Geologi Sangihe dan Talaud

Secara tektonik, Kepulauan Sangihe merupakan bagian dari Jalur Volkanik
Minahasa – Sangihe yang membatasi Laut Sulawesi di bagian timur (Darman dan Sidi, 2000). Aktivitas volkanik di kepulauan ini umumnya berumur Kuarter dan merupakan hasil dari penyusupan Lempeng Laut Maluku di bawah Lempeng Benua Eurasia (Zulkarnain, 2002).
Batuan gunung api pembentuk Sangihe Besar merupakan batuan volkanik
berkomposisi andesitik hingga basaltik yang berumur Pliosen Awal hingga
Holosen (Samodra, 1994). Selain itu dijumpai juga batuan terobosan berkomposisi dioritik hingga andesitik. Batuan penyusun Sangihe Besar dari yang tertua hingga termuda menurut Samodra (1994) adalah: Batuan Gunungapi Biaro, Batuan Gunungapi Sahendaruman, Batuan Terobosan, Formasi Pintareng, Batuan Gunungapi Awu dan Alluvium.

2.1 GUNUNGAPI BIARO
Batuan Gunungapi Biaro dihasilkan oleh aktivitas volkanik pada akhir Neogen yang disebabkan oleh penunjaman Lempeng Maluku di bawah Busur Sangihe (Samodra, 1994). Satuan Gunungapi Biaro berupa perulangan breksi gunungapi dan lava, bersisipan tuf lapili dan batupasir tufan. Breksi gunungapi berkemas terbuka dan terpilah buruk, didominasi oleh komponen andesit dan basal. Sebagian lavanya amigdaloid bersusunan andesit-basal dengan kenampakan struktur bantal. Beberapa sisipan tuf lapili lapuk mempunyai tebal 2-3 m. Batupasir tufan yang berukuran sedang-kasar berstuktur perarian sejajar dan tak berfosil. Korelasinya dengan satuan sejenis di lengan utara Sulawesi memberi kesan umurnya adalah Miosen Akhir-Pliosen Awal. Lingkungan pengendapannya adalah darat-peralihan. Tebal satuan lebih dari 300 m.

2.2 BATUAN GUNUNGAPI SAHENDARUMAN
Penunjaman yang menerus hingga akhir Tersier menghasilkan aktivitas volkanik pada Kala Plio-Plistosen yang menghasilkan Batuan Gunungapi Sahendaruman serta pengangkatan sebagian daerah (Samodra, 1994).
Batuan gunungapi Sahendaruman tersusun oleh perulangan breksi gunungapi dan lava, tuf, aglomerat, bersisipan tuf lapili dan batupasir tufan. Breksi gunungapi umumnya bersusunan andesit-basal, sering memperlihatkan penghalusan butiran ke atas dan berangsur berubah menjadi batupasir tufan kasar. Retas andesit memotong lapisan ini. Singkapan lava di Lapango terpiritkan disepanjang retakan, setempat mengandung senolit basal. Sebagian runtunan breksi gunungapi dan tuff keduanya dipotong oleh urat kuarsa mengandung emas. Satuan ini tebalnya lebih dari 500 m.

2.3 FORMASI PINTARENG
Sebagian daerah yang terangkat kemudian berubah menjadi daratan penuh selama Plistosen dan menghasilkan Formasi Pintareng yang mengandung fosil vertebrata (Samodra, 1994). Kehadiran fosil tersebut menunjukkan kehadiran jembatan darat serta perairan dangkal di antara pulau-pulau gunungapi yang mempengaruhi migrasi vertebrata (Samodra, 1994).
Formasi Pintareng terdiri dari konglomerat, pasir kerikilan, pasir, lanau dan lempung hitam bersisipan tuf. Batuan sedimen kasar kaya kepingan batuan asal gunungapi. Konglomerat di S. Pintareng mengandung fosil vertebrata jenis Stegodon sp. B. cf. trigonocephalus yang diduga berumur Plistosen Akhir. Kepingan fosil yang ditemukan berupa geraham atas, tulang tumit, tulang jari, tulang rahang, dan gading kanan. Kayu tersilika setempat dijumpai pada lapisan konglomerat yang sangat kasar. Pasir kerikilan secara berangsur berubah menjadi pasir kasar dan lanau. Lempung mempunyai warna beragam dari hitam hingga agak kuning, setempat kaolinan mengandung lensa pasir kasar. Sebagian sisipan tuf bersifat pasiran. Sebagian satuan berfasies darat (sungai terayam) tebalnya sekitar 100 m.

2.4 BATUAN GUNUNGAPI AWU
Sistem retakan pada Kala Plistosen memberi jalan untuk terjadinya terobosan andesit dan diorit (Batuan Terobosan) yang menyebabkan terjadinya mineralisasi (Samodra, 1994). Kegiatan penunjaman masih terjadi hingga sekarang, ditunjukkan oleh aktivitas volkanisme Gunungapi Awu yang menghasilkan Batuan Gunungapi Awu yang masih berlangsung hingga sekarang (Samodra, 1994).
Batuan gunungapi Awu tersusun oleh aglomerat, lava, tuf, timbunan awan panas, endapan jatuhan dan lahar. Batuan yang dihasilkan oleh gunungapi aktif Awu di P.Sangihe Besar yang letusannya berjenis Saint Vincent dan Vulkano. Lava bersusunan andesit yang terkekarkan meniang dan melembar juga bersumber dari beberapa kerucut parasiter, misalnya G. Tahuna. Endapan awan panas meliputi daerah sekitar kawah, lembah, dan beberapa pantai, seperti di Mitung dan Bahu. Daerah laharan meliputi lembah-lembah Laine, Kalekuba, Muade, Beha, Patung, Tonggenaha, Apendakile, Biwai, Pato, Sura, Maselihe, Sarukadel, Melebuhi-Akembala, dan Kolongan.

2.5 ALUVIUM
Endapan aluvium berupa kerakal, kerikil, pasir, dan lanau asal gunungapi,
lempung, lumpur dan kepingan koral. Merupakan endapan sungai, rawa, dan pantai. Dataran aluvium yang luas terdapat di Tabuka Utara.

2.6 STRUKTUR DAN TEKTONIKA
Struktur geologi yang terdapat di Kep. Sangihe – talaud berupa lipatan berarah timurlaut-baratdaya. Gaya yang bekerja di daerah ini diduga berasal dari penunjaman Lempeng Maluku ke arah barat di bawah Busur Sangihe. Tunjaman ini adalah bagian dari tunjaman ganda yang melibatkan Busur Sangihe di barat dan Busur Halmahera di timur. Data kegempaan menunjukkan lajur Benioff di bawah Busur Sangihe menerus ke bawah hingga kedalaman lebih dari 600 km.

Sangihe

Gambar Peta Geologi Regional Sangihe 

Daftar Pustaka :
http://perpustakaan.mgi.esdm.go.id/pdf/4-Sangihe.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: