Panasnya Jakarta, Bukan Karena Neraka Bocor

Beberapa minggu ini media tengah mengambil sebuah headline berita yang cukup menarik yaitu suhu Jakarta yang mencapai 40 derajat celcius yang artinya suhu tersebut tidak seperti biasanya. Dari beberapa cerita mengatakan beberapa hal ini di sebabkan oleh Neraka Bocor . “Ini umpatan di beberapa warung kopi yang sering menjadi bahan candaan kalau panas nya mencapai 40 derajat celcius seperti panas kopi yang sedang di seduh . . ” lalu mengapa panas jakarta bisa mencapai suhu seperti itu. Tidak lain adalah Radiasi sinar matahari yang langsung menuju permukaan di jakarta karena kurangnya uap air dan ruang serah radiasi di jakarta sehingga panas yang di sebabkan oleh radiasi menyelimuti permukaaan.

Radiasi matahari

Radiasi Matahari Ke Bumi  (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari Ke Bumi (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari sendiri adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor.
1.Jarak Matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan Matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan energi Matahari 2.Intensitas radiasi Matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.
3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara Matahari terbit dan Matahari terbenam.
4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi

Cahaya matahari pada permukaan bumi terdiri dari bagian yang langsung dan bagian yang baur. Radiasi langsung datang dari arah matahari dan memberikan bayangan yang kuat pada benda. Sebaliknya radiasi baur yang tersebar dari atas awan tidak memiliki arah yang jelas tergantung pada keadan awan dan hari tersebut (ketinggian matahari), baik daya pancar maupun perbandingan antara radiasi langsung dan baur
Energi matahari yang ditransmisikan mempunyai panjang gelombang dengan range 0,25 mikrometer sampai 3 mikrometer (untuk di luar atmosfer bumi atau extraterrestrial), sedangkan untuk di atmosfer bumi berkisar antara 0,32 mikrometer sampai 2,53 mikrometer. Hanya 7% energi tersebut terdiri dari ultraviolet (AM 0), 47% adalah cahaya tampak (cahaya tampak memiliki panjang gelombang 0,4 mikrometer sampai 0,75 mikrometer), 46% merupakan cahaya inframerah.

Beberapa hal dapat mempengaruhi pengurangan intensitas irradiance pada atmosfer bumi . Pengaruh tersebut dapat berupa:
1.  Pengurangan intensitas karena refleksi (pemantulan) oleh atmosfer bumi
2.  Pengurangan intensitas oleh karena penyerapan zat-zat di dalam atmosfer (terutama oleh O3, H2O, O2, dan CO2)
3.  Pengurangan intensitas oleh karena Rayleigh scattering
4.  Pengurangan intensitas oleh karena Mie scattering

Lalu masalah atsmosfer yang makin terbuka atau di istilahkan oleh efek rumah kaca dan istilah kerennya Global warming menjadi salah satu issue yang sering di angkat. Lalu bagaimana dengan Jakarta? kurangnya ruang serap dan ruang terbuka hijau menjadi panas di Jakarta akhir akhir ini di sebabkan oleh hal tersebut tentunya ada faktor lain juga yang perlu di perhitungkan yaitu musim kemarau.

Ruang Terbuka Hijau Jakarta

Menurut Sarwo Handayani, Kepala Bappeda DKI Jakarta (www.Jakarta.go.id) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan penambah ruang terbuka hijau sebanyak 80.89 ha selama 2008 – 2010. Namun jumlah ini masih belum memenuhi standar RTH yang berdasarkan UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana luas RTH minimal 30% dari luas suatu kota. Nur Febrianti dan kawan kawan tentang Ruang Terbuka Hijau di jakarta menjelaskan tentang penggunaan tata guna lahan di jakarta dapat di lihat pada gambar di bawah ini

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Klasifikasi diatas menggunakan dengan metode maksimum likelihood untuk Landsat 8 pada 2007 dan 2013 seperti yang ditampilkan pada Gambar diatas. Penggunaan metode ini dipilih karena prosesnya yang lebih mudah dan cepat daripada klasifikasi penggunaan lahan lainnya. Tutupan lahan dibagi menjadi 12 kelas yaitu kelas hutan, belukar, rumput, lahan terbuka, kebun campur, perkebunan, pemukiman, industri, tegalan, sawah, tambang, dan kelas air. sehingga dari data tersebut kemudian Nur Febrianti dan kawan kawan melakukan analisasa perubahana alih fungsi lahan dengan melihat perubahan fungsi menjadi gambar seperti di bawah ini

Alih Fungsi Lahan DKI Jakarta 2013 dan 2014

Alih Fungsi Lahan DKI Jakarta 2013 dan 2014

Penelitian ruang terbuka hijau yang di lakukan oleh Nur Febrianti dkk di lakukan dengan menggunakan  integrasi antara klasifikasi penutup lahan menggunakan Metode Maksimum Likelihood, dan indeks vegetasi yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Sebaran vegetasi di DKI Jakarta dilihat dengan menggunakan perhitungan NDVI. Dari hasil perhitungan diperoleh NDVI untuk dari data Landsat 8 tahun 2007 dan 2013 . Secara umum terlihat jelas bahwa kisaran nilai NDVI pada 2007 lebih besar daripada 2013. Pada 2007 masih ditemukan tanaman-tanaman yang memiliki nilai NDVI yang tinggi (merah), selain itu pada 2007 nilai NDVI yang rendah dimana umumnya menunjukkan klas non vegetasi masih sangat sedikit dari pada kondisi 2013 yang terlihat banyak warna biru yang berarti nilai NDVInya rendah.

Kenampakan Vegetasi Jakarta 2007 dan 2013

Kenampakan Vegetasi Jakarta 2007 dan 2013

Dari gambar diatas menunjukkan persebaran pohon dan tanaman memang sangat kurang di area Jakarta, lalu masih kah kita sadari bahwa secara tidak langsung lingkungan kita telah berubah, sudah jadi perhatian kita lah untuk terus mengamati perkembangan pembangunan yang mengarah ke konservatif . . .

Jadi Panas jakarta Bukan Karena Neraka Bocor Ya. . . . . . .

 

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi_Matahari
http://morentalisa.wordpress.com/2012/01/16/mari-mengenal-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/
http://eprints.undip.ac.id/41408/2/BAB_II.pdf
Febrianti, Nur. Sofan, Parwati. 2014. Ruang Terbuka Hijau Di DKI Jakarta Berdasarkan Analisis Spasial dan Spektral Data             Landsat 8. Jakarta : Prosiding Seminar Nasional Penginderaan Jauh

Satu Balasan ke Panasnya Jakarta, Bukan Karena Neraka Bocor

  1. obat aborsi apotik mengatakan:

    It’s really very difficult in this busy life to listen news on TV, thus I only use internet for that reason, and get the most up-to-date information.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: