Jakarta, Ditengah Kekumuhan Raksasa dan Banjir

21 Oktober 2011

     gak kerasa sudah hampir menuju 5 Bulan hidup di Jakarta, dan mencoba meraih mimpi disini sama dengan mimpi orang orang yang berlalu lalang di pagi hari. Musim kemarau belum berakhir disini meski dibeberapa penjuru dibagian bumi ini sudah mengalir air penuh berkah. Ditengah panasnya matahari dan tebalnya kabut asap kendaraan bermotor, yang berlalu lalang dan menyebabkan banyaknya karbon yang terhisap[ yang berujung kematian pada beberapa manusia yang mengidap penyakit ISPA. Gedung gedung bagaikan “raksasa” yang menjulang tinggi ditengah pusat Jakarta semakin menambah warna betapa kumuhnya kota ini. lalu bagaimana Jakarta di kehidupan dari masa ke masa

Jakarta Sepi
Jakarta Sepi (sumber: kaskus)

Foto diatas adalah jalanan jakarta yang sepi tanpa hiruk pikuk Kemacetan tapi kira kira kapan ya bisa seperti itu dalam jangka waktu yang lama.

Tugu Tani Menteng

Kalau ini daerah tugu tani menteng ketika lampau dan saat ini berubah menjadi kawasan kantor dan permukiman

Tugu Tani Menteng Masa Kini
Tugu Tani Menteng Masa Kini

nah kalau foto diatas adalah kehidupan tugu tani Jakarta di masa kini, kemajuan semakin pesat dan semakin banyak pula problem yang tumbuh. Nah sekarang kita mencoba cerpenin Geologi jakarta,

Peta Geologi Jakarta

Peta Geologi Jakarta (Sumber :Badan Geologi)

Gambar diatas adalah gambaran komposisi pembentukan jakarta yang terbentuk pada masa kuarter dimana terdiri dari endapan vulkanik, aluvium, dan delta. Daerah jakarta semestinya merupakan daerah hilir untuk sungai citarum dan ciliwung terutama dikisarannya karena Jakarta merupakan daerah limpasan dari Kota Bogor

Penampang Geologi Jakarta

Penampang Geologi Jakarta

dan inilah penampang geologi wilayah Jakarta dimana jakarta merupakan daerah hilir atau akhir dari pengendapan darat (sungai dsb) dari daerah tinggian, nah karena pemanfaatannya menjadi kota pelabuhan semestinya daerah ini juga harus menyiapkan daerah limpasan air dari kota kota di sekitarnya.

Banjir Jakarta dan Sejarahnya 

Menurut Pusat Geoteknologi LIPI, Banjir di Jakarta memang sudah sejak dulu. Sejak jaman Bang Pitung dan Bang Jampang hingga jamanya Bung Fauzi Bowo. Tercatat yang terbesar adalah yang terjadi pada tahun 1621, 1654, 1725 dan yang paling besar adalah yang terjadi pada tahun 1918, yang merupakan akibat dari pembabatan hutan untuk perkebunan teh di Puncak. Waktu itu, banyak korban manusia dan harta benda yang lain. Banjir itulah yang membuat Pemerintah Belanda pada saat itu membuat perencanaan untuk mencegah banjir di Batavia. Rencana pencegahan itu kemudian terkenal dengan apa yang disebut sebagai “Strategi Herman van Breen” (1920 -1926), disebut demikian karena meneer van Breen adalah ketua tim pencegahan banjir di Batavia pada saat itu. Baca entri selengkapnya »