Belajar Bareng Di Geologi Universitas Sriwijaya

2 November 2015
Forum Geosaintis Muda Indonesia

Forum Geosaintis Muda Indonesia

Tidak terasa, sudah hampir 3 tahun Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), telah berdiri, dari sekedar ide yang di motori oleh Pak Rovicky yang waktu itu menjabat sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, kemudian beberapa anak anak muda di panas panasi dan sekarang lambat laun FGMI menjadi motor penyemangat baru untuk para geosaintis muda melakukan sumbangsih pada masyarakat Indonesia.

Dari kegiatan FGMI jugalah, sudah banyak geosaintis muda berbagi inspirasi kepada mahasiswa di kampus-kampus geosains bahkan juga menjadi pelayan untuk masyarakat baik dalam mitigasi atau menyalurkan sebagian rezeki kepada korban bencana geologi. Sudah 3 tahun ini pula lah saya berkecimpung di organisasi ini, yang menurut saya lebih dari sekedar organisasi tapi rumah untuk saling berbagi pengetahuan geosains bahkan saat ini tidak hanya orang orang geosains tetapi juga di luar itupula.. tanggal 20-21 Oktober 2015 kemarin saya di berikan kesempatan untuk belajar barengt dengan mahasiswa geologi Universitas Sriwijaya. dengan jumlah yang hadir melebihi ekspetasi saya sekitar 100 mahasiswa yang hadir, mengingatkan saya yang dulu menjadi mahasiswa S1 Geologi Universitas Diponegoro dengan segala keterbatasannya. Dan dua hari itulah saya berbagi keilmuan dan saya apresiasi sekali dengan para dosen di sana dengan segala keterbatasan.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Mengapa harus waterflooding???

25 Februari 2015
Mekanisme Waterflooding

Mekanisme Waterflooding

Penggunaan waterflooding umumnya banyak di gunakan pada lapangan lapangan marginal atau juga lapangan tua di mana batas produksi minyak yang ada sudah melewati primary recoverynya sehingga untuk melakukan optimasi produksi di gunakan beberapa teknik termasuk Waterflooding atau sebagian orang lebih suka menyebutnya dengan Injeksi air. Mekanisme kerjanya adalah dengan menginjeksikan air  ke dalam formasi yang berfungsi untuk mendesak minyak menuju sumur produksi (produser) sehingga akan meningkatkan produksi minyak ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir (pressure maintenance)

Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri. Perkiraan ini bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek. Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume dan kecepetan fluida.Perkiraan diatas juga  berguna untuk penyesuaian atau pemilihan peralatan serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida. Baca entri selengkapnya »


Geo-Exploration Itu Asyik

28 Oktober 2013

Semoga saja tulisan ini belum kadaluarsa . . .  .
Sehingga belum terlalu basi juga untuk di konsumsi. Lama Tampaknya saya tak menulis blog semenjak hilir mudik jadi petugas administrasi di sebuah perusahaan. Dan semoga ke Administrasian ini segera berakhir.

Tapi sebelum melanjutkan nge Blog, saya mau Ngucapin dulu terima kasih kepada rekan rekan panitia Student Chapter AAPG – Universitas Sriwijaya, yang mau saya repotkan beberapa hari yang lalu. Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Universitas Sriwijaya.

Ya ini bermula saya lahir di Palembang (lo hubungannya sama Unsri???) eitss sabar dulu, Universitas Sriwijaya itu adalah salah satu Universitas yang gue impikan dahulu, jauh sebelum gue berpetualang di Pesisir Utara dan sampailah di Universitas DIponegoro (Lalu apa hubungannya lagi!!) , Oke gue jawaban hubungannya adalah ketidak selarasan antara Palembang – Lampung – Brebes – Magelang – Semarang – Jakarta dan back to Palembang.

Di Depan Student Center UNSRI

Di Depan Student Center UNSRI

One Day Course

Sebenarnya sudah lama banget ingin berkunjung ke rekan rekan universitas sriwijaya dan alhamdulillah tanggal 5 Oktober 2013 kemarin semuanya sedang di permudahkan meskipun suara serak serak basah tapi semangat berbagi tetap ada. Aplaus tetap saya berikan kepada para panitia dan para peserta. Dengan segala keterbatasan mereka mampu hadir di luar batas. Universitas Sriwijaya, kampusnya di bagi menjadi beberapa tempat (itu kalau tak salah) satu di Kota Palembang dan Satu di Inderalaya, kampusnya lumayan besar dan hijau. terus terang saya kagum dengan kampus ini , tetapi sayangnya aktivitas pembelajaran di kampus ini seakan sepi , melompong bahkan berbalik dengan aktivitas di hari biasanya.

Flyer Pengumuman

Flyer Pengumuman One Day Course

Nah gambar di atas adalah flyer saat saya ngisi di sana. Alhamdulillah ada banyak peserta yang hadir tidak hanya geophysicist tetapi juga ada anak tambang dan geologi dari Universitas Sriwijaya. Dan di mulailah hari sabtu itu dengan berbagai macam aktivitas untuk belajar bareng dan mengenalkan secara umum bagaimana Industri Migas tersebut. Baca entri selengkapnya »


Subsidence, Turunnya Muka Tanah

14 April 2013
Tanah

Penurunan Permukaan Tanah

Mencoba membagikan tulisan dan semoga bermanfaat, kali ini cerpenist ingin mensharing tentang penurunan muka air tanah yang sering kali terjadi di beberapa kota besar atau di sejumlah daerah. Tulisan ini saya sumberkan dari beberapa tulisan ilmiah yang saya ambil dari beberapa tempat untuk penguatan referensi tulisan ini.

Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah ini di akibatkan oleh banyak hal seperti pembebanan di atas permukaan, hilangnya air tanah akibat eksploitasi berlebihan, gempa yang mengakibatkan rusaknya struktur tanah,  ketidakstabilan bidang tanah akibat proses tertentu, dan sebagainya.

Penurunan muka tanah ini secara tidak langsung pemaksaan memadatkan struktur tanah yang belum padat menjadi padat. UMumnya terjadi pada daerah yang tadinya berupa rawa, delta, endapan banir dan sebagainya yang di alihkan fungsi tataguna lahannya tanpa melakukan rekayasa tanah terlebih dahulu

Umumnya Kota-Kota Besar di Indonesia berada pada zona limpasan dataran banjir dan Rawa

Jakarta, Semarang, Palembang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya di Indoesia mengalami permasalahan subsidence ini. memang penurunan terkadang tidak ekstrem setiap tahunnya di beberapa wilayah tetapi bukan tak mungkin bila di biarkan terus menerus akan berdampak munculnya kerugian tidak hanya material tetapi juga korban jiwa.

Fase Penurunan Muka Tanah

Contoh Fase Penurunan Muka Tanah

Menanggulangi Subsidence

Untuk melakukan penanggulangan turunnya muka tanah biasanya dilakukan beberapa tahap penelitian terhadap struktur tanah seperti daya dukung tanah, tebal dan komposisi struktur bawah permukaan, kondisi geologi, dan berbagai hal yang terkait. Cara penangulanggan pun bermacam macam berdasarkan hasil kajian dari faktor yang mempengaruhi subsidence tersebut salah satu penanggulangannya adalah memperkuat daya dukung tanah dengan cara melakukan rekayasa geoteknik seperti suntik semen, melakukan pembangunan pondasi pada struktur tanah yang tepat, melakukan pergantian tanah lunak dengan tanah yang relatif lebih kompak, memanfaatkan penggunaan air tanah seperlunya tanpa melakukan eksploitasi berlebihan. Baca entri selengkapnya »


Mengenal Lebih Dekat Tentang Delta Mahakam

24 Oktober 2012
Delta Mahakam

Delta Mahakam (wikimapia.org)

Delta Mahakam merupakan salah satu contoh wilayah interaksi antara air tawar (fresswater) dari darat dan salinitas dari Selat Makassar yang dibawa oleh tenaga pasut saat pasang. Sungai Mahakam adalah salah satu sungai terbesar di Indonesia yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Bahan dasar dari daratan berupa bahan padat atau cair yang dibawa oleh air hujan melalui sungai dan seterusnya ke muara atau ke perairan pantai berasal dari lokasi yang lebih tinggi. Berdasarkan pengamatan megaskopis, sedimen permukaan daerah Delta Mahakam terdiri atas lempung, lempung pasiran, pasir lempungan, lumpur pasiran, pasir, lumpur dan kerikil (Ranawijaya,dkk.2000).

Sebaran Litologi Sedimen Delta Mahakam

Persebaran material sedimen Delta Mahakam (Ranawijaya dkk,2000)

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai, Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen. Stratigrafi paparan berumur Kuarter di mana Sungai Mahakam berprogradasi menunjukan dominasi perulangan sedimen karbonat paparan dan endapan delta silisiklastik sebagai respon dari adanya perubahan muka air laut. Endapan paparan ini telah dipengaruhi oleh arus laut yang kuat dari Selat Makassar berarah utara-selatan. Roberts (2001) menunjukan bahwa sedimen prodelta Holosen Delta Mahakam telah dibatasi menjadi paparan bagian dalam (inner shelf) di sektor bagian utara, sedangkan di sektor bagian tengah merupakan delta front namun dibelokan ke arah selatan membentuk massa fasies prodelta yang luas. Paparan bagian tengah-luar didominasi oleh topografi tanggul, berupa individu bioherm (Halimeda) dan agregat.

Penelitian Crumeyrolle dan Renaud (2003) menunjukan adanya relif tanggul di lepas pantai Delta Mahakam yang terkadang membentuk bidang erosi dengan topografi yang bervariasi antara 10 – 30 m (rata-rata 20 m). Tanggultanggul (diapirism) ini membentuk Halimeda lumpur terigenik yang kaya akan biota laut dan hidup pada permukaan transgresif perairan yang jernih. Bioherm (Halimeda) paparan bagian dalam secara perlahan terkubur oleh sedimen Delta Mahakam kala Holosen. Di bawah permukaan transgresif Plistosen-Holosen, endapan sedimen menandakan tahapan masa sistem susut laut yang terdiri dari jaringan fluvial, isian gerusan lembah alluvium (channel fill), dataran delta agradasi dan endapan paparan serta kipas delta progradasi.

Tatanan Tektonik Daerah Mahakam

Tatanan tektonik cekungan kutai dapat diringkas sebagai berikut (Gambar 3.1.2).
• Awal Synrift (Paleosen ke Awal Eosen): Sedimen tahap ini terdiri dari sedimen aluvial mengisi topografi NE-SW dan NNE-SSW hasil dari trend rifting di Cekungan Kutai darat. Mereka menimpa di atas basemen kompresi Kapur akhir sampai awal Tersier berupa laut dalam sekuen.
• Akhir Synrift (Tengah sampai Akhir Eosen): Selama periode ini, sebuah transgresi besar terjadi di Cekungan Kutai, sebagian terkait dengan rifting di Selat Makassar, dan terakumulasinya shale bathial sisipan sand.
• Awal Postrift (Oligosen ke Awal Miosen): Selama periode ini, kondisi bathial terus mendominasi dan beberapa ribu meter didominasi oleh akumulasi shale. Di daerah structural shallow area platform karbonat berkembang
• Akhir Postrift (Miosen Tengah ke Kuarter): Dari Miosen Tengah dan seterusnya sequence delta prograded secara major berkembang terus ke laut dalam Selat Makassar, membentuk sequence Delta Mahakam, yang merupakan bagian utama pembawa hidrokarbon pada cekungan. Berbagai jenis pengendapan delta on – dan offshore berkembang pada formasi Balikpapan dan Kampungbaru, termasuk juga fasies slope laut dalam dan fasies dasar cekungan. Dan juga hadir batuan induk dan reservoir yang sangat baik dengan interbedded sealing shale. Setelah periode ini, proses erosi ulang sangat besar terjadi pada bagian sekuen Kutai synrift.

Tektonik Delta Mahakam

Tektonik Delta Mahakam

Baca entri selengkapnya »


Batubara –> Mengenal Lebih dekat CBM

9 Oktober 2012

Coal bed Methana menjadi wacana baru, tentunya akan semakin menarik, hal ini tak lepas dengan potensi batubara yang ada di negeri ini saat ini. Pengembangan keilmuan tentang Coal Bed Methana mulai menarik para investor asing untuk berlomba menemukan energi yang akan menjadi fenomena baru tentunya.

Cleat Batubara

Gas yang tersimpan didalam Celah batubara

Coal bed methana, sesuai dengan namanya mempunyai potensi CH4 dan potensi tersebut mempunyai manfaat yang besar tentunya untuk pengemabangan energi selanjutnya. Sejumlah formasi di Indonesia merupakan penghasil batubara yang bagus seperti Formasi Muara enim, Formasi Tanjung, Formasi Balikpapan, Formasi Lahat, dan beberapa formasi lainnya. Pengolahan produksi gas batubara ini relatif lebih hijau daripada penambangan batubara itu sendiri.

Lingkungan Pengendapan
Lalu di mana saja batubara itu terbentuk? secara esensi batubara berasal dari tumbuhan yang kemudian terendapkan dengan proses burial dan pressure sehingga membentuk batubara (Itu mungkin teori yang mudahnya). Batubara umumnya di temukan pada daerah lingkungan pengendapan flood plain, ox bow lake, delta plain delta front, lacustrine, lagoon, zona zona creveasse play, dan beberapa daerah lainnya. tetapi hal ini akan bergantung pada sumber nya, apabila keterdapatan sumber pohon pohon besar, relatif akan membentuk batubara yang cukup tebal. Sedangkan pada daerah delta front akan di tumbuhi tumbuhan yang relatif lebih kecil daripada daerah sungai

http://earthonlinemedia.com/ipg/images/lithosphere/fluvial/alluvial_stream.jpg

Lingkungan Pengendapan Sungai

 

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.

Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Tabel 1

Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara

(Diesel, 1992)

Environment Subenvironment Coal Characteristics
Gravelly braid plain Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur
Sandy braid plain Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur
Alluvial valley and upper delta plain channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur
Lower delta plain Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur
Backbarrier strand plain Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur 

regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur

Estuary channels, tidal flats, fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dandelta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998). Baca entri selengkapnya »


Mengenal Pengertian PSC (Production Sharing Contract)

3 Desember 2011
Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

Mengenal Lebih Jauh Production Sharing Contract

PSC, atau Production Sharing Contract, adalah mekanisme kerjasama pengelolaan migas antara Pemerintah dan kontraktor. Sistem ini diperkenalkan oleh Ibnu Sutowo pertama kali pada tahun 1960, namun baru benar-benar diterapkan pada tahun 1964. Konon, model PSC ini telah ditiru lebih dari 72 negara di dunia, yang tersebar di benua Afrika Utara, Asia, Timur Tangah, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Dan Sejarah berkembangnya PSC ini kita bagi kedalam beberapa generasi, Sumber ini saya dapatkan dari mailing list IAGI yang ditulis oleh Pak Sunjaya (BP Migas)  dimana generasi generasi tersebut sebagai berikut;

Generasi pertama (1960 – 1976):

  • Produksi minyakd an gas bumi setiap tahun dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
  • 40% pertama disebut sebagai cost oil yang dialokasikan untuk pengembalian biaya eksplorasi dan eksploitasi. (Ceiling Cost Recovery)
  • 60% sisanya disebut sebagai profit oil atau equity oil yang dibagi:
  •  65% untuk PERMINA dan 35% untuk Kontraktor untuk produksi 75 ribu BOPD
  • 67.5% % Pertamina, 32 % % Kontraktor untuk produksi antara 75.000 sid 200.000 per hari:
  • 70 % Pertamina, 30 % Kontraktor untuk produksi di atas 200.000 barrel per hari.
  • Jangka Waktu eksplorasi selama 6 Tahun, dan dapat diperpanjang 2 kali (masing-masing 2 tahun)
  • Pajak Sebesar 56% dan tidak dibedakan antara pajak coorporate dan dividen.
  • Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor.
  • DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.
  • Generasi kedua (1976 – 1988):

    Dalam usahanya pemerintah meningkatkan keuntungan, pemerintah berusaha untuk mengganti model yang sebelumnya memberikan dua level bagi hasil dihapuskan dan menjadi satu bagi hasil sebesar 85:15 (70:30 untuk gas) bagi Pertamina. Perkecualian untuk Rokan PSC di mana bagi hasilnya 88:12 untuk Pertamina.

    Baca entri selengkapnya »