Melihat dari dekat Si “Megalithikum” Gunung Padang

Seminggu yang lalu baru saja saya berkunjung ke Area tersebut bersama dengan pengurus dan anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia). Gunung Padang terletak didaerah Cianjur, Jawa Barat. Sekitar kurang lebih 3-4 Jam perjalan untuk sampai ke situs purbakala ini dengan melewati morfologi perbukitan-pegunungan khas daerah puncak, bogor, dan Cianjur.

Intepretasi Hasil Geolistrik G. Padang

Melakukan Intepretasi Hasil Geolistrik G. Padang

Personil yang berangkat ada sekitar 20 )rang yang antara lain terdapat Pak Rovicky (Blogger Dongeng Geologi), Prof. Otto Ongkosongo (Peneliti LIPI), Pak Shofiyudin (HESS Indonesia), Aris Setiawan (EMP), Gayuh P (Bumi Resources M), dan beberapa peserta lainnya.

Gunung Padang merupakan situs terbesar Megalithikum di soa Tenggara, untuk mencapai ke teras 5  atau teras puncak dibutuhkan sekitar 385 anak tangga Mungkin dahulu bisa lebih) dimana hampir kuraang lebih 30-60 derajat sudut anak tangga itu dibentuk sedangkan tangga baru yang telah dibuat dan relatif landai ada sekitar 800 anak tangga. Cukup Jauh di tempuh.
Sebelum menaiki anak tangga maka akan terlihat pada bagian kiri sebuah mata air yang katanya air ini terus ada meskipun pada musim kemarau sekalipun.

Penampungan Mata Air Pada Daerah Gunung Padang

Penampungan Mata Air Pada Daerah Gunung Padang

Menaiki anak tangga ini memang membutuhkan tenga extra,  dimana di bagian kiri kanan, semak beluklar dan tumbuhan liar semakin membuat proses lapukan biologi tanah dan batuan sebagai bahan utama pembangunan Situs ini mulai melapuk.

Penumpukan batuan pada lereng

Penumpukan batuan pada lereng

Pada bagian teras pertama atau setiap terasnya, terlihat tumpukan batuan yang berfungsi untuk lereng tetap terjaga dan tidak longsor. Bagian ini menjadikan bukti bahwa pada masa lampau, bahwa tekhnologi bangunan sudah cukup tinggi dan membuktikan tentang majunya peradaban tersebut. Sebagai informasi saja batuan pada lereng ini mempunyai berat sekitar 100-230 Kg yang berarti butuh sekitar 6-8 orang untuk memaksimal pekerjaan itu didalam mengangkat batuan tersebut dan terdapat sekitar 3000 batuan yang berukuran sama bahkan lebih besar.
Pada ekskursi tersebut Prof. Otto Ongkosongo sempat bilang bahwa batuan ini merupakan columnar Joint. Ya struktur geologi yang terbentuk karena proses ekstrusi batuan yang terbentuk sangat cepat akibat proses pendinginanyang ekstrem.

Bentukan Columnar Joint di daerah Ankara

Bentukan Columnar Joint di daerah Ankara

Tetapi herannya batuan ini tidak terbentuk skematik baik bentuk batuan maupun pola penyusunannya, mungkin karena sudah ada ikut campur tangan manusia. Batuan ini merupakan batuan Andesit Afanitik dengan unsur penyusun batuan yang merupakan mineral mafic dan felsic. Keterdapatan mineral biotit, plagioklas, serta matriks afanitik dengan tekstur yang halus-moderate membuat beberapa orang meyakini batuan ini merupakan batuan beku proses vulkanisme lava.

Berbeda pula dengan Dr. Andang Bachtiar yang sebelumnya pernah melakukan pemboran disini mengatakan hasil pengeboran jelas memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang merupakan bangunan hasil buatan manusia, dengan teknologi yang terbilang maju. “Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas adalah bangunan, bukan sesuatu yang natural.

Benarkah ada sesuatu yang besar tersimpan didalam Megalithikum ini, tetapi apakah pantas perdaban ini adalah peradaban megalithikum dimana mereka mampu membuat musik dari bongkahan batu yang tersusun dan menyusun nada nada. Ya pada teras ke 4 maka akan ditemukan batu nada atau batu musik dimana bila di mainkan batuan ini mengeluarkan bunyi.

Peserta Ekskursi mengetuk batu bunyi

Peserta Ekskursi mengetuk batu bunyi

 Berarti jauh sebelum sejarah tulisan ditemukan, dan sejarah alat musik yang kita ketahui, di zaman ini sudah ditemukan alat musik sederhana. Secara hematnya maka sudah tentu peradaban ini merupakan salah satu nilai penting budaya bangsa kita yang telah m,aju baik budaya dan ilmu pengetahuannya. Sisitem ketuhanan dan kasta pun terlihat dari bangunan yang terdiri dari 5 teras ini dimana tiap tiap teras tersebut mempunyai unsur dan arti tertentu. Sebagai catatan Situs ini pertama di publish oleh N.J Krom tahun 1914 seorang ahli kepurbakaaan Hindu Nusantara di dalam laporan tahunan dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda. Namun saat itu p[enelitian terhadap gunung ini tidak terlalu mendalam.

Disekitar bangunan ini, proses pelapukan dan erosi sangat tinggi bahkan di beberapa tempat terjadi proses longsoran akibat curamnya lereng dn kondii tanah yang labil yang diakibatkan oleh fungsi lahan yang tak tepat.

Longsoran Sebelum masuk ke ara Situs G. Padang

Longsoran Sebelum masuk ke ara Situs G. Padang

Pada kesimpulan akhirnya bisa dikatakan bahwa batuan ini punya campur tangan manusia yang luar biasa didalam membangun situs peradaban ini dan menjadikan situs ini mempunyai nilai penting dalam sejarah nusantara. Apakah benar bahwa Atlantis itu adalah negeri ini? Negeri Hijau yang kaya akan keaneka ragaman hayati sebagi modal utama kehidupan…..

 Sebagai tambahannya sebelum memasuki situs ini kita akan melewati stasiun Lambegan yang mempunyai terowongan kereta api sepanjang 700 meter yang di bangun pada masa Hindia Belanda dan bangunannya masih tetap kokoh sampai sekarang.

Terowongan Lambegan

Terowongan Lambegan

“BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TAK LUPA SEJARAHNYA”

10 Balasan ke Melihat dari dekat Si “Megalithikum” Gunung Padang

  1. earth-inside mengatakan:

    berarti columnar joint di situs g.padang itu berbeda dengan foto yang dilampirkan diatas ya, terus seperti apa mas…

  2. syawal mengatakan:

    olumnar Joint adalah proses geologi yang terbnetuk akibat proses pembekuan batuan yang epat di permukaan sehingga membentuk batuan berukuran hexagonal (umumnya) dan mempunyai struktur vesikuler hal ini terkait batuan tersebut sebagai batuan ekstrusif sedangkan di Gunung Padang struktur vesikuler tidak terdapat pada batuan tersebut dan kemungkinan adalah batuan tersebut di buat manusia

  3. hasan mengatakan:

    tapi mas, menurut penelitian sebelumnya dan yang diungkapkan oleh guru sejarah saya ketika di sma mengatakan bahwa gunung padang ini dulunya merupakan gunung api purba yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Kemudian yang menyebabkan di sana dulunya menjadi pusat peradaban pada masa itu karena tempat tersebut merupakan tempat strategis yang dilalui oleh dua buah sungai yang mulai mengering dan menjadikan tempat berkumpulnya orang2 dari beberapa daerah pada zaman megalitikum tersebut. agar tempat tersebut dapat digunakan berulang kali maka diaturlah tempat tersebut sebagaimana tempat perkumpulan orang2 pada masa tersebut dengan menggunakan batuan yang ada di sana. Lagipula ketika saya amati ketika di sana batuan yang terdapat di tempat tersebut terlihat seperti batuan beku dengan strukturnya yang ada di sana. Kemungkinan yang terjadi kalau menurut saya di sana memang benar terjadi apa yang telah saya dapatkan informasinya yang telah disebutkan di atas.
    maaf mas kalo argumenku masih salah, ilmuku baru sedikit🙂
    mohon koreksinya ..

    • syawal mengatakan:

      Terima kasih sebelumnya hasan, Saya juga tak mau menggurui dan mencoba menyalahkan selama intepretasi itu benar maka tidak bisa disalahkan, Bisa saja itu gunung api tetapi bisa saja bukan, lihatlah batuan yang disusun di borobudur ataupun piramida giza semuanya punya andil dari manusia juga tinggal bagaimana kita melihat caranya saja, out of box berpikir tanpa dipengaruhi oleh teori teori tertentu akan membuka cakrawala ilmu yang baru….

      • hasan mengatakan:

        ohh,.. jadi begitu ya mas. hehe🙂 ternyata mind set saya masih belum berpikir secara out of box nih, ditambah saya ga pakai pembanding yang lain buat bikin argumen ini. makasih ya mas masukannya, InsyaAllah saya akan lebih jeli lagi untuk menginterpretasi..

  4. Rovicky mengatakan:

    pinjem fotonya untuk berita IAGI yaaa.
    Thanks

  5. harto mengatakan:

    Jadi bingung kalo para pakar berargument, jang pasti batu itu buatan Allah melalui mahluknya(alam) yang jadi masalah kan yang bawa batu kesitu dan menyusun menjadi sebuah stuktur bangunan. Bukankan yang diteliti itu kemungkinan ada bangunan atau tidaknya dibawah gunung padang? kenapa yang diributkan asal batunya…?
    cape dee….h

    • syawal mengatakan:

      sebenarnya hal itu terkait tentang dugaan apakah memang benar ada atau tidak, jadi perlu dilakukan beberapa hipotesa. Hal itu tak terlepas agar cagar budaya ini tidak rusak akibat pergalian😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: