Mengenal Lebih Dekat Tentang Delta Mahakam

24 Oktober 2012
Delta Mahakam

Delta Mahakam (wikimapia.org)

Delta Mahakam merupakan salah satu contoh wilayah interaksi antara air tawar (fresswater) dari darat dan salinitas dari Selat Makassar yang dibawa oleh tenaga pasut saat pasang. Sungai Mahakam adalah salah satu sungai terbesar di Indonesia yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Bahan dasar dari daratan berupa bahan padat atau cair yang dibawa oleh air hujan melalui sungai dan seterusnya ke muara atau ke perairan pantai berasal dari lokasi yang lebih tinggi. Berdasarkan pengamatan megaskopis, sedimen permukaan daerah Delta Mahakam terdiri atas lempung, lempung pasiran, pasir lempungan, lumpur pasiran, pasir, lumpur dan kerikil (Ranawijaya,dkk.2000).

Sebaran Litologi Sedimen Delta Mahakam

Persebaran material sedimen Delta Mahakam (Ranawijaya dkk,2000)

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai, Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen. Stratigrafi paparan berumur Kuarter di mana Sungai Mahakam berprogradasi menunjukan dominasi perulangan sedimen karbonat paparan dan endapan delta silisiklastik sebagai respon dari adanya perubahan muka air laut. Endapan paparan ini telah dipengaruhi oleh arus laut yang kuat dari Selat Makassar berarah utara-selatan. Roberts (2001) menunjukan bahwa sedimen prodelta Holosen Delta Mahakam telah dibatasi menjadi paparan bagian dalam (inner shelf) di sektor bagian utara, sedangkan di sektor bagian tengah merupakan delta front namun dibelokan ke arah selatan membentuk massa fasies prodelta yang luas. Paparan bagian tengah-luar didominasi oleh topografi tanggul, berupa individu bioherm (Halimeda) dan agregat.

Penelitian Crumeyrolle dan Renaud (2003) menunjukan adanya relif tanggul di lepas pantai Delta Mahakam yang terkadang membentuk bidang erosi dengan topografi yang bervariasi antara 10 – 30 m (rata-rata 20 m). Tanggultanggul (diapirism) ini membentuk Halimeda lumpur terigenik yang kaya akan biota laut dan hidup pada permukaan transgresif perairan yang jernih. Bioherm (Halimeda) paparan bagian dalam secara perlahan terkubur oleh sedimen Delta Mahakam kala Holosen. Di bawah permukaan transgresif Plistosen-Holosen, endapan sedimen menandakan tahapan masa sistem susut laut yang terdiri dari jaringan fluvial, isian gerusan lembah alluvium (channel fill), dataran delta agradasi dan endapan paparan serta kipas delta progradasi.

Tatanan Tektonik Daerah Mahakam

Tatanan tektonik cekungan kutai dapat diringkas sebagai berikut (Gambar 3.1.2).
• Awal Synrift (Paleosen ke Awal Eosen): Sedimen tahap ini terdiri dari sedimen aluvial mengisi topografi NE-SW dan NNE-SSW hasil dari trend rifting di Cekungan Kutai darat. Mereka menimpa di atas basemen kompresi Kapur akhir sampai awal Tersier berupa laut dalam sekuen.
• Akhir Synrift (Tengah sampai Akhir Eosen): Selama periode ini, sebuah transgresi besar terjadi di Cekungan Kutai, sebagian terkait dengan rifting di Selat Makassar, dan terakumulasinya shale bathial sisipan sand.
• Awal Postrift (Oligosen ke Awal Miosen): Selama periode ini, kondisi bathial terus mendominasi dan beberapa ribu meter didominasi oleh akumulasi shale. Di daerah structural shallow area platform karbonat berkembang
• Akhir Postrift (Miosen Tengah ke Kuarter): Dari Miosen Tengah dan seterusnya sequence delta prograded secara major berkembang terus ke laut dalam Selat Makassar, membentuk sequence Delta Mahakam, yang merupakan bagian utama pembawa hidrokarbon pada cekungan. Berbagai jenis pengendapan delta on – dan offshore berkembang pada formasi Balikpapan dan Kampungbaru, termasuk juga fasies slope laut dalam dan fasies dasar cekungan. Dan juga hadir batuan induk dan reservoir yang sangat baik dengan interbedded sealing shale. Setelah periode ini, proses erosi ulang sangat besar terjadi pada bagian sekuen Kutai synrift.

Tektonik Delta Mahakam

Tektonik Delta Mahakam

Baca entri selengkapnya »


Batubara –> Mengenal Lebih dekat CBM

9 Oktober 2012

Coal bed Methana menjadi wacana baru, tentunya akan semakin menarik, hal ini tak lepas dengan potensi batubara yang ada di negeri ini saat ini. Pengembangan keilmuan tentang Coal Bed Methana mulai menarik para investor asing untuk berlomba menemukan energi yang akan menjadi fenomena baru tentunya.

Cleat Batubara

Gas yang tersimpan didalam Celah batubara

Coal bed methana, sesuai dengan namanya mempunyai potensi CH4 dan potensi tersebut mempunyai manfaat yang besar tentunya untuk pengemabangan energi selanjutnya. Sejumlah formasi di Indonesia merupakan penghasil batubara yang bagus seperti Formasi Muara enim, Formasi Tanjung, Formasi Balikpapan, Formasi Lahat, dan beberapa formasi lainnya. Pengolahan produksi gas batubara ini relatif lebih hijau daripada penambangan batubara itu sendiri.

Lingkungan Pengendapan
Lalu di mana saja batubara itu terbentuk? secara esensi batubara berasal dari tumbuhan yang kemudian terendapkan dengan proses burial dan pressure sehingga membentuk batubara (Itu mungkin teori yang mudahnya). Batubara umumnya di temukan pada daerah lingkungan pengendapan flood plain, ox bow lake, delta plain delta front, lacustrine, lagoon, zona zona creveasse play, dan beberapa daerah lainnya. tetapi hal ini akan bergantung pada sumber nya, apabila keterdapatan sumber pohon pohon besar, relatif akan membentuk batubara yang cukup tebal. Sedangkan pada daerah delta front akan di tumbuhi tumbuhan yang relatif lebih kecil daripada daerah sungai

http://earthonlinemedia.com/ipg/images/lithosphere/fluvial/alluvial_stream.jpg

Lingkungan Pengendapan Sungai

 

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.

Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Tabel 1

Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara

(Diesel, 1992)

Environment Subenvironment Coal Characteristics
Gravelly braid plain Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur
Sandy braid plain Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur
Alluvial valley and upper delta plain channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur
Lower delta plain Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur
Backbarrier strand plain Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur 

regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur

Estuary channels, tidal flats, fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dandelta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998). Baca entri selengkapnya »


Fotografi, Sambil Berjalan Menikmati Alam

2 Oktober 2012

Sudah lama tidak nge blog, dan sepertinya untuk cerpen cerpen berikutnya ada tambahan menu baru nih, yaitu foto foto kehidupan yang saya hunting dari beberapa tempat…… Ya hitung hitung mengisi cerpen cerpen dengan gambar gambar …..

Pesawat di Adi Sucipto

kenang Kenangan mendarat di Adi Sucipto Yogyakarta

Kalau di atas ketika sebelum PIT IAGI Yogyakarta kemarin, 17 september 2012 tepatnya,

Jejamuran Yogyakarta

Jamur , sedang menikmati Jejamuran di Yogyakarta

Kalau yang diatas Itu Buah Jamur yang sempat terpotret ketika menikmati makanan di Jejamuran saat PIT IAGI Yogyakarta kemarin

Belajar dari Alam

Dr. Andang Bachtiar ,” bagaimana Belajar dengan Alam “

Kalau Foto diatas pengen Bilang, “Hey, Look at the Rock, Amaziiing”

Sepenggal Senyuman dari Samarinda

Sepenggal Senyuman dari Samarinda

Nah ini rekan Geologist saya, saat melakukan Mapping di Samarinda Awal Juli Kemarin, Senyuman Indonesia sep0ertinya pas untuk menggambarkan hal di atas