Mitigasi Banjir Jakarta, Seharusnya Sudah Dari Dulu

Jakarta sebuah kota besar yang tak luput dari masalah banjir ketika hujan datang, penyebabnya pasti yang selalu di salahkan adalah daerah Bogor, yang menjadi penyebab utama sokongan debit sungai yang terus bertambah. Mari kita kenali lagi Jakarta dari sudut pandang geologi.

Jakarta

DKI Jakarta (Wikimapia.org)

Berdasarkan gambaran diatas DKI Jakarta ini ternyata sudah penuh sesak dengan pemukiman tanpa adanya lahan hijau, Jakarta sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Holosen (quarter). Endapan aluvium yang belum termasifkan sepenuhnya ini berasal dari sedimentasi sungai yang berada di sekitar Jakarta seperti Ciliwung, Cisadane, Cideng, dan lainnya. Sebenarnya Jakarta dahulu memang layak untuk diperhitungkan sebagai kota strategis sebagai kota pelabuhan. Dahulu Jakarta tidak sepadat seperti ini

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

pada saat itu juga pemerintah Jakarta membuat kanal-kanal untuk mengurangi genangan akibat limpasan sungai di sekitar Jakarta, ini mitigasi pertama yang dilakukan pemerintah belanda saat itu yang menyadari banyaknya sisi negatif dari banjir yang melanda Batavia saat itu.

Mitigasi Banjir Pemerintah VOC saat Batavia Terendam

Pada tahun 1619, sungai-sungai pun mulai dikeruk menjadi kanal-kanal seperti di negeri Belanda.Namun, pada tahun 1621, tidak lama setelah Belanda membuat kota dagang Batavia, banjir besar merendam seluruh kota. Banjir-banjir besar pun terulang hampir setiap 20 tahun sekali. Untuk mengatasi banjir, selain mengeruk sungai dan membuat banyak kanal, pemerintah juga membangun pintu-pintu air. Selain itu, dibangun pula bendungan dan situ untuk menampung dan mengendalikan air di hulu-hulu sungai. Dari 13 sungai yang ada di Jakarta, sungai Ciliwung merupakan yang terbesar. Hulu sungai Ciliwung berada di dataran tinggi di sekitar Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan daerah Puncak. Sungai yang panjangnya 120 km ini melintasi Bogor, Depok, dan Jakarta. Pemukiman warga Jakarta di bantaran Sungai Ciliwung.

Pada saat musim hujan, volume air Ciliwung sangat besar. Selain besar dan deras, air Ciliwung juga membawa sedimentasi tanah dan sampah, sehingga daerah aliran sungai Ciliwung yang melintasi Jakarta cepat dangkal.Untuk mengatasi banjir di Ciliwung agar tidak meluap ke tengah kota Jakarta, pada tahun 1920 pemerintah Hindia Belanda membuat kanal banjir dengan pintu air di daerah Manggarai.Air Ciliwung yang tadinya mengalir melalui daerah Cikini, Gondangdia, lalu ke daerah Gambir, langsung digelontorkan ke kanal banjir barat melalui Pasar Rumput,  Karet,  Tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima, Pluit, lalu ke laut.Belanda sudah merencanakan membuat dua kanal untuk memecah aliran sungai Ciliwung ini. Sayangnya, kanal banjir timur belum sempat dibuat oleh Belanda. Baru pada tahun 2003, Indonesia membuat  kanal banjir timur untuk mengurangi banjir di Jakarta.

Jakarta Kota Delta

Peta Geologi Jakarta (Herman Moechtar, 2012)

Peta Geologi Jakarta (Herman Moechtar, 2012)

Peta geologi diatas memperlihatkan bentukan kota jakarta berdasarkan batuannya. Dari peta tersebut memperlihatkan komposisi utara jakarta tersusun oleh material lepas Alluvium. Sedangkan di bagian tengah berupa kipas alluvial yang tersusun oleh material lempung sampai pasiran yang terbawa oleh aliran sedimentasi seperti sungai dan aliran hujan. endapan aluvium itu berasal dari batuan formasi Gunung Salak  dan Formasi Jatiluhur serta beberapa formasi di daerah tinggian bogor yang mengalami pelapukan kemudian terlarut dan terbawa oleh aliran air permukaan.

Endapan tersebut menunjukan bahwa Jakarta merupakan kota limpahan sedimentasi yang terbawa oleh sungai sungai di sekitar Jakarta dimana pengaruh endapan darat lebih kuat daripada gelombang atau arus laut sehingga menciptakan positif future di sekitar muara sungai. Kanal-kanal yang di bangun diharapkan agar endapan dan sedimentasi sungai langsung mengarah ke laut sehingga mengurangi pasokan volume air di sekitar Kota Jakarta. Tetapi saat itu Jakarta tidak sepadat saat ini, sehingga mitigasi yang dilakukan pemerintah belanda sudah harus di perluas.

Jakarta bukanlah seperti kota singapura dan kuala lumpur dimana pasokan sungai utama mereka tak seperti sungai ciliwung yang membawa volume air lebih banyak. Secara ke geologian Kuala Lumpur dan singapura bukan sebagai Lingkungan Delta seperti Jakarta sehingga permasalahan Banjir ke dua kota tersebut tak sekompleks Jakarta.

Data Penduduk Jakarta

Data Penduduk Jakarta (1870 – 2010)

Selain masalah lahan hijau yang mulai berkurang masalah lainnya adalah ledakan penduduk, sehingga lahan hijau silih berganti menjadi bangunan/pemukiman. Sudah saatnya pemerintah juga mulai memperhatikan kependudukan Kota Jakarta.

Genangan di Jakarta

Genangan merupakan imbas dari volume sungai yang tak tersalurkan ke daerah yg lebih rendah atau muara sungai, hal ini bisa di akibatkan oleh berkurangnya fungsi lahan sungai akibat pemukiman sehingga air tak masuk ke sungai dan menyebar mencari daerah yang lebih rendah.

Peta Genangan Jakarta

Peta Genangan Jakarta

Genangan tersebut mungkin baru berdasarkan genangan secara umum belum beberapa genangan kecil yang berpotensi menjadi daerah rawan banjir. Daerah genangan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan  beberapa hal antara lain memperbaiki irigasi dan pola pengaliran serta mengurangi volume limpahan yang  berada di daerah tinggian. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan pengelolaan lahan yang mampu menyalurkan aliran air permuka ke dalam tanah seperti membentuk sumur resapan dan Bio pori yang banyak dilakukan saat ini.

Seharusnya dengan melakukan penyeimbangan antara perkembangan kota dan tata kota, banjir tidak akan terjadi terus menerus di Jakarta, kerjasama beberapa pemerintahan kota dan kabupaten seperti Depok, Tanggerang, dan Bogor mempunyai nilai lebih untuk menanggulangi potensi banjir di Ibukota salah satunya dengan penerapan teknolohi pengelolaan hidrologi permukaan.

Referensi :

http://wikipedia.org
http://wikimapia.org
Moechtar, Herman.2012.Runtunan Tataan Stratigrafi Sebagai Indikator Proses Penurunan (Subsidences)(Studi kasus sehubungan tektonik versus amblesan Jakarta). Tidak Dipublikasikan
http://rovicky.wordpress.com
http://xykids.kidnesia.com/Kidnesia/Potret-Negeriku/Teropong-Daerah/DKI-Jakarta/Tempat-Menarik/Kenapa-Jakarta-Selalu-Banjir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: