Belajar Bareng Di Geologi Universitas Sriwijaya

2 November 2015
Forum Geosaintis Muda Indonesia

Forum Geosaintis Muda Indonesia

Tidak terasa, sudah hampir 3 tahun Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), telah berdiri, dari sekedar ide yang di motori oleh Pak Rovicky yang waktu itu menjabat sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, kemudian beberapa anak anak muda di panas panasi dan sekarang lambat laun FGMI menjadi motor penyemangat baru untuk para geosaintis muda melakukan sumbangsih pada masyarakat Indonesia.

Dari kegiatan FGMI jugalah, sudah banyak geosaintis muda berbagi inspirasi kepada mahasiswa di kampus-kampus geosains bahkan juga menjadi pelayan untuk masyarakat baik dalam mitigasi atau menyalurkan sebagian rezeki kepada korban bencana geologi. Sudah 3 tahun ini pula lah saya berkecimpung di organisasi ini, yang menurut saya lebih dari sekedar organisasi tapi rumah untuk saling berbagi pengetahuan geosains bahkan saat ini tidak hanya orang orang geosains tetapi juga di luar itupula.. tanggal 20-21 Oktober 2015 kemarin saya di berikan kesempatan untuk belajar barengt dengan mahasiswa geologi Universitas Sriwijaya. dengan jumlah yang hadir melebihi ekspetasi saya sekitar 100 mahasiswa yang hadir, mengingatkan saya yang dulu menjadi mahasiswa S1 Geologi Universitas Diponegoro dengan segala keterbatasannya. Dan dua hari itulah saya berbagi keilmuan dan saya apresiasi sekali dengan para dosen di sana dengan segala keterbatasan.
Baca entri selengkapnya »


Mengapa harus waterflooding???

25 Februari 2015
Mekanisme Waterflooding

Mekanisme Waterflooding

Penggunaan waterflooding umumnya banyak di gunakan pada lapangan lapangan marginal atau juga lapangan tua di mana batas produksi minyak yang ada sudah melewati primary recoverynya sehingga untuk melakukan optimasi produksi di gunakan beberapa teknik termasuk Waterflooding atau sebagian orang lebih suka menyebutnya dengan Injeksi air. Mekanisme kerjanya adalah dengan menginjeksikan air  ke dalam formasi yang berfungsi untuk mendesak minyak menuju sumur produksi (produser) sehingga akan meningkatkan produksi minyak ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir (pressure maintenance)

Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri. Perkiraan ini bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek. Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume dan kecepetan fluida.Perkiraan diatas juga  berguna untuk penyesuaian atau pemilihan peralatan serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida. Baca entri selengkapnya »


Geo-Exploration Itu Asyik

28 Oktober 2013

Semoga saja tulisan ini belum kadaluarsa . . .  .
Sehingga belum terlalu basi juga untuk di konsumsi. Lama Tampaknya saya tak menulis blog semenjak hilir mudik jadi petugas administrasi di sebuah perusahaan. Dan semoga ke Administrasian ini segera berakhir.

Tapi sebelum melanjutkan nge Blog, saya mau Ngucapin dulu terima kasih kepada rekan rekan panitia Student Chapter AAPG – Universitas Sriwijaya, yang mau saya repotkan beberapa hari yang lalu. Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Universitas Sriwijaya.

Ya ini bermula saya lahir di Palembang (lo hubungannya sama Unsri???) eitss sabar dulu, Universitas Sriwijaya itu adalah salah satu Universitas yang gue impikan dahulu, jauh sebelum gue berpetualang di Pesisir Utara dan sampailah di Universitas DIponegoro (Lalu apa hubungannya lagi!!) , Oke gue jawaban hubungannya adalah ketidak selarasan antara Palembang – Lampung – Brebes – Magelang – Semarang – Jakarta dan back to Palembang.

Di Depan Student Center UNSRI

Di Depan Student Center UNSRI

One Day Course

Sebenarnya sudah lama banget ingin berkunjung ke rekan rekan universitas sriwijaya dan alhamdulillah tanggal 5 Oktober 2013 kemarin semuanya sedang di permudahkan meskipun suara serak serak basah tapi semangat berbagi tetap ada. Aplaus tetap saya berikan kepada para panitia dan para peserta. Dengan segala keterbatasan mereka mampu hadir di luar batas. Universitas Sriwijaya, kampusnya di bagi menjadi beberapa tempat (itu kalau tak salah) satu di Kota Palembang dan Satu di Inderalaya, kampusnya lumayan besar dan hijau. terus terang saya kagum dengan kampus ini , tetapi sayangnya aktivitas pembelajaran di kampus ini seakan sepi , melompong bahkan berbalik dengan aktivitas di hari biasanya.

Flyer Pengumuman

Flyer Pengumuman One Day Course

Nah gambar di atas adalah flyer saat saya ngisi di sana. Alhamdulillah ada banyak peserta yang hadir tidak hanya geophysicist tetapi juga ada anak tambang dan geologi dari Universitas Sriwijaya. Dan di mulailah hari sabtu itu dengan berbagai macam aktivitas untuk belajar bareng dan mengenalkan secara umum bagaimana Industri Migas tersebut. Baca entri selengkapnya »


Subsidence, Turunnya Muka Tanah

14 April 2013
Tanah

Penurunan Permukaan Tanah

Mencoba membagikan tulisan dan semoga bermanfaat, kali ini cerpenist ingin mensharing tentang penurunan muka air tanah yang sering kali terjadi di beberapa kota besar atau di sejumlah daerah. Tulisan ini saya sumberkan dari beberapa tulisan ilmiah yang saya ambil dari beberapa tempat untuk penguatan referensi tulisan ini.

Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah ini di akibatkan oleh banyak hal seperti pembebanan di atas permukaan, hilangnya air tanah akibat eksploitasi berlebihan, gempa yang mengakibatkan rusaknya struktur tanah,  ketidakstabilan bidang tanah akibat proses tertentu, dan sebagainya.

Penurunan muka tanah ini secara tidak langsung pemaksaan memadatkan struktur tanah yang belum padat menjadi padat. UMumnya terjadi pada daerah yang tadinya berupa rawa, delta, endapan banir dan sebagainya yang di alihkan fungsi tataguna lahannya tanpa melakukan rekayasa tanah terlebih dahulu

Umumnya Kota-Kota Besar di Indonesia berada pada zona limpasan dataran banjir dan Rawa

Jakarta, Semarang, Palembang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya di Indoesia mengalami permasalahan subsidence ini. memang penurunan terkadang tidak ekstrem setiap tahunnya di beberapa wilayah tetapi bukan tak mungkin bila di biarkan terus menerus akan berdampak munculnya kerugian tidak hanya material tetapi juga korban jiwa.

Fase Penurunan Muka Tanah

Contoh Fase Penurunan Muka Tanah

Menanggulangi Subsidence

Untuk melakukan penanggulangan turunnya muka tanah biasanya dilakukan beberapa tahap penelitian terhadap struktur tanah seperti daya dukung tanah, tebal dan komposisi struktur bawah permukaan, kondisi geologi, dan berbagai hal yang terkait. Cara penangulanggan pun bermacam macam berdasarkan hasil kajian dari faktor yang mempengaruhi subsidence tersebut salah satu penanggulangannya adalah memperkuat daya dukung tanah dengan cara melakukan rekayasa geoteknik seperti suntik semen, melakukan pembangunan pondasi pada struktur tanah yang tepat, melakukan pergantian tanah lunak dengan tanah yang relatif lebih kompak, memanfaatkan penggunaan air tanah seperlunya tanpa melakukan eksploitasi berlebihan. Baca entri selengkapnya »


Mengenal Lebih Dekat Tentang Delta Mahakam

24 Oktober 2012
Delta Mahakam

Delta Mahakam (wikimapia.org)

Delta Mahakam merupakan salah satu contoh wilayah interaksi antara air tawar (fresswater) dari darat dan salinitas dari Selat Makassar yang dibawa oleh tenaga pasut saat pasang. Sungai Mahakam adalah salah satu sungai terbesar di Indonesia yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Bahan dasar dari daratan berupa bahan padat atau cair yang dibawa oleh air hujan melalui sungai dan seterusnya ke muara atau ke perairan pantai berasal dari lokasi yang lebih tinggi. Berdasarkan pengamatan megaskopis, sedimen permukaan daerah Delta Mahakam terdiri atas lempung, lempung pasiran, pasir lempungan, lumpur pasiran, pasir, lumpur dan kerikil (Ranawijaya,dkk.2000).

Sebaran Litologi Sedimen Delta Mahakam

Persebaran material sedimen Delta Mahakam (Ranawijaya dkk,2000)

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai, Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen. Stratigrafi paparan berumur Kuarter di mana Sungai Mahakam berprogradasi menunjukan dominasi perulangan sedimen karbonat paparan dan endapan delta silisiklastik sebagai respon dari adanya perubahan muka air laut. Endapan paparan ini telah dipengaruhi oleh arus laut yang kuat dari Selat Makassar berarah utara-selatan. Roberts (2001) menunjukan bahwa sedimen prodelta Holosen Delta Mahakam telah dibatasi menjadi paparan bagian dalam (inner shelf) di sektor bagian utara, sedangkan di sektor bagian tengah merupakan delta front namun dibelokan ke arah selatan membentuk massa fasies prodelta yang luas. Paparan bagian tengah-luar didominasi oleh topografi tanggul, berupa individu bioherm (Halimeda) dan agregat.

Penelitian Crumeyrolle dan Renaud (2003) menunjukan adanya relif tanggul di lepas pantai Delta Mahakam yang terkadang membentuk bidang erosi dengan topografi yang bervariasi antara 10 – 30 m (rata-rata 20 m). Tanggultanggul (diapirism) ini membentuk Halimeda lumpur terigenik yang kaya akan biota laut dan hidup pada permukaan transgresif perairan yang jernih. Bioherm (Halimeda) paparan bagian dalam secara perlahan terkubur oleh sedimen Delta Mahakam kala Holosen. Di bawah permukaan transgresif Plistosen-Holosen, endapan sedimen menandakan tahapan masa sistem susut laut yang terdiri dari jaringan fluvial, isian gerusan lembah alluvium (channel fill), dataran delta agradasi dan endapan paparan serta kipas delta progradasi.

Tatanan Tektonik Daerah Mahakam

Tatanan tektonik cekungan kutai dapat diringkas sebagai berikut (Gambar 3.1.2).
• Awal Synrift (Paleosen ke Awal Eosen): Sedimen tahap ini terdiri dari sedimen aluvial mengisi topografi NE-SW dan NNE-SSW hasil dari trend rifting di Cekungan Kutai darat. Mereka menimpa di atas basemen kompresi Kapur akhir sampai awal Tersier berupa laut dalam sekuen.
• Akhir Synrift (Tengah sampai Akhir Eosen): Selama periode ini, sebuah transgresi besar terjadi di Cekungan Kutai, sebagian terkait dengan rifting di Selat Makassar, dan terakumulasinya shale bathial sisipan sand.
• Awal Postrift (Oligosen ke Awal Miosen): Selama periode ini, kondisi bathial terus mendominasi dan beberapa ribu meter didominasi oleh akumulasi shale. Di daerah structural shallow area platform karbonat berkembang
• Akhir Postrift (Miosen Tengah ke Kuarter): Dari Miosen Tengah dan seterusnya sequence delta prograded secara major berkembang terus ke laut dalam Selat Makassar, membentuk sequence Delta Mahakam, yang merupakan bagian utama pembawa hidrokarbon pada cekungan. Berbagai jenis pengendapan delta on – dan offshore berkembang pada formasi Balikpapan dan Kampungbaru, termasuk juga fasies slope laut dalam dan fasies dasar cekungan. Dan juga hadir batuan induk dan reservoir yang sangat baik dengan interbedded sealing shale. Setelah periode ini, proses erosi ulang sangat besar terjadi pada bagian sekuen Kutai synrift.

Tektonik Delta Mahakam

Tektonik Delta Mahakam

Baca entri selengkapnya »


Batubara –> Mengenal Lebih dekat CBM

9 Oktober 2012

Coal bed Methana menjadi wacana baru, tentunya akan semakin menarik, hal ini tak lepas dengan potensi batubara yang ada di negeri ini saat ini. Pengembangan keilmuan tentang Coal Bed Methana mulai menarik para investor asing untuk berlomba menemukan energi yang akan menjadi fenomena baru tentunya.

Cleat Batubara

Gas yang tersimpan didalam Celah batubara

Coal bed methana, sesuai dengan namanya mempunyai potensi CH4 dan potensi tersebut mempunyai manfaat yang besar tentunya untuk pengemabangan energi selanjutnya. Sejumlah formasi di Indonesia merupakan penghasil batubara yang bagus seperti Formasi Muara enim, Formasi Tanjung, Formasi Balikpapan, Formasi Lahat, dan beberapa formasi lainnya. Pengolahan produksi gas batubara ini relatif lebih hijau daripada penambangan batubara itu sendiri.

Lingkungan Pengendapan
Lalu di mana saja batubara itu terbentuk? secara esensi batubara berasal dari tumbuhan yang kemudian terendapkan dengan proses burial dan pressure sehingga membentuk batubara (Itu mungkin teori yang mudahnya). Batubara umumnya di temukan pada daerah lingkungan pengendapan flood plain, ox bow lake, delta plain delta front, lacustrine, lagoon, zona zona creveasse play, dan beberapa daerah lainnya. tetapi hal ini akan bergantung pada sumber nya, apabila keterdapatan sumber pohon pohon besar, relatif akan membentuk batubara yang cukup tebal. Sedangkan pada daerah delta front akan di tumbuhi tumbuhan yang relatif lebih kecil daripada daerah sungai

http://earthonlinemedia.com/ipg/images/lithosphere/fluvial/alluvial_stream.jpg

Lingkungan Pengendapan Sungai

 

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.

Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Tabel 1

Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara

(Diesel, 1992)

Environment Subenvironment Coal Characteristics
Gravelly braid plain Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur
Sandy braid plain Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur
Alluvial valley and upper delta plain channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur
Lower delta plain Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur
Backbarrier strand plain Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur 

regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur

Estuary channels, tidal flats, fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dandelta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998). Baca entri selengkapnya »


Mengenal Pengertian PSC (Production Sharing Contract)

3 Desember 2011
Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

PSC, atau Production Sharing Contract, adalah mekanisme kerjasama pengelolaan migas antara Pemerintah dan kontraktor. Sistem ini diperkenalkan oleh Ibnu Sutowo pertama kali pada tahun 1960, namun baru benar-benar diterapkan pada tahun 1964. Konon, model PSC ini telah ditiru lebih dari 72 negara di dunia, yang tersebar di benua Afrika Utara, Asia, Timur Tangah, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Dan Sejarah berkembangnya PSC ini kita bagi kedalam beberapa generasi, Sumber ini saya dapatkan dari mailing list IAGI yang ditulis oleh Pak Sunjaya (BP Migas)  dimana generasi generasi tersebut sebagai berikut;

Generasi pertama (1960 – 1976):

  • Produksi minyakd an gas bumi setiap tahun dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
  • 40% pertama disebut sebagai cost oil yang dialokasikan untuk pengembalian biaya eksplorasi dan eksploitasi. (Ceiling Cost Recovery)
  • 60% sisanya disebut sebagai profit oil atau equity oil yang dibagi:
  •  65% untuk PERMINA dan 35% untuk Kontraktor untuk produksi 75 ribu BOPD
  • 67.5% % Pertamina, 32 % % Kontraktor untuk produksi antara 75.000 sid 200.000 per hari:
  • 70 % Pertamina, 30 % Kontraktor untuk produksi di atas 200.000 barrel per hari.
  • Jangka Waktu eksplorasi selama 6 Tahun, dan dapat diperpanjang 2 kali (masing-masing 2 tahun)
  • Pajak Sebesar 56% dan tidak dibedakan antara pajak coorporate dan dividen.
  • Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor.
  • DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.
  • Generasi kedua (1976 – 1988):

    Dalam usahanya pemerintah meningkatkan keuntungan, pemerintah berusaha untuk mengganti model yang sebelumnya memberikan dua level bagi hasil dihapuskan dan menjadi satu bagi hasil sebesar 85:15 (70:30 untuk gas) bagi Pertamina. Perkecualian untuk Rokan PSC di mana bagi hasilnya 88:12 untuk Pertamina.

    Baca entri selengkapnya »


    Geologi Regional Jawa Barat

    5 Oktober 2011
    Pola Umum struktur Jawa Barat

    Pola Umum struktur Jawa Barat

    GEOLOGI REGIONAL JAWA BARAT

    Pulau Jawa terletak di bagian selatan dari Paparan Sunda dan terbentuk dari batuan yang berasosiasi dengan suatu aktif margin dari lempeng yang konvergen. Pulau tersebut terdiri dari komplek busur pluton-vulkanik, accretionary prism, zona subduksi, dan batuan sedimen.

    Pada Zaman Kapur, Paparan Sunda yang merupakan bagian tenggara dari Lempeng Eurasia mengalami konvergensi dengan Lempeng Pasifik.  Kedua lempeng ini saling bertumbukan yang mengakibatkan Lempeng Samudra menunjam di bawah Lempeng Benua. Zona tumbukan (subduction zone) membentuk suatu sistem palung busur yang aktif (arc trench system). Di dalam palung ini terakumulasi berbagai jenis batuan yang terdiri atas batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku berkomposisi basa hingga ultra basa (ofiolit). Percampuran berbagai jenis batuan di dalam palung ini dikenal sebagai batuan bancuh (batuan campur-aduk) atau batuan melange. Singkapan batuan melange dari paleosubduksi ini dapat dilihat di Ciletuh (Sukabumi, Jawa Barat), Karangsambung (Kebumen, Jawa Tengah), dan Pegunungan Jiwo di Bayat (Yogyakarta). Batuan tersebut  berumur Kapur dan merupakan salah satu batuan tertua di Jawa yang dapat diamati secara langsung karena tersingkap di permukaan.

     FISIOGRAFI REGIONAL

    Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang satu sama lain dapat dibedakan berdasarkan morfologi, petrologi, dan struktur geologinya. Van Bemmelen (1949), membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi, masing-masing dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan

    Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang barat-timur mulai dari Serang, Jakarta, Subang, Indramayu, hingga Cirebon. Daerah ini bermorfologi dataran dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi muda.

    Zona Bogor terletak di sebelah selatan Zona Dataran Pantai Jakarta, membentang mulai dari Tangerang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Majalengka, dan Kuningan. Zona Bogor umumnya bermorfologi  perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar maksimum sekitar 40 km. Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan beku baik intrusif maupun ekstrusif. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku intrusif, seperti yang ditemukan di Komplek Pegunungan Sanggabuana, Purwakarta.  Van Bemmelen (1949), menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium kuat yang disertai oleh pensesaran.

    Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona Bogor, memiliki lebar antara 20 km hingga 40 km,  membentang mulai dari Pelabuhanratu, menerus ke timur melalui Cianjur, Bandung hingga Kuningan. Sebagian besar Zona Bandung bermorfologi perbukitan curam yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Van Bemmelen (1949) menamakan lembah tersebut sebagai depresi di antara gunung yang prosesnya diakibatkan oleh tektonik (intermontane depression).  Batuan penyusun di dalam zona ini terdiri atas batuan sedimen berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter. Akibat tektonik yang kuat, batuan tersebut  membentuk struktur lipatan besar yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung merupakan puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (van Bemmelen, 1949).

    Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. Pannekoek (1946) menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di Lembah Cimandiri, Sukabumi. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang merupakan bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (plateau) Zona Pegunungan Selatan. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini, oleh Pannekoek (1946) dinamakan sebagai Plateau Jampang.

    2.1.3       TEKTONIK REGIONAL

    Lempeng Paparan Sunda dibatasi oleh kerak samudra di selatan dan pusat pemekaran kerak samudra di timur. Bagian barat dibatasi oleh kerak benua dan di bagian selatan dibatasi oleh batas pertemuan kerak samudra dan benua berumur kapur (ditandai adanya Komplek Melange Ciletuh) dan telah tersingkap sejak umur Tersier. Sejak awal tersier (Oligosen akhir), kerak samudra secara umum telah miring ke arah utara dan tersubduksi di bawah Dataran Sunda (Hamilton, 1979).

    Tektonik kompresi dan ekstensi dihasilkan oleh gaya tekan pergerakan Lempeng Indo-Australia dan putaran Kalimantan ke utara, membentuk rift dan half-graben sepanjang batas selatan Lempeng Paparan Sunda pada Eosen-Oligosen (Hall, 1977). Karakter struktur di daratan terdiri dari perulangan struktur cekungan dan tinggian, dari barat ke timur yaitu Tinggian Tangerang, Rendahan Ciputat, Tinggian Rengasdengklok, Rendahan Pasir Putih, Tinggian dan Horst Pamanukan-Kandanghaur, Rendahan Jatibarang dan Rendahan Cirebon . Pola struktur batuan dasar di lepas pantai merupakan pola struktur yang sama pada Cekungan Sunda, Cekungan Asri, Seribu Platform, Cekungan Arjuna, Tinggian F, Cekungan Vera, Eastern Shelf, Cekungan Biliton, Busur Karimun Jawa dan Bawean Trough. Beberapa bukti menunjukan adanya gabungan antara asymmetrical sag dan half graben pada tektonik awal pembentukan cekungan di daerah Jawa Barat Utara.

    STRUKTUR REGIONAL

    Di daerah Jawa Barat terdapat banyak pola kelurusan bentang alam yang diduga merupakan hasil proses pensesaran. Jalur sesar tersebut umumnya berarah barat-timur, utara-selatan, timurlaut-baratdaya, dan baratlaut-tenggara. Secara regional, struktur sesar berarah timurlaut-baratdaya dikelompokkan sebagai Pola Meratus, sesar berarah utara-selatan dikelompokkan sebagai Pola Sunda, dan sesar berarah barat-timur dikelompokkan sebagai Pola Jawa. Struktur sesar dengan arah barat-timur umumnya berjenis sesar naik, sedangkan struktur sesar dengan arah lainnya berupa sesar mendatar. Sesar normal umum terjadi dengan arah bervariasi.

    Dari sekian banyak struktur sesar yang berkembang di Jawa Barat, ada tiga struktur regional yang memegang peranan penting, yaitu Sesar Cimandiri,  Sesar Baribis, dan Sesar Lembang. Ketiga sesar tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh van Bemmelen (1949) dan diduga ketiganya masih aktif hingga sekarang.

    Baca entri selengkapnya »


    Proses Pembentukan endapan Mineral

    12 Agustus 2010

    lingkungan

    Mineral hmm.....

    Kali ini bang cerpenist mau ndikit bagi ilmu lagi, bukan sembarang ilmu kali ini mau nyerpenkan pengetahuan tentang pembentukan endapan mineral. Sebagai bangsa yang besar seyogyanya kita harus bangga akan poteni mineral di Indonesia nah supaya tak terbutakan oleh bangsa bangsa lain, penulis mau bagi bagi cerita “en” ilmu.

    ———————————————————————————————-

    Proses Pembentukan Endapan Mineral

    Proses pembentukan endapan mineral dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu proses internal atau endogen dan proses eksternal atau eksogen.

    Endapan mineral yang berasal dari kegiatan magma atau dipengaruhi oleh faktor endogen disebut dengan endapan mineral primer. Sedangkan endapan endapan mineral yang dipengaruhi faktor eksogen seperti proses weathering, inorganic sedimentasion, dan organic sedimentation disebut dengan endapan sekunder, membentuk endapan plaser, residual, supergene enrichment, evaporasi/presipitasi, mineral-energi (minyak&gas bumi dan batubara dan gambut).

    Proses internal atau endogen pembentukan endapan mineral yaitu meliputi:

    1.    Kristalisasi dan segregrasi magma: Kristalisasi magma merupakan proses utama dari pembentukan batuan vulkanik dan plutonik.

    2.    Hydrothermal: Larutan hydrothermal ini dipercaya sebagai salah satu fluida pembawa bijih utama yang kemudian terendapkan dalam beberapa fase dan tipe endapan.

    3. Lateral secretion: erupakan proses dari pembentukan lensa-lensa dan urat kuarsa pada batuan metamorf.

    4.    Metamorphic Processes: umumnya merupakan hasil dari contact dan regional metamorphism.

    5.    Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative); Exhalations dari larutan hydrothermal pada permukaan, yang terjadi pada kondisi bawah permukaan air laut dan umumnya menghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform.

    Proses eksternal atau eksogen pembentukan endapan mineral yaitu meliputi:

    1. Mechanical Accumulation; Konsentrasi dari mineral berat dan lepas menjadi endapan placer (placer deposit).

    2.    Sedimentary precipitates; Presipitasi elemen-elemen tertentu pada lingkungan tertentu, dengan atau tanpa bantuan organisme biologi.

    3.    Residual processes: Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu pada batuan meninggalkan konsentrasi elemen-elemen yang tidak mobile dalam material sisa.

    4.         Secondary or supergene enrichment; Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi pada kedalaman menghasilkan endapan dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

    Baca entri selengkapnya »


    TEKNIK GEOLOGI UNDIP DAPAT GEDUNG BARU

    22 Juni 2010

    Gedung Lama di Lantai 2 Geologi UNDIP tinggal

    ” Alhamdulillah ternyata tanggal 21 Juni 2010 Teknik Geologi dapat bantuan Gedung Pengajaran dari PT PERTAMINA “. Tapi sayang Ane gak bisa datang waktu peletakan batu pertama yang dilakukan oleh PT PERTAMINA

                       Akhirnya MoU itu terlaksana juga cink, jurusanku yang selama ini menumpang kuliah bersama sama dengan teman teman Geodesi dan perkapalan, dapat bantuan Gedung dari PT Pertamina. Jadi keinget dulu kalau kuliah pastri berebut menggunakan sebuah ruang kramat bernomor B. 203 ruang sejuta umat karena selalu diperebutkan. Tidak mengenal itu praktikum atau kuliah yang penting berebut di ruang yang termasuk relatif nyaman di Gedung Kuliah Bersama Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

                  ” Sekarang Beta gak khawatir bila besok besok ada perebutan tahta untuk kuliah dan sumpek sumpekkan karena sekarang beta dah dapat rumah baru, beta senang. Mungkin itulah logat orang Ambon kalau dapat Sebuah Gedung Baru”. Jadi keingat salah satu tulisan Pak Andang Bachtiar mantan ketua IAGI dan skarang sedang aktif di konsultan yang mengatakan perlunya CSR-CSR untuk mengembangkan kapasitas mahasiswa yang berprestasi, bukan untuk apa apa tapi untuk sumbangsih negeri. Emang ada benarnya , kalau kita terus berpatokan terhadap jumlah produksi Migas di Indonesia tanpa diiringi pembuatan bibit Explorer Geologist yang handal, bukan tidak mungkin jumlah cekungan 126 Hidrokarbon itu cuman riset tanpa ada tindak lanjut.

    Baca entri selengkapnya »


    Klasifikasi Sistem Panasbumi

    25 Mei 2010

    Akhirnya setelah beberapa hari meninggalkan kota Semarang, karena begitu banyaknya agenda, saya dapat membuat cerita pendek lagi, kali ini saya akan buat cerita pendek mengenai bKlasifikasi Sistem Panasbumi. Mengapa saya ambil tema panasbumi, karena sebagai geologist yang cinta bangsa saya perlu membagikan cerita pendek ini agar para pembaca dapat tahu apa itu Panasbumi atau istilah palembangnya “GEOTHERMAL” . Energy hijau yang saat ini tengah didukung pemerintah untuk terus dikembangkan karena potensi yang lumayan besar.

    Lalu seberapa besar Potensi GEOTHERMAL yang kita miliki, dibawah ini saya ambil dari blognya Dongeng Geologi

    Potensi Geothermal Indonesia

    dan dari data diatas hanya sebagian saja yang diolah, Hmmm dan jangan kaget bahwa potensi panasbumi Indonesia adalah potensi panasbumi yang terbesar di Dunia. Tapi masalah kendala keuangan yang buat negara ini enggan mengembangkan energi sejak dahulu padahal Negara Filipina dan Selandia baru kini menggantungkan energi listriknya pada energi yang ramah lingkungan ini.

    Baca entri selengkapnya »


    Model Lingkungan Pengendapan Karbonat

    5 Mei 2010

    Dalam tulisan ini saya mau nyerpenin asal muasal beberapa pengendapan Batuan Karbonat. Menurut mbah Tucker tahun 1985 dijelaskan bahwa endapan karbonat pada  laut dangkal terbentuk pada 3 macam lokasi yaitu Platform, shelf, dan ramps

    Tipe Endapan Karbonat pada Laut Dangkal

    Fasies karbonat ramp merupakan suatu tubuh karbonat yang sangat besar yang dibangun pada daerah yang positif hingga ke daerah paleoslope, mempunyai kemiringan yang tidak signifikan, serta penyebaran yang luas dan sama. Pada fasies ini energi transportasi yang besar dan dibatasi dengan pantai atau inter tidal

    Sedangkan Fasies karbonat platform merupakan suatu tubuh fasies karbonat yang sangat besar dmana pada bagian atas lebih kurang horisontal dan berbatasan langsung dengan shelf margin. Sedimen sedimen terbentuk dengan energi yang tinggi.

    Fasies fasies tersebut sangat dipengaruhi oleh mekanisme pengendapan antara lain;
    1. Progradasi pada Tidal Flat
    2. Progradasi pada tepi paparan
    3. Akresi vertikal pada endapan karbonat “sub tidal”
    4. Migrasi dari sand bodies karbonat
    5. proses pengendapan kembali

    Baca entri selengkapnya »


    Gunung Api Purba Di Wilayah Selatan YogYa

    26 Maret 2010

    Gunung Api Purba Yogyakarta

    Gunung Api Purba Yogyakarta

    Mencermati tulisan diatas tentunya sangat mengherankan, Bagaimana bisa terjadi??? banyak kalangan menganggap bahwa daerah selatan Yogya itu adalah daerah permukaan laut yang terangkat ke permukaan dan banyak mengandung material karbonatan atau batuan Gamping. Tapi dari hasil seminar Simposium Pengda IAGI Jateng yang dilaksanakan tanggal 23 Maret 2010 di ISTA Akprind, Ahli Volkanologi yang juga orang Geologi, Pak Sutikno Broto (Pusat Survei Geologi) menepis keraguan itu dan mengatakan bahwa dahulunya daerah selatan jogja dulunya ketika masa Oligo Miosen merupakan daerah busur Gunung api, dengan ditunjukkan beberapa data penunjukkan fenomena Gunung Api Purba mulai dari Pillow Lava disekitar Kali Opak sampai penampakan batu Pumice di sekitar selatan Jogja, yang menandakan dulu terjadi aktivitas Volkanik di Selatan Jogja… Baca entri selengkapnya »


    PEMANFAATAN PEMETAAAN AIRTANAH SEBAGAI REKOMENDASI DAERAH KONSERVASI DAN POTENSI AIRTANAH, STUDI KASUS PADA KECAMATAN CANDISARI, KOTA SEMARANG,JAWA TENGAH

    22 Maret 2010

    Abstract

    Air merupakan salah satu unsur vital yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya. Terlebih lagi untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengelolaan yang baik untuk menjaga kelestarian air yang merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Berdasarkan keterdapatannya, air dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu air permukaan dan air bawah permukaan. Air permukaan dapat dijumpai di sungai, bendungan, mataair, parit / selokan, dan lain-lain. Sedangkan air bawah tanah yang sering disebut dengan airtanah (groundwater) terdapat pada suatu lapisan batuan (formasi / bagian formasi) yang merupakan zona jenuh air yang dapat menyimpan dan melalukan air yang disebut dengan akuifer.

    Lapisan akuifer tersebut merupakan lapisan batuan yang bersifat porous dan permeabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sebaran airtanah dan

    volumenya serta hubungan antara airtanah dan air permukaan. Penelitian ini melihat

    tatanan sistem akuifer yang ada diwilayah tersebut pada tahun 2008 untuk selanjutnya dapat melihat daerah potensi airtanah dengan tingkat kerawanan dengan melihat kedalaman, dan jumlah akuifer yang ada pada beberapa objek sumurgali di Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Metode penyelidikan ini menggunakan metode pengamatan pada beberapa sumur gali sebagai objek pengamatan yang kemudian dibuat peta sebaran aliran airtanah dan peta potensi airtanah secara kecamatan. Dari hasil analisa yang ada kami membagi wilayah penelitian menjadi 4 daerah potensi airtanah.

    Keyword : Airtanah, Akuifer, Sumur Gali, Pemetaan, Peta Potensi Airtanah


    Mineral Alterasi Jilid 2

    13 Maret 2010

    Nih saya cerpenkan sedikit cerita tentang mineral alterasi yang saya dapatkan dari beberapa studi pustaka

    1. Cordierite.

    Sifat Fisik; sifat fisik yang ditunjukkan oleh mineral ini adalah warna biru, violete, gelap ; kekerasan 7 – 7,5 skala mohs; pecahan sub conchoidal ; densitas 2.6 – 2.66 g/cm3; belahan 1 arah; kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya, tidak mempunyai cerat.

    Sifat Kimia ; Komposisi kimia yang penting Al, Fe, Mg, O, Si ; mengandung unsur silikat; rumus kimia (MgFe)2Al4Si5O18.

    Sifat Optik ; Sistem kristal orthorombic, termasuk dalam kelas dipyramidal, pleokroisme kuat, optic nα = 1.527 – 1.560 nβ = 1.532 – 1.574 nγ = 1.538 – 1.578

    Lingkungan Pembentukan.

    Terbentuk di dalam batuan beku asam gunung berapi dan terbentuk pda metamorfosa regionsl tingkat tinggi pada sekis.

    Baca entri selengkapnya »