Gempa Bali; Waspada Perlu, “Tapi Tak Perlu Panik”

Posisi Gempa Di Bali

Posisi Gempa Di Bali

Tanggal 13 Oktober 2011 Indonesia kembali diguncang dengan gempa, dan posisi gempa kali ini berada didaerah selatan bali dengan pusat gempa berada 150 Km selatan pulau Bali dengan SR 6,8 SR. Sekali lagi kita di Ingatkan untuk terus berhati-hati bahwa sampai saat ini BELUM ADA teknologi canggih untuk tahu kapan gempa itu terjadi. Secara bahasan sederhananya Gempa terjadi dalam dua hal yaitu Gempa akibat pergerakan lempeng atau lebih dikenal Gempa Tektonik atau Gempa yang diakibatkan Oleh Proses Vulkanik.

Gempa akan sangat bergantung dengan sumber atau sebab terjadinya semakin berada didekat permukaan maka getarannya pun akan terasa, dan semakin jauh dari permukaan getarannya pun bisa sangat berkurang.

Teori Pergerakan Lempeng

Tektonik Indonesia

Menurut teori kerak bumi (litosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relative dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut. Ada dua jenis kerak bumi yaitu kerak samudera yang tersusun oleh batuan yang bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai pada samudera yang sangat dalam, dan kerak benua yang tersusun dari batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera.
Kerak bumi yang menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenosfer menyebabkan kerak bumi ini pecah menjadi bebrapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerak bumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konveksi tersebut merupakan kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.Pergerakan lempeng kerak bumi ada tiga macam, yaitu pergerakan yang saling mendekat, saling menjauh, dan saling berpapasan.

Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menujam ke bawah. Daerah penujaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasa merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang alur penujaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatic dan gunung api serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara kedua lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menghasilkan jalur penujaman di selatan pulau Jawa dan jalur gunung api Sumatera, Jawa dan Nusa tenggara, dan berbagai cekungan seperti Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan cekungan Jawa Utara. Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerak bumi dan akibatnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur magmatic atau gunung api. Contoh pembentukan gunung api di pematang tengah samudera di laut Pasifik dan benua Afrika.

Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya sesar opak (penyebab sering terjadinya gempa di daerah Jogja).Pergerakan lempeng kerak bumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona subduksi dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun vertical, yang akan membentuk pegunungan lipatan, jalur gunung api/magmatic, persesaran batuan dan jalur gempa bumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga berbagai jenis cekungan pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan busur muka, cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang. Pergerakan tersebut terus berlang sampai saat ini dan kewaspadaan tetap harus dilakukan tapi tak harus panik.

Daftar Kegempaan Di Indonesia

Menurut http://www.wikipedia.org tercatat sejumlah gempa dengan kekuatan diatas 5 SR pernah terjadi di Indonesia, berikut daftar kegempaan tersebut

Tanggal

Kekuatan

Episentrum

Area

Tewas

Keterangan

25 November 1833 8.8-9.2 Mw 2.5°LU 100.5°BT Sumatera   Gempa disebabkan pecahnya segmen Palung Sumatera sepanjang 1000 km di tenggara area yang mengalami hal yang sama pada gempa 26 Desember 2004. Gempa kemudian memicu terjadinya tsunami yang menerjang pesisir barat Sumatera dengan wilayah terdekat dari pusat gempa adalah Pariaman hingga Bengkulu. Tsunami juga menyebabkan kerusakan parah di Maladewa dan Sri Langka. Selain itu, tsunami juga mencapai Australia bagian utara, Teluk Benggala, dan Thailand meskipun dalam intensitas kecil. Bencana ini tidak terdokumentasi dengan baik sehingga tidak diketahui dengan pasti dampak dan korbannya.[1]
20 September 1899 7.8   Kota Ambon 3.280  
2 Februari 1938 8.5 5.05°LU 131.62°BT Pulau Banda danPulau Kai    Informasi lanjutan: Gempa bumi Laut Banda 1938

Memicu Tsunami yang menerjang Pulau Banda dan Pulau Kai[2]

14 Agustus 1968 7.8   Sulawesi Utara 392  
26 Juni 1976 7.1   Papua 9.000  
19 Agustus 1977 8.0   Kepulauan Sunda 2.200  
12 Desember 1992 7.5   Pulau Flores 2.100  Informasi lanjutan: Gempa bumi Flores 1992
2 Juni 1994 7.2   Banyuwangi 200  
4 Mei 2000 6.5   Kepulauan Banggai 54  
4 Juni 2000 7.3   Bengkulu >100  
12 November 2004 7.3   Alor 26  
26 Desember 2004 9.3 Samudra Hindia Nanggroe Aceh Darussalamdan sebagianSumatera Utara 131.028 tewas dan sekitar 37.000 orang hilang  Informasi lanjutan: Gempa bumi Samudera Hindia 2004

[1]

28 Maret 2005 8.2 2.04°LU 97°BT
Samudra Hindia
Pulau Nias    Informasi lanjutan: Gempa bumi Sumatera 2005
27 Mei 2006 5.9 7.977°LS 110.318°BT
BantulYogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakartadan Klaten 6.234  Informasi lanjutan: Gempa bumi Yogyakarta 2006
17 Juli 2006 7.7 9.334°LS 107.263°BT
Samudra Hindia
Ciamis danCilacap >400  Informasi lanjutan: Gempa bumi Jawa 2006
11 Agustus 2006 6.0 2.374°LU 96.321°BT Pulau Simeulue    
6 Maret 2007 6.4 Mw, 6.3 Mw 0.49°LS 100.529°BT SolokKota Solok,Tanah Datar, danKota Bukittinggi >60  Informasi lanjutan: Gempa bumi Sumatera Barat 2007
12 September 2007 7.7 4.517°LS 101.382°BT Kepulauan Mentawai 10  Informasi lanjutan: Gempa bumi Bengkulu 2007
26 November 2007 6.7 8.294°LS 118.36°BT Sumbawa >3  
17 November 2008 7.7   Sulawesi Tengah 4  
4 Januari 2009 7.2   Manokwari 2  
2 September 2009 7.3 8.24°LS 107.32°BT Tasikmalayadan Cianjur >87  Informasi lanjutan: Gempa bumi Jawa Barat 2009
30 September 2009 7.6 Mw 0.725°LS 99.856°BT Padang Pariaman,Kota Pariaman,Kota Padang, danAgam 1.115[3]  Informasi lanjutan: Gempa bumi Sumatera Barat 2009

135.299 rumah rusak berat, 65.306 rumah rusak sedang, & 78.591 rumah rusak ringan[3]

1 Oktober 2009 6.6 Mw 2.44°LS 101.59°BT Kerinci 2  
9 November 2009 6.7 8.24°LS 118.65°BT Pulau Sumbawa 1 80 orang luka & 282 rumah rusak berat.[4]
25 Oktober 2010 7.7 3.61°LS 99.93°BT Sumatera Barat 408 orang tewas[5]  

Saat ini setiap daerah perlu dilakukan pemitigasian bencana kegempaan dengan mengupdate semua peta bencana dan mempersiapkan mitigasi lanjutan dari pembuatan peta kebencanaan tersebut. Kita hidup di wilayah dengan resiko gempayang setiap saat bisa saja terjadi tetapi dengan pemitigasian yang tepat, pengenalan gempa, dan memasyarakatkan pengetahuan kebumian, meminimalisir korban dalam setiap bencana tentunya akan semakin berkurang, “Jadi kenapa harus panik, kalo kita sudah siap dengan resiko dan mitigasi yang ada”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: