungkan nelayan sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh mencari ikan ke tengah laut.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan membangun dam lepas pantai serta sekat pantai. Fungsi dari bangunan tersebut untuk menahan gelombang serta memecah gelombang, sehingga gelombang laut yang datang dapat ditahan dan intensitasnya tidak terlalu besar ketika menyentuh pantai. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gelombang yang datang tersebut dapat menyentuh garis pantai. Meskipun demikian intensitasnya rendah sehingga tidak menyebabkan pengikisan atau abrasi yang parah.
Pembuatan jari-jari yang menjulur ka laut dengan bahan bambu juga dimungkinkan untuk mengurangi tingkat abrasi terhadap pantai. Jari-jari ini panjangnya dapat disesuaikan dengan kedalaman yang dapat dicapai oleh bambu. Lebar yang dibangun berkisar 1 m. Dengan pembuatan jari-jari tersebut diharapkan sedimen laut yang terbawa arus dapat terendapkan disekitar kanan dan kiri jari-jari.
Langkah yang cukup efektif adalah dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan oleh pemerintah kota. Isi dari undang-undang tersbut berupa tata aturan yang lebih detail dan lebih sempit tentang reklamasi, sehingga ketika ada pengembang atau kotraktor yang akan melakukan reklamasi tidak akan melakukan dengan sembarangan. Selain itu juga agar lokasi yang akan direklamasi tidak menyalahi aturan serta hanya area yang diperbolehkan saja untuk dilakukan reklamasi.

4.3 Metode Pengendalian Banjir
Terdapat 4 (empat) metoda untuk mengurangi potensi dampak fisik dan biaya pada bencana banjir, yaitu : (1). rekayasa keteknikan, (2). kebijakan tataguna lahan dan regulasi, (3). sistem peringatan dini, dan (4). asuransi. Dalam perencanaan tataguna lahan, metoda pertama dan kedua merupakan metoda yang menjadi perhatian utama. Metoda pendekatan rekayasa keteknikan telah diuraikan pada bab 7 sedangkan pendekatan aturan dan kebijakan dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam kebijakan tataguna lahan dan regulasi maka hal yang terpenting adalah adanya suatu aturan yang memastikan bahwa masyarakat yang bermukim di wilayah wilayah rawan bencana banjir tidak menjadi subyek dari bencana yang akan menimpa dan aktivitas masyarakat tidak terganggu apabila terjadi banjir.

Salah satu pendekatan di dalam pengendalian banjir adalah dengan cara melakukan perencanaan penanggulangan bencana banjir secara komprehensif, seperti misalnya perencanaan yang disesuaikan dengan zona-zona genangan air, dan diikuti dengan pembuatan aturan aturan yang berhubungan dengan persyaratan konstruksi bangunan yang diijinkan pada setiap zona. Agar dapat efektif maka dalam perencanaan umum harus ada peta dokumen tentang zona-zona genangan air serta frekuensi kejadian banjir. Informasi semacam ini sangat penting dan diperlukan dalam proses perencanaan tataguna lahan, terutama dalam penetapan peruntukan lahan.

Dalam pemanfaatan lahan dapat juga terjadi dan sangat dimungkinkan membangun bangunan di daerah dataran banjir (floodplain area) akan tetapi harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, seperti misalnya konstruksi bangunannya harus berada diatas genangan air atau konstruksi jembatan yang melintasi sungai harus ditingkatkan guna menghindari terpaan arus air ketika terjadi banjir, dan dapat juga bagian dari areal dataran banjir dibiarkan sebagai ruang terbuka atau digunakan sebagai taman atau sarana olah raga. Dalam persiapan perencanaan, pertimbangan harus diberikan untuk pemanfaatan lahan yang berada bagian hulu yang dapat membantu meminimalkan frekuensi terjadinya banjir. Pemanfaatan lahan dan penggunaan aspal dan beton pada lahan harus diminimalkan untuk membantu penyerapan air dan mengurangi runoff.
Aturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan dan persyaratan konstruksi di daerah rawan bencana banjir merupakan hal yang umum diterapkan dan merupakan suatu kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi masyarakatnya terhadap bencana banjir. Peraturan yang berhubungan dengan larangan membangun pada areal yang mudah tergenang air (flood plain area), dan aturan yang berkaitan dengan jenis penggunaan lahan yang diijinkan serta konstruksi bangunan yang diperbolehkan merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, baik oleh pemerintah (pemberian IMB), swasta, maupun masyarakat secara konsisten. Peta Zona Genangan Air sangat berguna baik bagi Pemerintah Daerah dan Kontraktor karena peta ini merupakan rujukan dasar dalam membuat aturan aturan yang berkaitan dengan jenis dan tipe bangunan yang harus dipenuhi dalam membangun infrastruktur serta struktur dan fondasi bangunan.

Perusahaan asuransi dapat memanfaatkan peta zona genangan air sebagai dasar dalam penilaian bangunan yang akan diasuransikan, khususnya untuk asuransi bencana banjir. Pemerintah bertanggungjawab atas pembuatan aturan aturan yang berkaitan dengan persyaratan bangunan, seperti konstruksi dan tipe bangunan yang akan dibangun di wilayah banjir, baik untuk banjir yang sifatnya tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dan seterusnya serta aturan-aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan. Para kontraktor wajib memenuhi aturan-aturan yang telah dibuat dan ditetapkan terhadap persyaratan konstruksi bangunan. Sedangkan bagi Perusahaan Asuransi peta zona genangan banjir diperlukan guna kepentingan dalam penilaian dan besarnya tanggungan suatu bangunan yang akan diasuransikan, khususnya asuransi kerugian bencana alam (banjir).

Satu Balasan ke Reklamasi Pantai Marina

  1. licious mengatakan:

    No Worries!..

    Khawatir dan khawatir memang sering kita hadapi dari hari ke hari
    entah itu persoalan hutang, masa depan, pasangan hidup, dan banyak lagi..

    Saya yakin anda pun mengalaminya. .. tapi kita tahu kekhawatiran tidak
    akan membuat perubahan.. dan pasti anda tahu apa yang bisa membuat perubahan ? ..

    Kita Melakukan Sesuatu / Action. Ke dua kita menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
    Kita adalah MANUSIA Biasa yang punya keterbatasan ide, dan lainnya. Tapi bukan
    berarti anda langsung MEMBATASI DIRI.. bahwa anda gak mampu..

    No, Anda tetap harus berusaha SEMAKSIMAL MUNGKIN, Dan HASILNYA Serahkan kepada Tuhan..
    Jadi kalo boleh dibilang mau hasilnya berhasil atau gagal itu bukan urusan, yang penting
    LAKUIN Dulu!…

    Nah, banyak orang khawatir tapi tidak melakukan apa-apa.. mereka terus mengeluh dan mengeluh
    nasib mereka, finansial mereka, kesehatan mereka, pasangan mereka dan masa depan mereka…

    Mereka MENDERITA dan terus menderita tapi kerjaan mereka hanya mengeluh dan nonton tivi setiap
    hari.. Apakah akan ada perubahan ? .. No, Hidup mereka akan sama!…

    Jadi ketika anda mengalami KEKHAWATIRAN dalam hidup anda.. GEBRAK dengan PERBUATAN yang
    DISERTAI IMAN Anda. Anda mampu membuat PERUBAHAN!.. Ingat anda butuh TINDAKAN untuk merubah
    segalanya!… nanti Tuhan yang akan membantu anda MENGGERAKKAN Anda!.. Anda tidak perlu tahu
    CARA TUHAN dan RENCANA Tuhan seperti apa, yang penting anda percaya maka anda pasti akan temukan
    jalannya!…

    Oke, Semoga kekhawatiran mu Hari ini bisa teratasi dengan kamu melakukan PERBUATAN dari Sekarang!

    —————
    Saya AWALNYA Gak Percaya terhadap BISNIS-BISNIS ONLINE.. tapi setelah saya mencoba
    UANGSPOT, Perubahan POLA Cara MENGHASILKAN UANG Di Internet jadi BERUBAH 180 DERAJAT!..
    Mau Tahu Caranya ? … CEPET-CEPET Segera coba sebelum ketinggalan disini : http://uangspot.com/?id=licious
    ———-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: