Sebuah Catatan ; Fieldtrip IAGI-FGMI-MGEI Gunung Padang

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Gunung padang, sudah memberikan candu kepada semua peneliti untuk menelususri kebenarannya, dari sebuah batuan yang teronggok menumpuk, kini Gunung Padang mulai mendunia, tumpukan batuan itu mulai di tanyakan asal usulnya, dan bagaimana ia terbuat. Penelitian +/- 2 Tahun yang lalu yang dimulai oleh tim riset mandiri yang di pimpin oleh Dr. Danny Hilman, salah seorang pakar kegempaan yang dimiliki Indonesia saat ini

Sejak itulah warga mulai ramai mengunjungi Gunung padang, ada yang sekedar berwisata, mencari petunjuk, sampai melakukan riset. Tidak hanya wisatawan local tetapi juga mancanegara. Dan sejak saat itulah warga di sekitar mulai membangkitkan perekonomian melalui wisata Gunung Padang. 11 Mei 2013 lalu, saya bersama rekan rekan geosaintis muda lainnya melakukan kegiatan fieldtrip Gunung Padang dimana berbagai ahli profesi tak hanya geologi, bahkan pegawai Bank, mahasiswa Geografi, dan rekan rekan awam selain geosaintis pun mengikuti kegiatan ini.

Berangkat pukul 04.30 WIB, dengan berkumpul di kisaran setiabudi Jakarta Selatan, kami berangkat menggunakan satu bis. Dari Tim yang berangkat di bandung berangkat pukul 05.00 WIB. Matahari belum benar benar terbangun, tetapi semangat para peserta melebihi hal tersebut, perjalanan pun di mulai menuju Gunung Padang. Melintasi beberapa tempat menuju Cianjur, kabupaten dimana Gunung Padang ini terdapat, kita melewati jalanan khas Cibodas-Puncak Bogor, yang berliuk liuk dengan jalanan tanpa berlubang dengan sisa sisa kabut pagi menghiasi pemandangan kiri kanan bis. Banyak peserta memulai rasa penasarannya tentang Gunung Padang, yang selama ini memenuhi email mereka membahasan tentang Gunung Padang, seakan mengingatkan ketika kuliah dahulu “Back to Basic, Look At The Rock” , untuk membuktikan hal tersebut, tidak cukup dengan kata sebelum kita melihat langsung apa yang terjadi, dan biarkan insting sebagai geologist mengintepretasikan apa yang terjadi terhadap Gunung Padang.

Perjalanan ternyata +/- 2 Jam dan kami bertemu dengan peserta fieldtrip yang berangkat dari Bandung, di sekitar Cianjur, sambil menghela nafas segar pai, yang tentunya jarang di dapatkan sesegar di sini. Dari sinilah perjalanan bersama di lakukan, perjalanan masih jauh ternyata dan jalanan tak semulus layaknya liukan perjalanan Cibodas Puncak. Jalan yang hanya muat 2 mobil umum, membuta bis peserta terkadang harus berhati-hati dan menunggu antrian untuk melewatinya, dan terkadang kami harus mengalah dengan mobil mobil kecil lainnya. Dan inilah salah satu bukti, wisata Gunung Padang, tak seperti wisata wisata lainnya, dimana aksesnya terlihat lebih mudah, tengoklah Candi Borobudur dimana jalanan lebar dan bagus kita temui mulai dari muntilan sampia parkiran Mobil Candi Borobudur, atau cobalah tengok wisata Lembang yang jalanannya selalu di suplai dan di perbaiki setiap tahunnya untuk menunjang wisata Lembang, dan ini berbeda dengan jalanan menuju Gunung Padang, sepanjang jalan kita akan menemui banyak lubang jalan menganga seperti tak terurus. Jalanan kecil dengan pinggiran jurang di sebelahnya menjadi pemandangan umum di daerah ini.


Gambar 1. Jalan rusak menuju Gunung Padang, Cianjur


Gambar 2. Jalan berbukit dimana pinggirannya berupa jurang menuju Gunung Padang.

Geologi Umum Gunung Padang

Area gunung padang berada dalam deretan gunungapi pada Cekungan Bandung, yang termasuk dalam sistem busur kepulauan Sunda. Summerfield (1999) dalam Brahmantyo (2005) merinci sistem busur kepulauan ini menjadi sistem busur ganda yang terdiri atas busur magmatik/volkanik (Pulau Jawa) yang juga disebut sebagai busur dalam (inner arc), serta busur non-volkanik yang merupakan busur luar (outer arc) yang berada di laut selatan Pulau Jawa. Daerah Gunung Padang terdapat di busur magmatik/volkanik. Berdasarkan evolusi geologi Cekungan Bandung (Pannekoek, 1946 dalam Dam, 1994), fasa tektonik yang terjadi di daerah ini adalah rezim tensional yang memotong busur volkanik, bersamaan dengan kegiatan dan pengangkatan magmatik.

Gambar 3. Busur Kepulauan Sunda (Summerfield,1999 dalam Brahmantyo, 2005)

Menurut beberapa geolog yang melakukan peneliti lebih dahulu seperti Silitonga (1973), Koesmono (1976), Koesoemadinata dan Hartono (1980), Martodjojo (1984), Sujatmiko (1972), dan Alzwar (1992). litologi daerah ini secara umum terdiri dari batuan volkanoklastik yang berumur Tersier maupun Kuarter, meskipun terdapat formasi endapan marin di bagian timurlaut dari Cekungan Bandung (Tabel 2.1). Litologi di daerah Gunung Padang sendiri terdiri dari batuan gunungapi miosen akhir Formasi Beser dan batuan gunungapi Plistosen yang kemudian melanjutkan kegiatan erupsinya di Gunung Kendeng dan Gunung Patuha. Formasi Beser sendiri adalah formasi tertua diantara formasi lainnya di Pegunungan Bandung Selatan.    

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi Daerah Bandung

3. Gunung Padang Columnar Joint atau Buatan Manusia

Di dalam bagian ini saya menceritakan beberapa foto yang saya ambil ketika kegiatan fieldtrip tanggal 11 Mei sampai 13 Mei 2013. Permasalahan tentang apakah yang terjadi dengan gunung padang, saya sedikit mengulas dari opini saya sebagai seorang wisatawan berlatar belakang geosaintis juga tentunya.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup berliku dari Jakarta sampai Gunung padang +/- 4 jam tibalah kami di parkiran Gunung Padang,ternyata parkiran telah penuh dengan pengunjung yang berasal dari luar daerah baik sekedar hanya berwisata sampai melakukan fieldtrip dan penghijauan.

Dari parkiran perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki, dengan jalan menanjak yang slopenya berkisar antara 10-30o , tidak berapa jauh dari parkiran akan di temukan singkapan pelapukan (alterasi) batuan beku

Gambar 4. Singkapan batuan teralterasi di jalan menuju situs gunung padang dari parkiran (Inset photo perbesaran dari marker kotak merah)

Dari gambaran diatas menunjukan keterdapatan pengaruh kondisi kimia atau tertentu yang mempengaruhi perubahan fisik dan kimia batuan. Sehingga keterdapatan mineral ubahan dan lempung di area ini karena proses alterasi sangat besar. Pelapukan batuan itu di dominasi oleh material berukuran lempung berwarna putih sampai kuning kecokelatan dimana masih di jumpai tekstur asli batuan.

Kurang lebih perjalanan 15 menit dari parkiran menuju pos utama gunung Padang tetapi sebelum ke bahasan tersebut ada yang menarik untuk di bahas yaitu batuan gunung padang yang ternyata sudah banyak di manfaatkan sebagai bahan bangunan dan jalan di sekitar situs tersebut. Di mana saat itu keberadaan gunung padang tidak seheboh sekarang dan masyarakat sekitar kurang mengenal betul bangunan gunung padang.


Gambar 5. Batuan berbentuk balok yang banyak di gunakan oleh warga sekitar
sebagai material bangunan dan diperkirakan berasal dari gunung padang


Gambar 6. Pos masuk Gunung Padang

Harga tiketnya yang sangat ramah di saku dimana wisatawan Lokal Rp.2.000 perak dan untuk wisatawan mancanegara seharga Rp. 5.000, wisatawan bias menikmati kemegahan situs terbesar megalitikum se asia tenggara ini. Menuju gunung padang kita di hadapkan dengan 2 pilihan anak tangga untuk menuju teras pertama.

Anak tangga pertama yang diperkirakan telah di bangun oleh nenek moyang kita tersebut, mempunyai tantangan yang cukup menguras tenaaga kuranglebih sekitar 400 anak tangga yang akan kita naiki dengan kelerengan yang terjal sekitar 45o-70o, Sedangkan pada tangga anak kedua di bangun oleh masyarakat sekitar untuk mempermudah mengakses teras pertama Gunung padang tersebut.


Gambar 7. Peserta menaiki anak tangga menuju teras pertama Gunung Padang.

Cukup melelahkan memang tetapi hasilnya sebanding apa yang kita dapatkan apabila mencapai teras pertama, serakan batuan andesit berbentuk balok berada tidak teratur dimana terdapat bebeapa Pohon yang masih koko berdiri.

Gambar 8. Kondisi Teras Pertama Gunung Padang

Dari Gambar di atas menunjukan adanya campur tangan manusia dalam membangun kemegahan situs ini. Dari simulasi yang pernah dilakukan 1 batuan di daerah ini bias di pindahkan oleh 6-8 orang dewasa. Itu hanya satu batuan sedangkan hitungan awal menunjukan jumlah batuan mencapai ribuan bayangkan butuh berapa lama situs ini di bangun. Dan inilah mahakarya yang sungguh menajubkan dari nenek moyang kita di dalam perencanaan bangunan.

Dari sisi keamanan bangunan, system geoteknik atau sipil sudah bermain disini bagaimana tidak, terdapat struktur dinding yang kuat yang telah di buat oleh nenek moyang kita dimana pemahaman konsep terasering bangunan telah di gunakan dengan penguatan lereng menggunakan batuan untuk mengurangi bahkan mencegah longsoran pada bangunan ini.

Secara tidak langsung nenek moyang kita telah memberikan isyarat secara tak langsung kerentanan hidup di dataran tinggi dan lereng yang curam dengan ancaman terbesar berupa tanah longsor apabila musim penghujan tiba.

Alami Versus Buatan Manusia

Tidak hanya mengundang perhatian dan pembicaraan seputar arkelolog tetapi juga meranah ke bidang ilmu disiplin lainnya yaitu permasalahan tentang volume bangunan Gunung Padang ini sendiri apakah terbentuk di tempat dan hanya di susun oleh manusia atau material penyusun gunung padang berasal dari daerah lain dan disusun sedemikian rupa oleh manusia purba.

Gambaran bawah permukaan berupa data geolistrik menunjukan adanya bentukan yang aneh meliputi gunung padang, hal itu di lontarkan dari para peneliti gunung padang yang tergabung didalam tim Katastropik purba.


Gambar 9. Penampang Geolistrik dari Utara – Selatan Gunung Padang (Sumber : Tim Katastropik Purba)

Dari gambar diatas dapat di intepretasikan bahwasanya ada proses dimana warna merah menunjukan pola aliran dari arah utara yang hasilnya berdasarkan penjelasan oleh Dr. Danny Hilman berupa batuan beku sedangkan warna biru di bandingkan sebagai zona yang berisi air yang di intepretasikan dengan nilai resistivity yang relative lebih rendah.

Mari kita tengok kondisi apabila ia berasal dari batuan beku yang membentuk kekar kolom. Kekar kolom yang terjadi pada batuan beku, pada umumnya terjadi akibat adanya intrusi dangkal (intrusi batuan yang letaknya relative dekat dengan permukaan bumi) bentuknya adalah seperti pilar-pilar berbentuk segi empat sampai segi 6


Gambar 10. Contoh Kekar Kolom di The Giants Causeway

Kenampakan batuan beku umumnya di gunung padang berupa bentuk pentagonal. Dengan arah pendinginan yang saat ini masih di pertanyakan karena dari pengamatan di lapangan ternyata arah pembekuan tidak semuanya sejajara bahkan berlawanan arah (ini apabila di asumsikan gunung padang sebagai kekar kolom).


Gambar 11. Arah persebaran batuan yang tidak beraturan yang menujukan ada campur tangan manusia.

Secara detail batuan ini termasuk di dalam batuan andesit piroksen afanitik. Bentuk batuan secara hand specimen dapat dilihatkan pada gambar 12. Dimana warna batuan berwarna abu-abu kehitaman , struktur massif dengan beberapa bagian terdapan bekas proses lapukan yang terisi mineral sekunder berwarna kuning kecokelatan.


Gambar 12. Kenampakan Handspecimen batuan Gunung Padang.

Selain itu terdapat bentukan yang di perkirakan sebagai pengaruh manusia dalam proses pembentukannya seperti bentukan bundaran yang banyak di temukan di beberapa batuan.

Gambar 13. Komposisi batuan pada material gunung Padang

Keterdapatan lapisan lempung secara detail dapat dilihat pada gambar 14 dimana terdapat pola lapisan lempung yang lapuk dan terdapat garis yang jelas bukan gradasi. Yang menunjukan adanya proses sedimentasi (ini kalau di asumsikan terbentuk secara alamiah) sehingga bentukan ini memecah anggapan adanya proses kekar kolom yang membentuk gunung padang.


Gambar 14. Kenampakan Lapisan lempung sampai pasir halus diantara batuan beku

Lapisan tersebut lebih lapuk daripada batuan beku dan seolah terbentuk dari komposisi yang berbeda dengan batuan beku andesit piroksen. Tidak semua batuan di gunug padang tersusun seperti gambar diatas pada batuan yang lebih “muda” atau di bagian terluar batuan seperti gambar 14 terdapat komposisi batuan beku yang hanya disusun dan di rekatkan pada celahnya berupa batuan beku kecil.

Gambar 15. Batuan beku yang tersusun langsung tanpa lapisan lempung di antara keduanya dimana pada celahnya dikuatkan oleh batuan kecil.

Batuan diatas tersebut mengindasaikan adanya dua pola pembentukan yang membentuk permukaan gunung padang tersebut. Atau kalau di asumsikan di buat oleh “man made” menunjukan adanya 2 peradaban yang berbeda yang menyusun gunung padang ini. Sehingga jadi pertanyaan besar benarkah ini secara alami atau di buat oleh manusia.

Pundek Berundak, Benarkah?

Berdasarkan ilustrasi Pon Purajatnika, menggambarkan bentuk gunung padang sebagai berikut;


Gambar 16. Ilustrasi Gunung Padang yang diasumsikan sebagaipunden berundak (Pon Purajatnika)

Apabila hal ini diasumsikan sebagai punden berundak maka kita harus melihat apa yang terjadi pada sisi kedua lerengnya, apakah memang membentuk sebuah punden berundak atau tidak.



Gambar 17. Poster hasil eksavasi yang dilakukan oleh kelompok Arkeolog di Bawah koordinasi Dr. Ali Akbar (ARekeolog UI).

Dari gambar 17 menunjukan adanya sususnan batuan di area eksavasi di bagian barat lereng gunung padang, sehingga asumsi Punden berundak bias menjadi nyata apabila batuan ini “man made”, namun untuk menuju kesana perlu pembenaran dari berbagai disiplin ilmu untuk menyatakan bahwa ini adalah sebuah bangunan megah yang di miliki Indonesia berdasarkan dari hasil pemboran yang dilakukan oleh kelompok tim katastropik purba, data dating carbon pada kedalaman 50 menetr menunjukan umur yang sangat mengejutkan yaitu 12000 Sebelum masehi sehingga apabila ini benar maka sejarah dunia bias berubah karena hal ini.


Gambar 18. Penjelasan dari skema Gunung Padang bila di asumsikan sebagai punden berundak.

Sudah seharusnya keberadaan Gunung Padang semestinya menjadi hal yang menarik untuk di pelajari bukan untuk di permasalahkan, terkadang sesuatu yang di luar mindset mempunyai hal-hal yang menajubkan.  Serahkan pada ahlinya, mereka lebih paham untuk melakukan hal-hal tersebut, dan kembalilah ke lapangan seperti prinsip geologist umumnya, “Back to Basic, Look at The Rock” 

Di Tulis Oleh ; Rizqi Syawal (Ketua Divisi Humas)
                                  Forum Geosaintis Muda Indonesia

Referensi :

Fieldtrip Gunung Padang dan Penjelasan Tim Katasropik Purba Mandiri 11 Mei 2013

Alzwar, M., Akbar, N., dan Bachri, S., 1992, Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawabarat, Skala 1:100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung .

Asikin, S., 1992, Diktat Struktur (Tektonik) Indonesia, Kelompok Bidang Keahlian (kbk) Geologi Dinamis, Jurusan Teknik Geologi ITB, Bandung.

Bemmelen, R. W. Van., 1949, Geology Of Indonesia, Vol IA, Martinus Nijhott, The Hague, Netherlands.

Sudjatmiko, 1972, Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawabarat, Skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: