Mengenal Pengertian PSC (Production Sharing Contract)

Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

PSC, atau Production Sharing Contract, adalah mekanisme kerjasama pengelolaan migas antara Pemerintah dan kontraktor. Sistem ini diperkenalkan oleh Ibnu Sutowo pertama kali pada tahun 1960, namun baru benar-benar diterapkan pada tahun 1964. Konon, model PSC ini telah ditiru lebih dari 72 negara di dunia, yang tersebar di benua Afrika Utara, Asia, Timur Tangah, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Dan Sejarah berkembangnya PSC ini kita bagi kedalam beberapa generasi, Sumber ini saya dapatkan dari mailing list IAGI yang ditulis oleh Pak Sunjaya (BP Migas)  dimana generasi generasi tersebut sebagai berikut;

Generasi pertama (1960 – 1976):

  • Produksi minyakd an gas bumi setiap tahun dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
    • 40% pertama disebut sebagai cost oil yang dialokasikan untuk pengembalian biaya eksplorasi dan eksploitasi. (Ceiling Cost Recovery)
    • 60% sisanya disebut sebagai profit oil atau equity oil yang dibagi:
      •  65% untuk PERMINA dan 35% untuk Kontraktor untuk produksi 75 ribu BOPD
      • 67.5% % Pertamina, 32 % % Kontraktor untuk produksi antara 75.000 sid 200.000 per hari:
      • 70 % Pertamina, 30 % Kontraktor untuk produksi di atas 200.000 barrel per hari.
  • Jangka Waktu eksplorasi selama 6 Tahun, dan dapat diperpanjang 2 kali (masing-masing 2 tahun)
  • Pajak Sebesar 56% dan tidak dibedakan antara pajak coorporate dan dividen.
  • Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor.
  • DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.

Generasi kedua (1976 – 1988):

Dalam usahanya pemerintah meningkatkan keuntungan, pemerintah berusaha untuk mengganti model yang sebelumnya memberikan dua level bagi hasil dihapuskan dan menjadi satu bagi hasil sebesar 85:15 (70:30 untuk gas) bagi Pertamina. Perkecualian untuk Rokan PSC di mana bagi hasilnya 88:12 untuk Pertamina.

·             Penerimaan Negara dibagi dalam dua kelompok yaitu:

–       Penerimaan Negara berupa Pajak Perseroan dan Dividen termaksud dalam peraturan perpajakan yang berlaku pada saat penandatanganan perjanjian

–       Penerimaan Negara diluar pajak-pajak tersebut dalam butir 1 di atas, termasuk bagian produksi yang diserahkan kepada Negara sebagai pemilik kuasa atas sumber daya minyak dan gas bumi, kewajiban kontraktor menyerahkan sebagian dari produksi yang diterimanya untuk kebutuhan dalam negeri, bea masuk, iura pembanguna daerah (PBB), bonus, dan lain-lain.

–       Pajak sebesar 56% yang terdiri dari 45% pajak Coorporate dan 11% pajak Dividen.

·             Limit cost recovery yang sebelumnya 40% dihapuskan, sehingga Kontraktor dapat mendapatkan kembali   maksimum 100% dari revenue untuk penggantian biaya dan didasarkan pada Generally Accepted Acounting principle (GAAP).

·             Selisih antara Pendapatan Kotor per tahun dengan Cost Recovery, Kemudian dibagi antara Pertamina dan Kontraktor masing masing sebesar 65.91% : 34.09% (minyak) 31.82% : 68.18% (gas). Bagian Kontraktor akan dikenakan pajak total sebesar 56% (terdiri dari 45% pajak pendapatan dan 20% pajak dividen), dengan demikian pembagian bersih setelah pajak adalah : 85% : 15% (minyak) dan 70% : 30% (gas).

·             pajak turun dari 56% menjadi 48%,  maka untuk mempertahankan pembagian (share) diatas, pembagian produksi sebelum kena pajak diubah menjadi : 71.15% : 28.85% (minyak) dan 42.31% : 57.69% (gas).

·             Untuk lapangan baru, Kontraktor diberikan kredit investasi sebesar 20% dari pengeluaran kapital untuk fasilitas produksi. dan diberikan DMO Holiday selama 5 tahun.

·             DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.

·             Jangka Waktu Eksplorasi selama 6 Tahun, dan tidak dapat diperpanjang (dalam beberapa kontrak dapat diperpanjang satu kali selama 2 tahun).

·             Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor

Generasi ketiga (1988 – 1993):

Pada tahun 1988 dan 1989, fiscal term yang telah direvisi tersebut diperkenalkan sebagai model PSC baru. Perubahan penting dalam model PSC tersebut adalah diberlakukannya FTP, kenaikan besaran DMO fee, dan perbaikan terms untuk proyek-proyek marginal, frontier, deepwater dan reservoir pre-tersier . Pada tahun 1988 Pertamina memperkenalkan  beberapa terms and condition yang berbeda untuk kontrak area baru dan perpanjangan. Kontrak area baru dibagi menjadi 2 kategori yaitu konvensional dan frontier. Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 25% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor

 Generasi keempat (1994 – 2001):  titik acuan PP Nomor 35 Tahun 1994

    • Dana ASR
    • Besaran pajak berubah dari 48% menjadi 44% yang terdiri dari 30% dan pajak dividen sebesar 14%.
    • Standar investment credit untuk keperluan cost recovery turun dari 17% menjadi 15.78%.
    • Skema bagi hasil sebelum pajak juga berubah menjadi 73.22%:26.78%.
    • DMO sebesar 25% dari milik kontraktor (15% dari harga export setelah 5 tahun pertama produksi)
    • Jangka Waktu Esplorasi selama 6 tahun dan hanya dapat diperpanjang 1 kali selama 4 tahun
    • Komersialitas tidak diberi batasan minimum pendapatan pemerintah.
    • Sebelum melakukan kegiatannya Kontraktor diwajibakan melakukan environmental base line study.
Perubahan ke satu
Pada tahun 1997, Pertamina merubah beberapa pokok terms & condition dalam rangka meningkatkan kegiatan eksplorasi. Pokok-pokok tersebut adalah:
      • Sebelum generasi keempat komitmen dalam bab IV PSC berupa komitmen finansial maka dalam PSC generasi ini komitmen berubah menjadi komitmen Finansial dan Kegiatan. Namun pelaksanaannya masih dihitung secara finansial.
      • Sebelum generasi keempat komitmen dalam bab IV PSC berupa komitmen finansial tanpa ada pembagian jenis komitmen maka dalam PSC generasi ini berubah menjadi untuk 3(tiga) tahun atau 2 (dua) tahun pertama disebut sebagai komitmen pasti. Apabila gagal memenuhi komitmen pasti dan kontraktor mengembalikan wilayah kerja tersebut maka  kontraktor wajib membayar kekurangan pelaksanaan komitmen pasti tersebut.
Perubahan kedua
Pada tahun 1998, besaran harga DMO berubah dari 15% menjadi 25% harga ekspor
Perubahan ketiga
Pada tahun 1999, mulai diperkenalkan istilah performance deficiency notice.
Generasi kelima: 2001-2007: perubahan dari finansial komitmen menjadi work program Komitmen
Generasi Keenam: 2008-skrg: POD Basis, dana ASR dalam escrow account, LCCA, Subsequent Petroleum Discovery, persyaratan perpanjangan jangka waktu eksplorasi dipertegas, penurunan pajak penghasilan mengikuti UU No.36 Tahun 2008 perubahan pertama-2009: untuk WK GMB diperkenalkan Handling production before POD.


Peta Daerah Kontrak Migas Indonesia 2009 (www.etti.co.id)

Peta Daerah Kontrak Migas Indonesia 2009 (www.etti.co.id)

Satu Balasan ke Mengenal Pengertian PSC (Production Sharing Contract)

  1. Rafael Amaral mengatakan:

    Mas bisa jelasin apa si investemen kredit dan bagaimana prespektive mas jika kita memberikan investement kredit ke sih perusahan migas sebesar 127%??????????????//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: