Journey To Bayah Formation (Jalan-Jalan) -1

Pantai Sawarna, Bayah

Pantai Sawarna, Bayah

Di bulan April ini ternyata ada 3 hari yang  yang sangat lumayan bagus buat “Journey” yaitu tanggal 18,19, dan 20 April, dan kepikiran bagaimana memanfaatkan waktu itu lalu tercetuslah destinasi sedikit untuk ke Lapangan (Sekalian mencuci otak yang lama di Jakarta). dan sebelum jauh mencatat kan diary perjalanan kemarin ane mau ngasih ucapin terima kasih dahulu untuk Hidayat Syah Putera, Aveliansyah, Tengku Vanessa, dan Ririn yang sudah mengijinkan cerpenist Geologi ikutan bergabung untuk merasakan nikmatnya petualanan tersebut.

Destinasi nya adalah ke Formasi Bayah, Lha Kok pakai nama formasi, bukan nama daerah??? , karena background gue geologi , gue lebih suka menamai catatan kali ini dengan sebutan untuk lokasi geologi dan jadilah kita menikmati perjalanan panjang menuju Bayah Formation. Perjalanan yang akan di tempuh +/- 7 jam perjalanan itu tampaknyalumayan ngingatkan perjalanan sewaktu melintasi perbukitan barisan dari Metro menuju Bengkulu.

Yang membedakan hanyalah jalan di perjalanan ini lumayan bagus beda dengan lintas barat menuju Bengkulu yang umumnya masuk hutan lindung dengan jalan yang memang jelek. Oke back to journey. Di destinasi kali ini akan mengunjungi beberapa tempat (padahal cuman tiga ) Pertama Pantai Sawarna (Kayak sususr pantai), kedua Pantai Legan Pari, dan ketiga adalah Goa Lalay, semuanya berada di sekitar area formasi bayah.

What Its Bayah Formation

Nama Bayah diberikan oleh Koolhoven (1933) terhadap batuan tertua didaerah Banten Selatan. Nama Bayah diambil dari nama kota kecamatan di daerah Banten Selatan, kabupaten Rangkasbitung.Batuan di daerah ini terdiri dari pasir kasar, sering konglomeratan berselang-selingdengan lempung yang mengandung batubara. Beberapa penyelidik sesudah Koolhoven seperti Musper (1939, 1940) juga memakai nama Formasi Bayah untuk satuan tersebut. Jadi intinya Bayah di ambil dari nama daerah setempat yaitu Bayahyang merupakan bagian kecamatan dan masuk di dalam Propinsi Banten.

Buku Panduan Itu Bernama Geologi

Saya, Aveliansyah dan Hidayat syah putera adalah orang dengan background yang sama, sama sama perantau dan sama sama penikmat ke-Arifan Geologi. Jadilah geologi menjadi buku panduan utama kami kemanapun kelak kami berkunjung, oke untuk seterusnya saya akan memanggil Teman saya Hidayat syah putera dengan panggilan Komet. dan 2 orang cewek yang ikut berturing dan mengenal tentang Bayah ternyata berbackgroun berbeda satu alah seorang farmasi dan satu seorang Physcolog. Jadilah secara tidak langsung dominasi background yang berkuasa sepanjang perjalanan ini dan menceritakan bagaimana karang itu bisa muncul di permukan dan bagaimana batuan itu tersingkap dengan indah layaknya ukiran alam yang tak ternilai.

Dan perjalanan menuju journey pun di mulai, dan jadilah sebuah tempat di sudut selatan kota jakarta yang sekaligus menjadi tempat berteduh sahabat saya Avel menjadi tempat Titik Poin pertemuan pertama dan Jebreeet sayalah orang terakhir yang telat maklum siang hari harus ngobrol dengan bos lama saya setelah itu shalat jumat dan kembali ke kos untuk ambil beberapa perlengkapan untuk pergi (meskipun sudah saya siapkan) tapi apa daya Allah sedang memberikan kenikmatan yaitu Hujan. .  jadilah saya harus cari Taxi agak sulit, karena akan pada mengerti mencari taksi di cuaca hujan itu kayak nyari jodoh, susah susah gampang.

Akhirnya saya sampai juga tanpa ba bi bu mereka ternayata langsung berangkat (huuft sial padahal ini cacing di perut harus sudah di kasih makan). Oke akhirnya mau gak mau saya ngakui bahwa saya yang telat dan ya sudah pada akan tahu saya menhan lapar sampai 3 jam kemudian (jam 6 sore di sekitar area Sukabumi) barulah kita makan kolesterol ternikmat di Dunia apalagi kalau bukan (Nasi Padang . . . .  Onde mande)

Setelah menikmati perjalanan (padahal pemandangan kiri kananya adalah gelap), dan baru pada kenal semua, jadilah di awal perjlanan ini seperti malu-malu untuk ber-“kelakar” dan termasuk saya. Ya sudahlah teori selalu akan mengatakan seperti itu bahwa perjalanan pertama bareng orang di kenal selalu Sunyi (syawal, 2014).

Komet 

sebelum jauh melangkah saya akan flash back mengenai sahabat saya komet, tepatnya kita mundur kurang lebih 3,5 tahun lalu ketika sama sama menjabat gelar pencari kerja. saya dan komet sama sama menjalani hari untuk merasakan bagaimana kerasnya di dunia tambang. dan ternyata benar, tambang batubara memang hitam , hitam pandangan dan mimpinya. dan si perantau dari bumi rencong ini ternyata sudah jauh berlari meninggalkan kawan kawan lamanya untuk lebih baik lagi bermimpi, ya dia kesini sedang menyelesaikan risetnya tentang bayah formasi. sekalian juga ini waktunya reunian para alumni petinggi Magmadipa. Oke sudah cukup cerita subjudulnya kita lanjutkan dengan cerita apa itu Sawarna

Sawarna , Desa Endapan Fluvial (Deltaic) tertutup Modern carbonate

ya judul di atas itu asumsi saya saja biar kelihatan geologi bangetss. dan sampailah kita di sebuah desa lokasi wisata yang ternyata sudah bejibun banyak para pelancong yang hadir baik tua dan muda, baik para jomblo sampai yang sudah punya anak cucu berkunjung disini. dan beruntung lah kita punya pemandu wisata geologist yang sudah bermukim di sini 20 hari lamanya hanya untuk melihat batu (gileee. . . ). Lalu apa yang menariknya dari desa ini, yang menariknya adalah desa ini semacam desa wisata di mana hampir seluruh rumah warganya ada tulisan (Home Stay) dan terdapat beberapa vila sederhana (Semacam kos-kosan) yang di sewakan baik dengan standar kantong kering sampai dengan kantong kakakp semua ada disini. yang tidak ada adalah signal internet dengan lancar (Shiiit . . ), padahal di awal pintu masuknya sebuah provider berani mengiklankan diri dengan sejuta bualan. Tak apalah ini ebrarti kesempatan untuk bergaul dengan mbah google, ngaskus, dan ngerocos di twit atau sekedar nulis status di BB yang gak penting bisa di pending dan konsen menikmati sepoinya angin laut.

Untuk harga penginapannya tidak terlalu sadis berkisar antara 150 ribu sampai kisaran 650 ribu tergantung luas kamar dan fasilitas. dengan banyak nya penginapan jadi jangan khawatir untuk tak dapat berteduh dan kalaupun tak cukup pondokan pondokan sepanjang pantai  juga di Sewakan. Kembali lagi ke catatan, kami sampai kurang lebih jam 22.30 WIB dan tentu sudah tahu bagaimana rasa letih itu menjelajahi tubuh ini, jadilah saya langsung merebahkan diri di kasur empuk bak permadani dengan bahan yang sudah di ramu tanpa sedikit basa basi tetapi sempat melepaskan obrolan dengan 2 sahabat saya lainnya.

Semangkok Mie di 19 April 2014

Ke esokan harinya kita mulai dengan shalat subuh , kenapa gue mau menkankan harus di mulai dengan subuhan, ini dia kejelakan dari para travelers yang umumnya terlalu mementingkan perjalanan daripada kebutuhan ruh yang juga mesti di obati dengan shalat. Selain itu kalau gue pikir ini pantai selatan bung dengan resiko sewaktu waktu patahan di selatan jawa bergerak dan memacu gelombang besar, tidak ada yang tahu kan. . . .???

Matahari sedang beranjak tinggi di langit pagi dan kita mulai dengan sebuah resepen maha dahsyat yang mengilhami dan saya yakini pernah di lakukan semua anak kos, yaitu membuat masakan pagi “Mie Apah” sebuah resepsarapan pagi dari kepanjangan masakan terkenal yaitu “The Mie Apah Adanya” , perpaduan rasa yang bercampur dari iga penyet, cabe hijau, goreng soto , dan telur yang di aduk menyatu , hmmmmm nikmatnya nyaris. . . (padahal perut dah keroncongn), tanpa cang cing cong habislah sarapan itu tanpa bebekas.

Setelah itu kita sepakati untuk berangkat pagi dan menjelajahi pantai sawarna untuk kemudian di sore hari rebahan di pemandian air Cipanas. Perjalanan hari ini pun di mulai, mulailah kita mengitari pematang sawah untuk kemudian mata ini manjakan dengan pasir yang meronta-rontah di sinari matahari dengan ombak yang tak kalah derunya bagaikan orkestra yang sedang bermain nada dan irama. Dan benar saja untuk geologist seperti saya pemandangan batu karang modern carbonate yang telah melampar diatas pasiran fluvial sudah membawa saya merindukan menyentuh dan merasakan bagaimana alam di masa lampau membentuk diri dan dengan sedemikian rupa menciptakan keindahan untuk di pandangi hari ini (Sudah mulai tampaknya gaya bahasa sastra saya hi hi hi . . . . . )

Sepertinya untuk sementara waktu harus melupakan dinginnya AC Kamar kos atau dinginnya ruangan di kantor dan berganti dengan angin pantai yang mulai sedikit tak bersahabat dengan membawa butiran pasir. Okee….. aku akuin ternyata suasana kantor itu hampir saja membunuh jiwa geologistku, membunuh rasa bolangku, yang memang di keluarga besarku sepertinya akulah yang suka membolang keluar masuk hutan, naik turun gunung dan tentunya ngelihat batu yang gak jelas….. yang jelas jauh dari kata anak kota, lebih tepat anak Ndeso… ndesooo banget.

Oke secara keseluruhan dan saya alami, ombak waktu itu memang sedang pasang dan beberapa perselancar di kejauhan sana sedang asyik menunggu ombak datang untuk menari di atas gelombangnya dengan papan selancar, dan Halooooo . . . . saya hanya sesedikit kali menatapi gelombang tersebut dan berkata, Subhanallah, Indah banget Indonesia ini. Makin di susuri sudah pantai sawarna ini terlihat karang karang lampau hasil dari modern carbonate tumbuh di sana, saling bercengkerama di masa lalu menutupi banyaknya keelokan jaman jauh sebelum mereka .

Dan tak berapa lama matahari benar benar membakar ini tubuh sambil menyeberangi ombak laut yang sedikit tenang menuju 2 buah singkapan layaknya gambar diatas, jadilah seperti ikan asin yang siap di santap oleh panasnya matahari . . . .  (Oke Di Lanjut Session 2 ya )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: