Geologi Regional Jawa Barat

5 Oktober 2011
Pola Umum struktur Jawa Barat

Pola Umum struktur Jawa Barat

GEOLOGI REGIONAL JAWA BARAT

Pulau Jawa terletak di bagian selatan dari Paparan Sunda dan terbentuk dari batuan yang berasosiasi dengan suatu aktif margin dari lempeng yang konvergen. Pulau tersebut terdiri dari komplek busur pluton-vulkanik, accretionary prism, zona subduksi, dan batuan sedimen.

Pada Zaman Kapur, Paparan Sunda yang merupakan bagian tenggara dari Lempeng Eurasia mengalami konvergensi dengan Lempeng Pasifik.  Kedua lempeng ini saling bertumbukan yang mengakibatkan Lempeng Samudra menunjam di bawah Lempeng Benua. Zona tumbukan (subduction zone) membentuk suatu sistem palung busur yang aktif (arc trench system). Di dalam palung ini terakumulasi berbagai jenis batuan yang terdiri atas batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku berkomposisi basa hingga ultra basa (ofiolit). Percampuran berbagai jenis batuan di dalam palung ini dikenal sebagai batuan bancuh (batuan campur-aduk) atau batuan melange. Singkapan batuan melange dari paleosubduksi ini dapat dilihat di Ciletuh (Sukabumi, Jawa Barat), Karangsambung (Kebumen, Jawa Tengah), dan Pegunungan Jiwo di Bayat (Yogyakarta). Batuan tersebut  berumur Kapur dan merupakan salah satu batuan tertua di Jawa yang dapat diamati secara langsung karena tersingkap di permukaan.

 FISIOGRAFI REGIONAL

Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang satu sama lain dapat dibedakan berdasarkan morfologi, petrologi, dan struktur geologinya. Van Bemmelen (1949), membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi, masing-masing dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan

Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang barat-timur mulai dari Serang, Jakarta, Subang, Indramayu, hingga Cirebon. Daerah ini bermorfologi dataran dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi muda.

Zona Bogor terletak di sebelah selatan Zona Dataran Pantai Jakarta, membentang mulai dari Tangerang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Majalengka, dan Kuningan. Zona Bogor umumnya bermorfologi  perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar maksimum sekitar 40 km. Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan beku baik intrusif maupun ekstrusif. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku intrusif, seperti yang ditemukan di Komplek Pegunungan Sanggabuana, Purwakarta.  Van Bemmelen (1949), menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium kuat yang disertai oleh pensesaran.

Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona Bogor, memiliki lebar antara 20 km hingga 40 km,  membentang mulai dari Pelabuhanratu, menerus ke timur melalui Cianjur, Bandung hingga Kuningan. Sebagian besar Zona Bandung bermorfologi perbukitan curam yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Van Bemmelen (1949) menamakan lembah tersebut sebagai depresi di antara gunung yang prosesnya diakibatkan oleh tektonik (intermontane depression).  Batuan penyusun di dalam zona ini terdiri atas batuan sedimen berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter. Akibat tektonik yang kuat, batuan tersebut  membentuk struktur lipatan besar yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung merupakan puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (van Bemmelen, 1949).

Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. Pannekoek (1946) menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di Lembah Cimandiri, Sukabumi. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang merupakan bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (plateau) Zona Pegunungan Selatan. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini, oleh Pannekoek (1946) dinamakan sebagai Plateau Jampang.

2.1.3       TEKTONIK REGIONAL

Lempeng Paparan Sunda dibatasi oleh kerak samudra di selatan dan pusat pemekaran kerak samudra di timur. Bagian barat dibatasi oleh kerak benua dan di bagian selatan dibatasi oleh batas pertemuan kerak samudra dan benua berumur kapur (ditandai adanya Komplek Melange Ciletuh) dan telah tersingkap sejak umur Tersier. Sejak awal tersier (Oligosen akhir), kerak samudra secara umum telah miring ke arah utara dan tersubduksi di bawah Dataran Sunda (Hamilton, 1979).

Tektonik kompresi dan ekstensi dihasilkan oleh gaya tekan pergerakan Lempeng Indo-Australia dan putaran Kalimantan ke utara, membentuk rift dan half-graben sepanjang batas selatan Lempeng Paparan Sunda pada Eosen-Oligosen (Hall, 1977). Karakter struktur di daratan terdiri dari perulangan struktur cekungan dan tinggian, dari barat ke timur yaitu Tinggian Tangerang, Rendahan Ciputat, Tinggian Rengasdengklok, Rendahan Pasir Putih, Tinggian dan Horst Pamanukan-Kandanghaur, Rendahan Jatibarang dan Rendahan Cirebon . Pola struktur batuan dasar di lepas pantai merupakan pola struktur yang sama pada Cekungan Sunda, Cekungan Asri, Seribu Platform, Cekungan Arjuna, Tinggian F, Cekungan Vera, Eastern Shelf, Cekungan Biliton, Busur Karimun Jawa dan Bawean Trough. Beberapa bukti menunjukan adanya gabungan antara asymmetrical sag dan half graben pada tektonik awal pembentukan cekungan di daerah Jawa Barat Utara.

STRUKTUR REGIONAL

Di daerah Jawa Barat terdapat banyak pola kelurusan bentang alam yang diduga merupakan hasil proses pensesaran. Jalur sesar tersebut umumnya berarah barat-timur, utara-selatan, timurlaut-baratdaya, dan baratlaut-tenggara. Secara regional, struktur sesar berarah timurlaut-baratdaya dikelompokkan sebagai Pola Meratus, sesar berarah utara-selatan dikelompokkan sebagai Pola Sunda, dan sesar berarah barat-timur dikelompokkan sebagai Pola Jawa. Struktur sesar dengan arah barat-timur umumnya berjenis sesar naik, sedangkan struktur sesar dengan arah lainnya berupa sesar mendatar. Sesar normal umum terjadi dengan arah bervariasi.

Dari sekian banyak struktur sesar yang berkembang di Jawa Barat, ada tiga struktur regional yang memegang peranan penting, yaitu Sesar Cimandiri,  Sesar Baribis, dan Sesar Lembang. Ketiga sesar tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh van Bemmelen (1949) dan diduga ketiganya masih aktif hingga sekarang.

Baca entri selengkapnya »


Proses Pembentukan endapan Mineral

12 Agustus 2010

lingkungan

Mineral hmm.....

Kali ini bang cerpenist mau ndikit bagi ilmu lagi, bukan sembarang ilmu kali ini mau nyerpenkan pengetahuan tentang pembentukan endapan mineral. Sebagai bangsa yang besar seyogyanya kita harus bangga akan poteni mineral di Indonesia nah supaya tak terbutakan oleh bangsa bangsa lain, penulis mau bagi bagi cerita “en” ilmu.

———————————————————————————————-

Proses Pembentukan Endapan Mineral

Proses pembentukan endapan mineral dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu proses internal atau endogen dan proses eksternal atau eksogen.

Endapan mineral yang berasal dari kegiatan magma atau dipengaruhi oleh faktor endogen disebut dengan endapan mineral primer. Sedangkan endapan endapan mineral yang dipengaruhi faktor eksogen seperti proses weathering, inorganic sedimentasion, dan organic sedimentation disebut dengan endapan sekunder, membentuk endapan plaser, residual, supergene enrichment, evaporasi/presipitasi, mineral-energi (minyak&gas bumi dan batubara dan gambut).

Proses internal atau endogen pembentukan endapan mineral yaitu meliputi:

1.    Kristalisasi dan segregrasi magma: Kristalisasi magma merupakan proses utama dari pembentukan batuan vulkanik dan plutonik.

2.    Hydrothermal: Larutan hydrothermal ini dipercaya sebagai salah satu fluida pembawa bijih utama yang kemudian terendapkan dalam beberapa fase dan tipe endapan.

3. Lateral secretion: erupakan proses dari pembentukan lensa-lensa dan urat kuarsa pada batuan metamorf.

4.    Metamorphic Processes: umumnya merupakan hasil dari contact dan regional metamorphism.

5.    Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative); Exhalations dari larutan hydrothermal pada permukaan, yang terjadi pada kondisi bawah permukaan air laut dan umumnya menghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform.

Proses eksternal atau eksogen pembentukan endapan mineral yaitu meliputi:

1. Mechanical Accumulation; Konsentrasi dari mineral berat dan lepas menjadi endapan placer (placer deposit).

2.    Sedimentary precipitates; Presipitasi elemen-elemen tertentu pada lingkungan tertentu, dengan atau tanpa bantuan organisme biologi.

3.    Residual processes: Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu pada batuan meninggalkan konsentrasi elemen-elemen yang tidak mobile dalam material sisa.

4.         Secondary or supergene enrichment; Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi pada kedalaman menghasilkan endapan dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

Baca entri selengkapnya »


TEKNIK GEOLOGI UNDIP DAPAT GEDUNG BARU

22 Juni 2010

Gedung Lama di Lantai 2 Geologi UNDIP tinggal

” Alhamdulillah ternyata tanggal 21 Juni 2010 Teknik Geologi dapat bantuan Gedung Pengajaran dari PT PERTAMINA “. Tapi sayang Ane gak bisa datang waktu peletakan batu pertama yang dilakukan oleh PT PERTAMINA

                   Akhirnya MoU itu terlaksana juga cink, jurusanku yang selama ini menumpang kuliah bersama sama dengan teman teman Geodesi dan perkapalan, dapat bantuan Gedung dari PT Pertamina. Jadi keinget dulu kalau kuliah pastri berebut menggunakan sebuah ruang kramat bernomor B. 203 ruang sejuta umat karena selalu diperebutkan. Tidak mengenal itu praktikum atau kuliah yang penting berebut di ruang yang termasuk relatif nyaman di Gedung Kuliah Bersama Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

              ” Sekarang Beta gak khawatir bila besok besok ada perebutan tahta untuk kuliah dan sumpek sumpekkan karena sekarang beta dah dapat rumah baru, beta senang. Mungkin itulah logat orang Ambon kalau dapat Sebuah Gedung Baru”. Jadi keingat salah satu tulisan Pak Andang Bachtiar mantan ketua IAGI dan skarang sedang aktif di konsultan yang mengatakan perlunya CSR-CSR untuk mengembangkan kapasitas mahasiswa yang berprestasi, bukan untuk apa apa tapi untuk sumbangsih negeri. Emang ada benarnya , kalau kita terus berpatokan terhadap jumlah produksi Migas di Indonesia tanpa diiringi pembuatan bibit Explorer Geologist yang handal, bukan tidak mungkin jumlah cekungan 126 Hidrokarbon itu cuman riset tanpa ada tindak lanjut.

Baca entri selengkapnya »


Klasifikasi Sistem Panasbumi

25 Mei 2010

Akhirnya setelah beberapa hari meninggalkan kota Semarang, karena begitu banyaknya agenda, saya dapat membuat cerita pendek lagi, kali ini saya akan buat cerita pendek mengenai bKlasifikasi Sistem Panasbumi. Mengapa saya ambil tema panasbumi, karena sebagai geologist yang cinta bangsa saya perlu membagikan cerita pendek ini agar para pembaca dapat tahu apa itu Panasbumi atau istilah palembangnya “GEOTHERMAL” . Energy hijau yang saat ini tengah didukung pemerintah untuk terus dikembangkan karena potensi yang lumayan besar.

Lalu seberapa besar Potensi GEOTHERMAL yang kita miliki, dibawah ini saya ambil dari blognya Dongeng Geologi

Potensi Geothermal Indonesia

dan dari data diatas hanya sebagian saja yang diolah, Hmmm dan jangan kaget bahwa potensi panasbumi Indonesia adalah potensi panasbumi yang terbesar di Dunia. Tapi masalah kendala keuangan yang buat negara ini enggan mengembangkan energi sejak dahulu padahal Negara Filipina dan Selandia baru kini menggantungkan energi listriknya pada energi yang ramah lingkungan ini.

Baca entri selengkapnya »


Model Lingkungan Pengendapan Karbonat

5 Mei 2010

Dalam tulisan ini saya mau nyerpenin asal muasal beberapa pengendapan Batuan Karbonat. Menurut mbah Tucker tahun 1985 dijelaskan bahwa endapan karbonat pada  laut dangkal terbentuk pada 3 macam lokasi yaitu Platform, shelf, dan ramps

Tipe Endapan Karbonat pada Laut Dangkal

Fasies karbonat ramp merupakan suatu tubuh karbonat yang sangat besar yang dibangun pada daerah yang positif hingga ke daerah paleoslope, mempunyai kemiringan yang tidak signifikan, serta penyebaran yang luas dan sama. Pada fasies ini energi transportasi yang besar dan dibatasi dengan pantai atau inter tidal

Sedangkan Fasies karbonat platform merupakan suatu tubuh fasies karbonat yang sangat besar dmana pada bagian atas lebih kurang horisontal dan berbatasan langsung dengan shelf margin. Sedimen sedimen terbentuk dengan energi yang tinggi.

Fasies fasies tersebut sangat dipengaruhi oleh mekanisme pengendapan antara lain;
1. Progradasi pada Tidal Flat
2. Progradasi pada tepi paparan
3. Akresi vertikal pada endapan karbonat “sub tidal”
4. Migrasi dari sand bodies karbonat
5. proses pengendapan kembali

Baca entri selengkapnya »


Gunung Api Purba Di Wilayah Selatan YogYa

26 Maret 2010

Gunung Api Purba Yogyakarta

Gunung Api Purba Yogyakarta

Mencermati tulisan diatas tentunya sangat mengherankan, Bagaimana bisa terjadi??? banyak kalangan menganggap bahwa daerah selatan Yogya itu adalah daerah permukaan laut yang terangkat ke permukaan dan banyak mengandung material karbonatan atau batuan Gamping. Tapi dari hasil seminar Simposium Pengda IAGI Jateng yang dilaksanakan tanggal 23 Maret 2010 di ISTA Akprind, Ahli Volkanologi yang juga orang Geologi, Pak Sutikno Broto (Pusat Survei Geologi) menepis keraguan itu dan mengatakan bahwa dahulunya daerah selatan jogja dulunya ketika masa Oligo Miosen merupakan daerah busur Gunung api, dengan ditunjukkan beberapa data penunjukkan fenomena Gunung Api Purba mulai dari Pillow Lava disekitar Kali Opak sampai penampakan batu Pumice di sekitar selatan Jogja, yang menandakan dulu terjadi aktivitas Volkanik di Selatan Jogja… Baca entri selengkapnya »


PEMANFAATAN PEMETAAAN AIRTANAH SEBAGAI REKOMENDASI DAERAH KONSERVASI DAN POTENSI AIRTANAH, STUDI KASUS PADA KECAMATAN CANDISARI, KOTA SEMARANG,JAWA TENGAH

22 Maret 2010

Abstract

Air merupakan salah satu unsur vital yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya. Terlebih lagi untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengelolaan yang baik untuk menjaga kelestarian air yang merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Berdasarkan keterdapatannya, air dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu air permukaan dan air bawah permukaan. Air permukaan dapat dijumpai di sungai, bendungan, mataair, parit / selokan, dan lain-lain. Sedangkan air bawah tanah yang sering disebut dengan airtanah (groundwater) terdapat pada suatu lapisan batuan (formasi / bagian formasi) yang merupakan zona jenuh air yang dapat menyimpan dan melalukan air yang disebut dengan akuifer.

Lapisan akuifer tersebut merupakan lapisan batuan yang bersifat porous dan permeabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sebaran airtanah dan

volumenya serta hubungan antara airtanah dan air permukaan. Penelitian ini melihat

tatanan sistem akuifer yang ada diwilayah tersebut pada tahun 2008 untuk selanjutnya dapat melihat daerah potensi airtanah dengan tingkat kerawanan dengan melihat kedalaman, dan jumlah akuifer yang ada pada beberapa objek sumurgali di Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Metode penyelidikan ini menggunakan metode pengamatan pada beberapa sumur gali sebagai objek pengamatan yang kemudian dibuat peta sebaran aliran airtanah dan peta potensi airtanah secara kecamatan. Dari hasil analisa yang ada kami membagi wilayah penelitian menjadi 4 daerah potensi airtanah.

Keyword : Airtanah, Akuifer, Sumur Gali, Pemetaan, Peta Potensi Airtanah


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya