Geo-Exploration Itu Asyik

28 Oktober 2013

Semoga saja tulisan ini belum kadaluarsa . . .  .
Sehingga belum terlalu basi juga untuk di konsumsi. Lama Tampaknya saya tak menulis blog semenjak hilir mudik jadi petugas administrasi di sebuah perusahaan. Dan semoga ke Administrasian ini segera berakhir.

Tapi sebelum melanjutkan nge Blog, saya mau Ngucapin dulu terima kasih kepada rekan rekan panitia Student Chapter AAPG – Universitas Sriwijaya, yang mau saya repotkan beberapa hari yang lalu. Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Universitas Sriwijaya.

Ya ini bermula saya lahir di Palembang (lo hubungannya sama Unsri???) eitss sabar dulu, Universitas Sriwijaya itu adalah salah satu Universitas yang gue impikan dahulu, jauh sebelum gue berpetualang di Pesisir Utara dan sampailah di Universitas DIponegoro (Lalu apa hubungannya lagi!!) , Oke gue jawaban hubungannya adalah ketidak selarasan antara Palembang – Lampung – Brebes – Magelang – Semarang – Jakarta dan back to Palembang.

Di Depan Student Center UNSRI

Di Depan Student Center UNSRI

One Day Course

Sebenarnya sudah lama banget ingin berkunjung ke rekan rekan universitas sriwijaya dan alhamdulillah tanggal 5 Oktober 2013 kemarin semuanya sedang di permudahkan meskipun suara serak serak basah tapi semangat berbagi tetap ada. Aplaus tetap saya berikan kepada para panitia dan para peserta. Dengan segala keterbatasan mereka mampu hadir di luar batas. Universitas Sriwijaya, kampusnya di bagi menjadi beberapa tempat (itu kalau tak salah) satu di Kota Palembang dan Satu di Inderalaya, kampusnya lumayan besar dan hijau. terus terang saya kagum dengan kampus ini , tetapi sayangnya aktivitas pembelajaran di kampus ini seakan sepi , melompong bahkan berbalik dengan aktivitas di hari biasanya.

Flyer Pengumuman

Flyer Pengumuman One Day Course

Nah gambar di atas adalah flyer saat saya ngisi di sana. Alhamdulillah ada banyak peserta yang hadir tidak hanya geophysicist tetapi juga ada anak tambang dan geologi dari Universitas Sriwijaya. Dan di mulailah hari sabtu itu dengan berbagai macam aktivitas untuk belajar bareng dan mengenalkan secara umum bagaimana Industri Migas tersebut. Baca entri selengkapnya »


Menelisik Tentang Jakarta Tenggelam : Over Populasi

13 September 2013

Pernahkah terpikir bahwa Jakarta suatu saat akan tenggelam karena kelebihan populasi masyarakatnya, Isu tentang jakarta tenggelam, sudah menjadi rahasia umum para peneliti saat ini terkait sedikitnya ruang terbuka Hijau yang Jakarta punya sebagai zona resapan. Pembangunan yang mengedepankan infrastruktur dan modernisasi dan melupakan kaidah tata ruang lingkungan dan kota menyebabkan masalah banjir adalah masalah utama tentunya setelah masalah Kemacetan yang selalu menghantui Jakarta.

Kondisi Jakarta 1972 - 2005

Kondisi Jakarta 1972 – 2005

Dari gambar diatas adalah perkembangan tata guna lahan di Jakarta dimana warna Hijau di daerah Jakarta yang merupakan daerah resapan sudah tak tampak lagi. Kawan hijau inilah yang menjadi faktor penting Jakarta jikalau tidak inggin tenggelam di waktu yang akan datang. Selain itu zona bakau dan kawasan Pantai saat ini sudah terpenuhi oleh infrastruktur dan bangunan modern. berikut data populasi untuk daerah sekitar jabodetabek

Jumlah Populasi Masyarakat Jakarta

Jumlah Populasi Masyarakat Jakarta

Data diatas menunjukan jumlah yang signifikan perkembangan penduduk di Jakarta, sehingga bukan tak mungkin masalah tata kota harus di sadarin betul apalagi Isu tentang menghangatnya Planet Bumi ini. Secara geologi Jakarta merupakan kawasan Delta yang notabene dan takdirnya memang daerah limpahan ir permukan dari daerah yang lebih tinggi. Menurut Herman Mochtar dalam kajiannya “Runtutan Tataan Stratigrafi Sebagai Indikator proses penurunan (Subsidences) (studi kasus sehubungan tektonik versus amblesan jakarta)” menunjukan tentang kondisi bawah permukaan jakarta sebagai berikut

Kondisi Stratigrafi Daerah Jakarta

Kondisi Stratigrafi Daerah Jakarta (Herman Moechtar, 2012)

Endapan tersebut menunjukan limpasan sedimentasi sungai dan aliran permukaan yang membentuk wilayah Jakarta saat ini, dimana sedimentasi yang ada bersifat quarter (berumur muda0 sehingga sangat mudah labil apabila terjadi pembebanan berlebih di bagian atasnya. untuk faktor faktor tersebut perlu dilakukan penataan dan pembukaan wilayah hijau untuk mengurangi dampak suhu yang semakin panas.


Berhenti Jadi Geologist (Pikiran Gila Hari Ini)

4 September 2013

Pernah gak terpikir untuk berhenti berkerja kemudian mencoba berwira usaha???

Berhenti Jadi Geologist

Berhenti Jadi Geologist

Ya sampai sekarang masih kepikiran seperti itu, cuman gak pernah nyampe nyampe, di tiap akhir pekan yang pertama kali di lakukan ketika malam sabtu adalah berpikir Tahun 2014 gue harus buka usaha, dan di akhir pekan itulah sering kali kalau malam sabtu saya habiskan di Gramedia untuk sekedar iseng baca buku yang memotivasi untuk berwira usaha. Beberapa minggu ini selalu di sibukkan dengan bertemu orang yang super dimana menurut saya, orang tersebut lebih cerdas dan kreatif di banding saya, ada yang masih usia 30 an tapi hartanya sudah berjibun, ada juga anak pengusaha yang cara bisnisnya nularin bapaknya, sampe mantan pensiunan pejabat Pertamina yang sudah renta masih ke sana kemari , sebagai advisor dengan gaji yang bejibun.

Tapi terkadang semuanya sirna kalau sudah baca tulisan maut yang di sebarkan oleh Pak Awang Harun Satyana, kalau sudah bahas geologi, masih berasa anak kerdil yang harus banyak ngebaca, atau kalau buka twitter dan facebook membaca status pujangga khas Andang Bachtiar, Suuupeeerrr, berasa gak pengen berhenti jadi geologist. Karena sampai sekarang sulit gue temukan anak anak muda yang benar benar pahamii Ilmu, yang ada meresapi berapa penghasilan yang iya dapat. dan sekarang sepertinya saya sedang kena syndrome khas anak muda sekarang yaitu penghasilan.

Di tambah sekarang berada di posisi yang nyaman (just while time), kadang iming iming untuk buka usaha sirna gitu aja, Oh my God, saya butuh sesuatu yang meyakinkan saya, minimal untuk berhenti berkerja dan kembali kuliah . . . . . . . Cuman tulisan iseng di tengah ke Galauan . . . . .


Mencari Teroris Itu Mudah, Mencari Pembocor Pipa Minyak ????

30 Juli 2013
Pertamina Merugi Akibat Pencurian Minyak (http://jaringnews.com/ekonomi/sektor-riil/45736/)

Pertamina Merugi Akibat Pencurian Minyak (http://jaringnews.com/ekonomi/sektor-riil/45736/)

Ada cerita lucu yang didapat hari ini tentang kebocoran minyak yang merugikan negara hampir 209 Miliar , bayangkan kebocoran minyak di pipa penyaluran minyak dari Tempinas menuju Plaju. Sebenarnya ini sudah menjadi berita yang umum tentang kebocoran ini. Apalagi bagi masyarakat sekitar, tetapi setelah issue ini menasional, semua seperti terkejut. Saling menyalahkan sudah pasti, bahkan di yakini saja issue ini hanya jadi angin lalu yang siap berhembus dan menghilang.

Tapi anehnya ternyata lebih mudah menangkap pelaku teroris (meskipun hanya dugaan) daripada menangkap para backing di balik kebocoran minyak tersebut. Sebutlah sejumlah pelaku teroris yang sangat mudah di tangkap sebut saja Amrozi, Imam Samudera, Hambali, dan lain-lain lalu bagaimana dengan pencuri minyak, nyaris tak terdengar…. sepertinya butuh koreksi cukup waktu untuk masalah tersebut


Hari Ini Produksi Minyak Indonesia “Mungkin” 2 Juta Barel Per Day

4 Juni 2013
Sumur Tua Riwayatmu Kini (http://solopos.com)

Sumur Tua Riwayatmu Kini (http://solopos.com)

benarkah produksi minyak indonesia mencapai 2 juta BOPD saat ini?? pasti sebuah tanda tanya besar, tentang hal tersebut. Padahal Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi minyak di kuartal pertama 2013 ini sudah mencapai 830.900 BOPD (sumber : Republika.co.id), tapi kenyataannya produksi tersebut belum tercapai, padahal negara ini dahulu merupakan negara pengekspor minyak dan gas bumi.

Lalu kenapa produksi kita hanya mencapai 850 ribu BOPD, jawabanya mungkin bisa sebagai berikut;

1. Produksi Sumur Tua

Belanda selain menjajah indonesia melalui kekayaan alam seperti rempah rempah, ternyata juga telah lama melakukan penjelajahan untuk menguras minyak Indonesia, mungkin ada ribuan sumur belanda semenjak NKPM (Perusahaan minyak belanda saat itu) masuk ke wilayah nusantara saat ini.Nasib sumur sumur tua yang terurus ini sekarang terbengkalai bahkan sudah tak jelas lagi keberadaan sumur sumur tersebut. Padahal apabila bisa dilakukan optimasi lahan, mungkin sumur sumur tersebut sudah bisa ikut membantu memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi produksi nasional.

2. Melakukan Rekayasa Petroleum (EOR) Di Sejumlah Sumur produksi

Peningkatan produksi di beberapa lapangan margin yang hampir koma bahkan sudah tidak di produksikan lagi akibat water cut yang cukup tinggi, secepatnya harus di kaji dan dilakukan beberapa skenario peningkatan produksi pada reservoir sumur sumur tersebut ukan tak mungkin sumur-sumur tersebut masih bisa di optimalisasikan produksi cadangan sisa yang masih tersimpan di reservoir atau di kisaran source rocknya. Sehingga lapangan margin yang dahulu punya prospek bagus dapat hidup kembali untuk menunjang produksi migas nasional

3. Eksplorasi di Beberapa wilayah yang punya potensi migas Indonesia

Sudah rahasia umum jikalau pemerintah ini ingin menghasilkan sesuatu yang instant, padahal di dalam menemukan cadangan migas butuh waktu bertahun tahun untuk melakukan kajian teknisnya. Selama ini fokus produksi migas hanya beberapa titik saja dan melupakan wilayah lainnya yang secara geologi juga mempunyai potensi migas namun belum di kelola secara optimal oleh pemerintah. Dan pada akhirnya hanya seperti jalan di tempat saja eksplorasi wilayah tersebut.

4. Ekspansi ke Negara Asing atau Cekungan Hidrokarbon di Negara Lain

Negara tetangga kita seperti singapura, Malaysia, dan Thailand yang secara wilayah dan geografi tidak mempunyai banyak cekungan ternyata melakukan ekspansi ke luar negara untuk menambah pundi ekonomi dan cadangan migasnya, selama ini Pertamina sebagai BUMN perminyakan semestinya punya kemampuan menjelajah yang lebih baik tentunya di tambah pengalaman pertamina di bidang migas tentunya sudah lebih banyak dari BUMN migas negara tetangga, mampu melakukan ekspansi ini ke berbagai cekungan di beberapa negara dan cekungan seperti di area teluk Thailand, Australia, Irak, dan sebagainya. Sayangnya pemerintah tidak pernah memberikan dukungan penuh kepada Pertamina.

Masih banyak kendala lainnya tentunya selain kendala Teknis, tetapi juga masalah non Teknis yang sering di jumpai dan sudah jadi rahasia umum begitu kompleksnya permasalahan Migas di Indoneisa


Sebuah Catatan ; Fieldtrip IAGI-FGMI-MGEI Gunung Padang

14 Mei 2013
Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Gunung padang, sudah memberikan candu kepada semua peneliti untuk menelususri kebenarannya, dari sebuah batuan yang teronggok menumpuk, kini Gunung Padang mulai mendunia, tumpukan batuan itu mulai di tanyakan asal usulnya, dan bagaimana ia terbuat. Penelitian +/- 2 Tahun yang lalu yang dimulai oleh tim riset mandiri yang di pimpin oleh Dr. Danny Hilman, salah seorang pakar kegempaan yang dimiliki Indonesia saat ini

Sejak itulah warga mulai ramai mengunjungi Gunung padang, ada yang sekedar berwisata, mencari petunjuk, sampai melakukan riset. Tidak hanya wisatawan local tetapi juga mancanegara. Dan sejak saat itulah warga di sekitar mulai membangkitkan perekonomian melalui wisata Gunung Padang. 11 Mei 2013 lalu, saya bersama rekan rekan geosaintis muda lainnya melakukan kegiatan fieldtrip Gunung Padang dimana berbagai ahli profesi tak hanya geologi, bahkan pegawai Bank, mahasiswa Geografi, dan rekan rekan awam selain geosaintis pun mengikuti kegiatan ini.

Berangkat pukul 04.30 WIB, dengan berkumpul di kisaran setiabudi Jakarta Selatan, kami berangkat menggunakan satu bis. Dari Tim yang berangkat di bandung berangkat pukul 05.00 WIB. Matahari belum benar benar terbangun, tetapi semangat para peserta melebihi hal tersebut, perjalanan pun di mulai menuju Gunung Padang. Melintasi beberapa tempat menuju Cianjur, kabupaten dimana Gunung Padang ini terdapat, kita melewati jalanan khas Cibodas-Puncak Bogor, yang berliuk liuk dengan jalanan tanpa berlubang dengan sisa sisa kabut pagi menghiasi pemandangan kiri kanan bis. Banyak peserta memulai rasa penasarannya tentang Gunung Padang, yang selama ini memenuhi email mereka membahasan tentang Gunung Padang, seakan mengingatkan ketika kuliah dahulu “Back to Basic, Look At The Rock” , untuk membuktikan hal tersebut, tidak cukup dengan kata sebelum kita melihat langsung apa yang terjadi, dan biarkan insting sebagai geologist mengintepretasikan apa yang terjadi terhadap Gunung Padang.

Perjalanan ternyata +/- 2 Jam dan kami bertemu dengan peserta fieldtrip yang berangkat dari Bandung, di sekitar Cianjur, sambil menghela nafas segar pai, yang tentunya jarang di dapatkan sesegar di sini. Dari sinilah perjalanan bersama di lakukan, perjalanan masih jauh ternyata dan jalanan tak semulus layaknya liukan perjalanan Cibodas Puncak. Jalan yang hanya muat 2 mobil umum, membuta bis peserta terkadang harus berhati-hati dan menunggu antrian untuk melewatinya, dan terkadang kami harus mengalah dengan mobil mobil kecil lainnya. Dan inilah salah satu bukti, wisata Gunung Padang, tak seperti wisata wisata lainnya, dimana aksesnya terlihat lebih mudah, tengoklah Candi Borobudur dimana jalanan lebar dan bagus kita temui mulai dari muntilan sampia parkiran Mobil Candi Borobudur, atau cobalah tengok wisata Lembang yang jalanannya selalu di suplai dan di perbaiki setiap tahunnya untuk menunjang wisata Lembang, dan ini berbeda dengan jalanan menuju Gunung Padang, sepanjang jalan kita akan menemui banyak lubang jalan menganga seperti tak terurus. Jalanan kecil dengan pinggiran jurang di sebelahnya menjadi pemandangan umum di daerah ini.


Gambar 1. Jalan rusak menuju Gunung Padang, Cianjur


Gambar 2. Jalan berbukit dimana pinggirannya berupa jurang menuju Gunung Padang.

Geologi Umum Gunung Padang

Area gunung padang berada dalam deretan gunungapi pada Cekungan Bandung, yang termasuk dalam sistem busur kepulauan Sunda. Summerfield (1999) dalam Brahmantyo (2005) merinci sistem busur kepulauan ini menjadi sistem busur ganda yang terdiri atas busur magmatik/volkanik (Pulau Jawa) yang juga disebut sebagai busur dalam (inner arc), serta busur non-volkanik yang merupakan busur luar (outer arc) yang berada di laut selatan Pulau Jawa. Daerah Gunung Padang terdapat di busur magmatik/volkanik. Berdasarkan evolusi geologi Cekungan Bandung (Pannekoek, 1946 dalam Dam, 1994), fasa tektonik yang terjadi di daerah ini adalah rezim tensional yang memotong busur volkanik, bersamaan dengan kegiatan dan pengangkatan magmatik.

Gambar 3. Busur Kepulauan Sunda (Summerfield,1999 dalam Brahmantyo, 2005)

Menurut beberapa geolog yang melakukan peneliti lebih dahulu seperti Silitonga (1973), Koesmono (1976), Koesoemadinata dan Hartono (1980), Martodjojo (1984), Sujatmiko (1972), dan Alzwar (1992). litologi daerah ini secara umum terdiri dari batuan volkanoklastik yang berumur Tersier maupun Kuarter, meskipun terdapat formasi endapan marin di bagian timurlaut dari Cekungan Bandung (Tabel 2.1). Litologi di daerah Gunung Padang sendiri terdiri dari batuan gunungapi miosen akhir Formasi Beser dan batuan gunungapi Plistosen yang kemudian melanjutkan kegiatan erupsinya di Gunung Kendeng dan Gunung Patuha. Formasi Beser sendiri adalah formasi tertua diantara formasi lainnya di Pegunungan Bandung Selatan.    

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi Daerah Bandung Baca entri selengkapnya »


Subsidence, Turunnya Muka Tanah

14 April 2013
Tanah

Penurunan Permukaan Tanah

Mencoba membagikan tulisan dan semoga bermanfaat, kali ini cerpenist ingin mensharing tentang penurunan muka air tanah yang sering kali terjadi di beberapa kota besar atau di sejumlah daerah. Tulisan ini saya sumberkan dari beberapa tulisan ilmiah yang saya ambil dari beberapa tempat untuk penguatan referensi tulisan ini.

Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah ini di akibatkan oleh banyak hal seperti pembebanan di atas permukaan, hilangnya air tanah akibat eksploitasi berlebihan, gempa yang mengakibatkan rusaknya struktur tanah,  ketidakstabilan bidang tanah akibat proses tertentu, dan sebagainya.

Penurunan muka tanah ini secara tidak langsung pemaksaan memadatkan struktur tanah yang belum padat menjadi padat. UMumnya terjadi pada daerah yang tadinya berupa rawa, delta, endapan banir dan sebagainya yang di alihkan fungsi tataguna lahannya tanpa melakukan rekayasa tanah terlebih dahulu

Umumnya Kota-Kota Besar di Indonesia berada pada zona limpasan dataran banjir dan Rawa

Jakarta, Semarang, Palembang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya di Indoesia mengalami permasalahan subsidence ini. memang penurunan terkadang tidak ekstrem setiap tahunnya di beberapa wilayah tetapi bukan tak mungkin bila di biarkan terus menerus akan berdampak munculnya kerugian tidak hanya material tetapi juga korban jiwa.

Fase Penurunan Muka Tanah

Contoh Fase Penurunan Muka Tanah

Menanggulangi Subsidence

Untuk melakukan penanggulangan turunnya muka tanah biasanya dilakukan beberapa tahap penelitian terhadap struktur tanah seperti daya dukung tanah, tebal dan komposisi struktur bawah permukaan, kondisi geologi, dan berbagai hal yang terkait. Cara penangulanggan pun bermacam macam berdasarkan hasil kajian dari faktor yang mempengaruhi subsidence tersebut salah satu penanggulangannya adalah memperkuat daya dukung tanah dengan cara melakukan rekayasa geoteknik seperti suntik semen, melakukan pembangunan pondasi pada struktur tanah yang tepat, melakukan pergantian tanah lunak dengan tanah yang relatif lebih kompak, memanfaatkan penggunaan air tanah seperlunya tanpa melakukan eksploitasi berlebihan. Baca entri selengkapnya »