Jakarta, Ditengah Kekumuhan Raksasa dan Banjir

     gak kerasa sudah hampir menuju 5 Bulan hidup di Jakarta, dan mencoba meraih mimpi disini sama dengan mimpi orang orang yang berlalu lalang di pagi hari. Musim kemarau belum berakhir disini meski dibeberapa penjuru dibagian bumi ini sudah mengalir air penuh berkah. Ditengah panasnya matahari dan tebalnya kabut asap kendaraan bermotor, yang berlalu lalang dan menyebabkan banyaknya karbon yang terhisap[ yang berujung kematian pada beberapa manusia yang mengidap penyakit ISPA. Gedung gedung bagaikan “raksasa” yang menjulang tinggi ditengah pusat Jakarta semakin menambah warna betapa kumuhnya kota ini. lalu bagaimana Jakarta di kehidupan dari masa ke masa

Jakarta Sepi
Jakarta Sepi (sumber: kaskus)

Foto diatas adalah jalanan jakarta yang sepi tanpa hiruk pikuk Kemacetan tapi kira kira kapan ya bisa seperti itu dalam jangka waktu yang lama.

Tugu Tani Menteng

Kalau ini daerah tugu tani menteng ketika lampau dan saat ini berubah menjadi kawasan kantor dan permukiman

Tugu Tani Menteng Masa Kini
Tugu Tani Menteng Masa Kini

nah kalau foto diatas adalah kehidupan tugu tani Jakarta di masa kini, kemajuan semakin pesat dan semakin banyak pula problem yang tumbuh. Nah sekarang kita mencoba cerpenin Geologi jakarta,

Peta Geologi Jakarta

Peta Geologi Jakarta (Sumber :Badan Geologi)

Gambar diatas adalah gambaran komposisi pembentukan jakarta yang terbentuk pada masa kuarter dimana terdiri dari endapan vulkanik, aluvium, dan delta. Daerah jakarta semestinya merupakan daerah hilir untuk sungai citarum dan ciliwung terutama dikisarannya karena Jakarta merupakan daerah limpasan dari Kota Bogor

Penampang Geologi Jakarta

Penampang Geologi Jakarta

dan inilah penampang geologi wilayah Jakarta dimana jakarta merupakan daerah hilir atau akhir dari pengendapan darat (sungai dsb) dari daerah tinggian, nah karena pemanfaatannya menjadi kota pelabuhan semestinya daerah ini juga harus menyiapkan daerah limpasan air dari kota kota di sekitarnya.

Banjir Jakarta dan Sejarahnya 

Menurut Pusat Geoteknologi LIPI, Banjir di Jakarta memang sudah sejak dulu. Sejak jaman Bang Pitung dan Bang Jampang hingga jamanya Bung Fauzi Bowo. Tercatat yang terbesar adalah yang terjadi pada tahun 1621, 1654, 1725 dan yang paling besar adalah yang terjadi pada tahun 1918, yang merupakan akibat dari pembabatan hutan untuk perkebunan teh di Puncak. Waktu itu, banyak korban manusia dan harta benda yang lain. Banjir itulah yang membuat Pemerintah Belanda pada saat itu membuat perencanaan untuk mencegah banjir di Batavia. Rencana pencegahan itu kemudian terkenal dengan apa yang disebut sebagai “Strategi Herman van Breen” (1920 -1926), disebut demikian karena meneer van Breen adalah ketua tim pencegahan banjir di Batavia pada saat itu.

Dari analisis kondisi geologi Cekungan Jakarta yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI, Bandung, kondisi geologi di selatan Jakarta ikut berperan sebagai penyebab banjir. Seperti kita ketahui bahwa Formasi Bojongmanik yang masif menyebar dgn arah hampir barat-timur (Serpong sampai Cibinong) dan bertindak seperti underground dam bagi air tanah yang mengalir dari daerah tinggian di Selatan Jakarta. Secara sederhana dapat kita artikan bahwa airtanah umumnya akan keluar ke permukaan disepanjang penyebaran formasi ini dan menambah pasokan air permukaan yang mengalir ke hilir, ke Jakarta dan sekitarnya. Dalam kondisi jenuh air, hampir semua air hujan yang turun dibagian hulu akan menjadi air permukaan yang lari kemana-mana karena kapasitas sungai dan drainase yang ada sudah tak mencukupi. Banjir, lah. Istilahnya sekarang, air menggenang dimana-mana.

Jadi intinya perlu dilakukan tata ulang wilayah didaerah Jakarta yaitu pada bagian hulunya dengan melakukan perluasan pada daerah resap air agar air permukaan yang diakibatkan oleh hujan dapat mengalir berpola tidak menyebar kemudian menggenang.  kata pak Rovicky (Ketua IAGI 2011-2014) berpesan seperti ini;

Jangan lekas putus asa dan membuat pernyataan : Siapapun Gubernur Jakarta atau siapapun Presiden Indonesia, tidak ada yang bisa mencegah banjir Jakarta. Kalau ada keinginan yang teguh dan kuat mestinya bisa. Memaksimalkan fungsi kedua banjir kanal, memperdalam dalam dasar 13 sungai yang mengalir melintasi Jakarta, dan perbaikan drainase di tepi jalan-jalan raya, tentulah akan mengurangi banjir sesaat yang sering terjadi di Jakarta akhir-akhir ini dan menyebabkan macet yang tak jelas ujung pangkalnya. Jadi, strategi Breen sebenarnya masih valid, ditambah dengan memperhitungkan kondisi geologi dalam analisis penentuan lokasi kolektor air di hulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: