Universitas Itu Bernama Perpustakaan Ilmu

Awang Harun Satyana, ya beliau Geolog yang sangat beruntung dimiliki Indonesia saat ini, dan salah satu orang yang membuat saya kagum terhadap beberapa tulisannya dan karyanya, Dari seorang sahabat saya sedikit membaca profil beliau dan dari akun facebook nya beliau menjabarkan tentang Universitas yang ia dapati pasca lulus dari sarjana Geologi Universitas Padjajaran, Universitas itu bukanlah Universitas ternama yang menghasilkan geolog handal di bidangnya tetapi dari sebuah Universitas bernama, “Perpustakaan Ilmu” , dan berikut yang saya dapati kata-kata beliau dari akun facebook beliau tentang Guru-guru hebat di dalam perpustakaan tersebut :

Sebagian Buku yang dimiliki Pak Awang Harun Satyana dari 9000 Buku yang ia Kumpulkan

ini ruangan kerja saya sekaligus pojok sekolah saya. Kalau saya di rumah, hampir sebagian besar waktu saya ada di pojokan ini, terutama mulai jam 22 sampai dini hari. Ini sebagian saja dari sekitar 9000 buku yang saya mulai kumpulkan dari 33 tahun yang lalu. Berbagai ilmu dari berbagai zaman ada di dalamnya. Inilah sekolah saya, tanpa teman, tanpa lulus, tanpa gelar, dengan ribuan guru bernama para penulis buku. Hampir 300 publikasi paper, artikel, buku2 kursus teknis, dll sudah saya hasilkan dalam 20 tahun terakhir, sebagian ditulis dari pojokan ini, di tengah keheningan malam atau dini hari hanya dengan satu jiwa: passion, dan satu spirit: ekstrem autodidak!

sekali kita mempunyai cinta yang dalam akan suatu ilmu, tentu kita akan menekuninya dan berbuat banyak untuknya, juga menceritakannya kepada banyak orang; tidak peduli kita dihargai atau tidak, tidak peduli kita bekerja sebagai peneliti atau bukan. Hanya dibutuhkan cinta, ketekunan, konsistensi dan keberanian; maka semuanya akan terjadi dengan baik dan suatu saat akan terjadi bahwa ilmu tersebut berbalik mencintai kita.

Ini pojok yang nyaman buat saya. Dengan hampir 9000 buku di rumah, sekitar 1000 buku di foto ini, cukup sulit menempatkannya. Hampir semua dinding di rumah sudah ditutupi rak2 buku, rak2 buku juga ditinggikan dari tahun ke tahun, akhirnya mencapai langit2, he2… Buku2 itu telah banyak menemani saya kala sendiri, melatih pikiran, meluaskan pengetahuan, dan membantu saya dalam menghasilkan karya2 tulis.

Kho Ping Hoo seri Bukek Siansu, Suma Han, Pendekar Super Sakti dll, seri Godam, Gundala, seri Jaka Sembung, seri si Buta Gua Hantu, Mandala pendekar sungai ular, Panji Tengkorak, atau wayang2 RA Kosasih, atau seri komik2 cerita dunia dalam 3 warna seperti Gulliver, Pulau Harta, dsb (pasti Herman tahu ini) itu koleksi2 saya saat SMP-SMA yang masih ada sampai sekarang, ditambahi lagi seri Dora Emon, Dragon Ball dll anime Jepang bawaan anak2 saya saat mereka masih SD-SMP ada juga. Juga novel2 asli atau terjemahan dari novelist Pearl S Buck, John Grisham, dll atau Marga T dan Mira W, dan seri lengkap Harry Potter bawaan istri saya, semua ada, termasuk roman2 Indonesia dari Pujangga Baru ada semua, di dalam satu kamar sendiri, kamar buku2 fiksi namanya. Dari 9000 koleksi buku itu, sekitar 2000 buku2 fiksi.

meskipun buku2 klasik kini mesti bersaing dengan buku2 atau publikasi digital yang dengan mudah diakses dari Ipad, elegi Gutenberg namanya – saat buku2 cetak tergusur buku2 digital, buku2 klasik yang tetap saya sukai, ada perasaan tertentu yang tak tergantikan oleh digitalisasi tersebut. Rumah saya pertama dulu, hampir 20 tahun yl, walupun kecil saja, 3 kamar, 2 kamarnya perpustakaan he2…sebab saya membawa sekitar 3000 buku, istri saya membawa 1000 buku. Betul, setiap penulis pasti pembaca.

mempunyai perpustakaan sendiri adalah salah satu cita-cita saya dari kecil. Dari sejak SD kelas 6 saya sudah menggunakan semua uang jajan saya buat beli buku, saya juga menyurati kedubes2 asing di Jakarta buat minta buku. Saya juga suka memulung buku2 dari tempat sampah rumah2 gedongan. Akhir tahun pelajaran biasanya waktu terbaik buat saya berburu buku2 bekas di tempat sampah tersebut, sebab buku2 pelajaran anak2 rumah gedongan itu biasanya dibuang saja. Dan seminggu sekali saya menghabiskan waktu berburu buku di tukang loak, sebab hanya buku2 loak yang terbeli oleh saya sebagai anak SD-SMA. Apa yang saya peroleh dengan sulit, pasti akan saya pertahankan semampu saya. Buku2 dari segala zaman itulah guru2 saya.

Itulah tulisan beliau yang tentunya bagi siapapun yang membaca akan tahu betul bagaimana guru-guru hebat tersebut telah membentuk pengetahuan Pak Awang Harun Satyana yang membuat siapapun akan kagum melihatnya.

Dan berikut tulisan mengenai profil beliau yang saya ambil dari blog sahabat saya http://aveliansyah.wordpress.com

Profil : Awang Harun Satyana

Saya ingin berbagi cerita sedikit. Semoga tak terlalu menyita waktu rekan-rekan Geo-Unpad yang mau membacanya. Saya menyukai kedokteran dan geologi sejak saya duduk di SMP. Buku-buku kedokteran dan geologi sudah saya kumpulkan sejak kelas 3 SMP, tahun 1979, tahun saat saya memulai membangun perpustakaan pribadi. Setiap minggu dengan uang saku sisa seadanya saya biasa membeli buku-buku bekas di pedagang loak Pasar Cihapit. Di kiosk-kiosk buku loak itu saya suka bertemu dengan Prof. G.A. de Neve, geologist Belanda berbadan besar. Di situ pula saya temukan buku-buku geologi van Bemmelen, Henry Brouwer, Umbgrove, Katili, dll. Buku2 kedokteran setebal 10 cm pun saya membelinya sebagai persiapan kalau-kalau saya jadi mahasiswa kedokteran. Tentu untuk membeli semua buku itu saya harus menabung dulu beberapa minggu.

Akhirnya, saat saya duduk SMA terkumpulah 2000 buku macam-macam. Buku-buku geologi loakan itu saya sering lihat-lihat. Dari SMP pun saya suka bermain ke museum geologi yang tak jauh dari rumah. Betapa menariknya geologi ! Saat tes masuk perguruan tinggi, saya tentu memilih Kedokteran dan Geologi, dua-duanya di Unpad. Mengapa saya tak memilih geologi di ITB ? Sebab dalam pandangan saya saat itu, lulusan geologi ITB akan jadi insinyur teknik geologi, sesuatu yang saya tak inginkan sebab saya ingin menjadi seorang ilmuwan geologi. Maka saya memilih geologi Unpad yang bernaung di bawah Fakultas MIPA, tentu bernuansa lebih ilmiah dan bukan teknik. Ternyata, baik geologi ITB maupun geologi Unpad sama saja, lulusan geologi Unpad pun saat saya lulus gelarnya insinyur pula. Lalu, saya gagal masuk kedokteran Unpad dan diterima di geologi Unpad.

Tahun 1983 saat itu. Karena menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak kecil, saya mencoba masuk kedokteran Maranatha, diterima dan sempat kuliah satu tahun, kemudian diputuskan keluar karena biaya. Tahun 1984 saya mencoba lagi masuk kedokteran Unpad, gagal lagi, ya sudah, cita-cita menjadi dokter saya kubur. Saya ingin bertekun di geologi saja. Selama tahun1983-1988 saya kuliah geologi di dua tempat : satu di kampus (formal), satu di perpustakaan P3G (informal). Di kampus saya mendapatkan pendidikan dari bapak-bapak dosen, di perpustakaan geologi saya belajar geologi dari laporan-laporan, jurnal-jurnal, dan banyak lainnya. Pulang dari perpustakaan saya selalu mampir ke museum agar hafal ini batu ini, itu batu itu. Para petugas perpusatakaan P3G tahun 1983-1988 adalah orang-orang yang sangat berjasa buat saya (Bu Polhaupessy, Pak Ade, Pak Anton, Eutik, Teh Ani, dll…) yang tak bosan melihat saya hampir setiap hari berjam-jam di situ selama bertahun-tahun. Kalau bekerja di perpustakaan, saya pasti mencatat banyak hal penting dari bahan yang saya pelajari. Catatan-catatan di kertas bekas itu kalau ditumpuk ada satu meter tingginya. Lulus sekolah Februari 1989, saya mengirimkan surat lamaran ke 40 perusahaan dan instansi. Yang menjawab hanya empat : tak ada lowongan ! Selama setahun saya mencari pekerjaan ke sana-sini sambil bekerja paruh waktu di sebuah konsutan pertambangan di Bandung. Saya membentuk kelompok bahasa Inggris dengan teman-teman yang bertemu seminggu sekali sambil bertukar info soal bursa pekerjaan. Kelompok kecil ini kemudian ternyata sangat membantu saya saat tes wawancara dengan perusahaan yang memanggil saya.

Di ujung 1989, kesempatan datang dan saya dapat memanfaatkannya dengan baik. Saya lulus tes masuk P3G, juga lulus tes masuk Pertamina. Saya melamar ke P3G karena ingin melanjutkan sekolah sebab saat itu di P3G banyak sekali doktornya. Melamar ke Pertamina karena saya ingin dapat gaji yang lumayan. Bingung saya memutuskan, masuk ke P3G atau Pertamina ? Di P3G, saya punya banyak teman senior baik yang master maupun doktor, itu karena saya rajin ke P3G dan memberanikan diri mengobrol dengan mereka. Satu per satu saya tanya, saya mesti masuk ke mana, P3G atau Pertamina ? Jawaban sekian banyak ahli itu : jangan masuk P3G, duitnya sedikit, kesempatan sekolah pun sedang jarang (begitu kira-kira jawabannya). Maka, saya bulatkan masuk Pertamina saja. Di Pertamina tahun 1990-1997 saya sibuk sebagai seorang exploration geologist. Tahun 1991 dibuka kesempatan sekolah S2 (lalu S3), saya terpilih untuk ikut tes, datang dari Balikpapan ke Jakarta, bersaing dengan sekian belas teman2 Pertamina lain. Pulang ke Balikpapan saya diberitahukan bahwa saya tidak lulus, katanya gagal di wawancara sebab yang diperlukan adalah orang yang senang riset 100 % (saya menjawab saat wawancara saya suka riset 50 % dan operasi lapangan 50 %). Apakah hanya itu kriteria kelulusan ? Saya tidak yakin…, tetapi sudahlah, saya akan tetap mencintai geologi meskipun tidak sebagai S2 apalagi S3.

Lima tahun karier awal saya ternyata pekerjaannya serabutan dan kebanyakan pergi ke lapangan. Studi-studi geologi semakin jauh dari saya. Terus terang, saat itu saya mengiri kepada teman-teman yang ditempatkan di bagian studi geologi yang sering berdiskusi dengan ahli2 geologi S3 dari ITB atau LIPI atau tempat lain sebagai konsultan studi2 Pertamina. sementara saya, jauh di lapangan, di tengah hutan menjaga sumur2 sebagai wellsite geologist. Tetapi, saya selalu ingat kata-kata ini, kata2 yang saya temukan di lembar pertama skripsi Pak Ildrem Syafri yang saya panggil Uda Ildrem : “Lebih baik menyusul dengan diam-diam daripada membuang waktu dengan iri hati kepada orang yang berjalan di depan.”.Maka, hari-hari saya penuhi dengan belajar dan belajar, hari-hari saya penuhi dengan menulis dan menulis. Tahun 1993 saya mulai menulis paper yang saya kirimkan ke PIT IAGI atau IPA; dan sejak itu saya tak bisa lagi berhenti belajar dan menulis. Saya menulis banyak hal dalam geologi sebab saya belajar banyak hal dalam geologi. Saya tetap menulis meskipun saya bukan seorang S2 atau S3, bukan seorang yang bekerja di lembaga riset, bukan seorang yang bekerja di perguruan tinggi.

Saya menulis bukan untuk mengejar nilai kum, tetapi saya menulis karena mencintai geologi dan ingin menyampaikan pikiran saya kepada khalayak ramai. Teman-teman saya yang master dan doktor di Pertamina, yang dulu sama-sama waktu tes untuk S2 dan S3 (mereka berhasil sementara saya gagal) saya amati terus publikasinya, ternyata publikasi saya jauh lebih banyak…Saya beranikan meneliti dan menulis meskipun isinya bisa bersinggungan atau mungkin ditertawakan doktor-doktor ahlinya. Lalu, tahun 1997-2000 saya dipindahkan ke JOB Santa Fe-Salawati joint antara Pertamina dan Santa Fe untuk mengerjakan Cekungan Salawati. Inilah periode yang berharga untuk saya melakukan banyak studi secara mandiri. Saya belajar dan berbuat (learning by doing). Berbagai macam studi saya lakukan di sini, mulai dari geokimia sampai struktur. Semua studi bukan diinstruksikan dari atasan, tetapi atas keinginan sendiri. Ada sekitar tujuh volume laporan studi selama empat tahun yang produktif itu. Studi-studi itu telah sangat membantu saya memahami petroleum geology secara terintegrasi. Saya makin percaya : no pain no gain. Saya juga percaya bahwa tak ada yang sulit dalam hidup ini asal mau berikhtiar, berusaha, dan ulet. Menjelang tahun 2000 dan sesudahnya mulai banyak teman yang mengambil sekolah S2, baik dibiayai perusahaan maupun biaya sendiri. Dosen2 dari ITB datang ke kantor seminggu sekali mengajari mereka. Saya tak berminat mengambilnya, saya sudah lama belajar sendiri di perpustakaan saya yang saat itu sudah hampir 5000 koleksi buku-bukunya tak termasuk ribuan paper geologi. Mengambil sekolah lagi ibarat merasa mengkhianati diri sendiri yang sudah bersumpah otodidak. Tahun 2000 saya dipindahkan ke Pertamina MPS (manajelem production sharing – asal muasal BPMIGAS sekarang). Di sini sama sekali bukan tempat riset, bukan tempat melakukan studi-studi geologi, dan sejenisnya, tetapi tempat mengawasi dan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan kontraktor2 perminyakan Indonesia. Banyak orang bilang bahwa di Pertamina MPS kemampuan teknis kita akan berkurang dan hilang sebab kemampuan kita tak dipakai lagi, tak mengerjakan studi lagi, hanya menilai. Benarkah begitu ? Mungkin ya mungkin tidak. Tetapi yang jelas justru di Pertamina MPS-BPMIGAS lah kecintaan saya kepada geologi makin menjadi sebab saya dikelilingi sedemikian banyak data dari seluruh Indonesia. Saya juga menerima laporan studi ini studi itu. Maka lebih dari setengah jumlah total publikasi saya, saya tulis di Pertamina MPS-BPMIGAS.

Saat ini jumlah total publikasi saya sudah 139 (56 paper untuk berbagai pertemuan nasional dan internasonal, 23 artikel untuk jurnal dalam dan luar negeri, 6 bab di dalam enam buku, 24 presentasi undangan dan pidato kunci, 21 kuliah umum/tamu di berbagai perguruan tinggi, dan 9 buku manual kursus untuk profesional) . Semua saya tulis atas nama cinta saya kepada geologi dan pengabdian saya kepada masyarakat geologi dan masyarakat awam. Tidak ada satu pun daripadanya yang saya tulis untuk mengejar kum sebab saya bukan dosen dan bukan peneliti di lembaga riset; dan tidak ada satu pun yang saya tulis untuk mengejar salary geology. Kini, di perpustakaan saya di rumah, saya dikepung oleh hampir 6500 buku. Buku-buku yang telah saya kumpulkan dari tahun 1979, hampir 30 tahun yang lalu. Itulah sekolah saya, sekolah tanpa teman, tanpa gelar, tanpa kelulusan, tetapi dengan ribuan dosen-dosen hebat yang bisa saya tanya kapan saja baik tengah malam maupun dini hari. Ujiannya adalah membuat paper-paper dan mempresentasikannya . Akan ada pertentangan yang hebat dalam diri saya kalau saya mengambil sekolah lagi, itu ibarat mengkhinati diri sendiri yang sudah bersumpah “otodidak”. Hampir 20 tahun otodidak, tak gampang “mengkhianatinya” . Suatu hari saya duduk bersebelahan dengan Prof. Robert Hall, ahli tektonik SE Asia yang terkenal itu, di dalam sebuah pertemuan internasional. Saya dan Prof. Hall sama-sama presentasi tektonik Jawa Tengah. Kami berbagi kartu nama dan Prof. Hall langsung berkomentar demi melihat institusi saya (BPMIGAS), “you did your research as a hobby, didn’t you ?” Ya, semuanya karena hobi, seperti juga yang Pak Herman lakukan.

Saya sudah menemukan kecintaan saya dalam geologi. Apakah keahlian geologi bisa dijadikan uang ? Tentu saja ! Tetapi bukan itu perhatian saya yang utama, uang akan mengikuti kita apabila kita punya magnet untuk menariknya. Magnet itu bernama keahlian. Saya ingin mengatakan kepada para junior saya : besarkan dulu keahlian geologimu, uang akan mengikutinya apabila keahlian itu sudah menjadi magnet Jangan membuatnya terbalik. salam,awang

sumber :

http://jurnal-geologi.blogspot.com/
http://aveliansyah.wordpress.com/
http://https://www.facebook.com/photo.php?fbid=170156636464299&set=a.170156633130966.58965.100004098920754&type=1&theater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: