Mungkin gak Planet Mars Bisa di Huni??

21 Juni 2016

sepertinya saya sudah lama tidak nge blog dan hampir 6 bulan vakum dari dunia per blog karena banyak hal yang membuat saya sedang kebingungan dengan masalah di dunia nyata, jadilah beberapa ide untuk menulis di blog mental tak bertuah. Sebenarnya ada pertanyaan di benak apabila seandainya Bumi ini terlalu padat dengan manusia apakah mungkin planet lain bisa di Huni.

Planet Mars

Planet Mars, mungkinkah bisa di Huni?

Apa itu Planet Mars

menurut tante wikipedia, Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang Romawi, Mars. Planet ini sering dijuluki sebagai “planet merah” karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaanbesi(III) oksida di permukaan planet Mars. Mars adalah planet bebatuan dengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan tudung es. Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars.
jadi intinya secara geologi di permukaan mars tidak ubahnya seperti bumi, ada gunung, lembah, gurun dan lainnya tetapi keberadaan air di mars masih menjadi sebuah tanda tanya. Karena konon katanya air lah yang di cari di mars apakah memang air yang ikanatom nya terdiri dari atom H dan O, yang bisa menjadi penentu apakah manusia bisa hidup di sana. Baca entri selengkapnya »


India Kepanasan , Indonesia apakah mungkin . . . .

8 Juni 2015
Cuaca Panas Apakah Bisa Menyerempet Ke Indonesia?? ( http://masurai.com/ )

Cuaca Panas Apakah Bisa Menyerempet Ke Indonesia?? ( http://masurai.com/ )

Beberapa minggu ini efek cuaca panas yang menyebabkan banyaknya orang yang meninggal di India menjadi berita utama disejumlah chanel berita baik media surat kabar dan dunia maya. Lalu apa penyebab India mengalami cuaca panas yang ekstrem. Menurut Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, A. Fachri Radjab, penyebab utama fenomena ini adalah terjadinya perluasan pola musim panas di India. Suhu udara naik sekitar 5 derajat celcius dari suhu yang seharusnya. Ketika melewati permukaan, suhu menyebar dan bertambah panas. Pada dasarnya aliran udara panas adalah sebuah pola musim panas yang meluas (extended summer), diindikasikan dengan suhu udara sekitar 5 derajat celcius di atas rata-rata suhu maksimumnya. Ketika aliran udara panas ini melewati permukaan daratan yang luas, maka terjadi interaksi yang pada akhirnya memperkuat aliran udara panas ini seperti yang terjadi di India.

Berikut adalah faktor-faktor penyebab perubahan cuaca ekstrem

A Faktor pemanasan laut
Memanasnya suhu muka laut dan tidak terjadinya musim kemarau pada tahun ini merupakan kondisi penyimpangan yang tergolong paling ekstrem pada data pemantauan cuaca yang pernah dilakukan di Indonesia. Pemantauan kondisi kelautan dan cuaca di Indonesia yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan memanasnya suhu muka laut yang luas di wilayah perairan Indonesia telah terlihat sejak Juli tahun 2009 dan bertahan hingga kini.

Menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia mulai terpantau pertengahan tahun lalu, meski ketika itu terjadi El Nino dalam skala moderat. ”Ketika anomali cuaca ini muncul, suhu muka laut di timur Indonesia biasanya mendingin. Namun yang terjadi sebaliknya,” ujar Edvin, yang sebelumnya adalah peneliti cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Suhu permukaan laut di atas normal ini berlangsung hingga masuk periode musim kemarau tahun ini. Suhu laut yang hangat pada Mei lalu ditunjang oleh munculnya fenomena La Nina di Samudra Pasifik yang diikuti terjadinya Dipole Mode di Samudra Hindia. Kedua fenomena ini mengakibatkan suplai massa udara dari dua samudra itu ke wilayah Indonesia. Berdasarkan data curah hujan yang tinggi sepanjang periode kemarau tahun ini, tidak tampak pola musim kemarau.

Menghangatnya perairan Indonesia akan menyebabkan terbentuknya uap air, lalu menjadi awan dan guyuran hujan di wilayah Nusantara. Apabila berlangsung lama, fenomena ini akan berpengaruh pada kawasan sekitar Indonesia hingga ke lingkup global. Kondisi suhu laut yang hangat, menimbulkan tekanan udara rendah di wilayah Indonesia, hal ini juga menyebabkan massa udara dari subtropis yang bertekanan tinggi masuk ke wilayah tropis yang bertekanan rendah.

Penyimpangan cuaca yang telah berlangsung hampir setahun ini telah berdampak luas ke daerah di luar khatulistiwa Indonesia, berupa kurangnya hujan di daratan Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Thailand, serta menimbulkan suhu dingin yang ekstrem di kawasan subtropis. Baca entri selengkapnya »


Panasnya Jakarta, Bukan Karena Neraka Bocor

16 Oktober 2014

Beberapa minggu ini media tengah mengambil sebuah headline berita yang cukup menarik yaitu suhu Jakarta yang mencapai 40 derajat celcius yang artinya suhu tersebut tidak seperti biasanya. Dari beberapa cerita mengatakan beberapa hal ini di sebabkan oleh Neraka Bocor . “Ini umpatan di beberapa warung kopi yang sering menjadi bahan candaan kalau panas nya mencapai 40 derajat celcius seperti panas kopi yang sedang di seduh . . ” lalu mengapa panas jakarta bisa mencapai suhu seperti itu. Tidak lain adalah Radiasi sinar matahari yang langsung menuju permukaan di jakarta karena kurangnya uap air dan ruang serah radiasi di jakarta sehingga panas yang di sebabkan oleh radiasi menyelimuti permukaaan.

Radiasi matahari

Radiasi Matahari Ke Bumi  (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari Ke Bumi (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari sendiri adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor.
1.Jarak Matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan Matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan energi Matahari 2.Intensitas radiasi Matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.
3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara Matahari terbit dan Matahari terbenam.
4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi

Cahaya matahari pada permukaan bumi terdiri dari bagian yang langsung dan bagian yang baur. Radiasi langsung datang dari arah matahari dan memberikan bayangan yang kuat pada benda. Sebaliknya radiasi baur yang tersebar dari atas awan tidak memiliki arah yang jelas tergantung pada keadan awan dan hari tersebut (ketinggian matahari), baik daya pancar maupun perbandingan antara radiasi langsung dan baur
Energi matahari yang ditransmisikan mempunyai panjang gelombang dengan range 0,25 mikrometer sampai 3 mikrometer (untuk di luar atmosfer bumi atau extraterrestrial), sedangkan untuk di atmosfer bumi berkisar antara 0,32 mikrometer sampai 2,53 mikrometer. Hanya 7% energi tersebut terdiri dari ultraviolet (AM 0), 47% adalah cahaya tampak (cahaya tampak memiliki panjang gelombang 0,4 mikrometer sampai 0,75 mikrometer), 46% merupakan cahaya inframerah.

Beberapa hal dapat mempengaruhi pengurangan intensitas irradiance pada atmosfer bumi . Pengaruh tersebut dapat berupa:
1.  Pengurangan intensitas karena refleksi (pemantulan) oleh atmosfer bumi
2.  Pengurangan intensitas oleh karena penyerapan zat-zat di dalam atmosfer (terutama oleh O3, H2O, O2, dan CO2)
3.  Pengurangan intensitas oleh karena Rayleigh scattering
4.  Pengurangan intensitas oleh karena Mie scattering

Lalu masalah atsmosfer yang makin terbuka atau di istilahkan oleh efek rumah kaca dan istilah kerennya Global warming menjadi salah satu issue yang sering di angkat. Lalu bagaimana dengan Jakarta? kurangnya ruang serap dan ruang terbuka hijau menjadi panas di Jakarta akhir akhir ini di sebabkan oleh hal tersebut tentunya ada faktor lain juga yang perlu di perhitungkan yaitu musim kemarau.

Ruang Terbuka Hijau Jakarta

Menurut Sarwo Handayani, Kepala Bappeda DKI Jakarta (www.Jakarta.go.id) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan penambah ruang terbuka hijau sebanyak 80.89 ha selama 2008 – 2010. Namun jumlah ini masih belum memenuhi standar RTH yang berdasarkan UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana luas RTH minimal 30% dari luas suatu kota. Nur Febrianti dan kawan kawan tentang Ruang Terbuka Hijau di jakarta menjelaskan tentang penggunaan tata guna lahan di jakarta dapat di lihat pada gambar di bawah ini

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Baca entri selengkapnya »


Identifikasi Resiko Tsunami

9 September 2013

Besarnya resiko bencana tsunami yang terjadi di sepanjang pesisir Indonesia, sepertinya layak untuk di buatkan cerita pendek, ya hitung hitung sebagai sebuah mitigasi dan pembelajaran bersama apa itu Tsunami.

Resiko Tsunami

Resiko Tsunami

Pengertian Tsunami

Istilah “tsunami” di adopsi dari bahasa Jepang, dari kata tsu (W) yang berarti pelabuhan dan nami ($£) yang berarti ombak. Dahulu kala, setelah tsunami terjadi, orang orang Jepang akan segera menuju pelabuhan untuk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan akibat tsunami, sejak itulah dipakai istilah tsunami yang bermakna “gelombang pelabuhan”. Selama ini tsunami masih dianggap bencana alam yang tidak membahayakan (underrated hazard), karena kedatangannya yang cukup jarang. Banyak penyebab terjadinya tsunami, seperti gempa bawah laut (ocean-bottom earthquake), tanah longsor bawah laut (submarine landslide), gunung berapi (volcanoes), dan sebab lainnya.

Di antara penyebab itu, gempa bumi bawah lautlah yang paling sering dan paling berbahaya. Longsor bawah laut dengan ukuran longsor sebesar benua juga berbahaya, tapi efektifitas tsunami akibat longsor bawah laut masih jauh di bawah efektifitas tsunami akibat gempa bumi. Gempa bumi bisa disebabkan oleh berbagai sumber, antara lain letusan gunung berapi (erupsi vulkanik), tumbukan meteor, ledakan bawah tanah (seperti uji nuklir), dan pergerakan kulit bumi. Yang paling sering kita rasakan adalah karena pergerakan kulit bumi, atau disebut gempa tektonik.

Berdasarkan seismologi (ilmu yang mempelajari fenomena gempa Bumi), gempa tektonik dijelaskan oleh “Teori Lapisan Tektonik”. Teori ini menyebutkan, lapisan bebatuan terluar yang disebut lithosphere atau litosfer mengandung banyak lempengan. Di bawah litosfer ada lapisan yang disebut athenosphere, lapisan ini seakanakan melumasi bebatuan tersebut sehingga mudah bergerak. Di antara dua lapisan ini, bisa terjadi tiga hal, yaitu lempengan bergerak saling menjauh, maka magma dari perut Bumi akan keluar menuju permukaan Bumi. Magma yang sudah dipermukaan bumi ini disebut lava.

Lempengan bergerak saling menekan, maka salah satu lempeng akan naik atau turun, atau dua-duanya naik atau turun. Inilah cikal gunung atau lembah, atau lempengan bergerak berlawanan satu sama lain, misalnya satu ke arah selatan dan satunya ke arah utara. Ketiga prediksi tersebut akan menimbulkan getaran yang dilewatkan oleh media tanah dan batu. Getaran ini disebut gelombang seismik (seismic wave), bergerak ke segela arah. Inilah yang disebut gempa. Lokasi di bawah tanah tempat sumber getaran disebut fokus gempa. Baca entri selengkapnya »


Nenek Moyangku Kemungkinan Orang Afrika

3 Juli 2013

gak sengaja membuka sebuah presentasi yang membuat saya tertarik tentang migrasi manusia, dan ternyata asal muasal kemunculan manusia diperkirakan berasal dari Afrika. Lha kok afrika??? ya ternyata manusia di afrika 200 ribu tahun lalu sudah mulai ada dan terus bermigrasi ke seluruh dunia.

Proses Migrasi Dunia (national Geographic Indonesia 2006)

Proses Migrasi Dunia (National Geographic Indonesia 2006)

Persebaran pun di mulai dengan migrasi manusia ke bagian asia barat dan di sekitar jazerah arab kisaran 70 ribu tahun yang lalu dan selanjutnya menyebar ke arah australia kurang lebih 50 ribu tahun yang lalu dan migrasi terakhir manusia menuju Amerika selatan 12 ribu tahun yang lalu.  Lalu bagaimana kita tahu bahwa Afrika adalah nenek moyang kita??? sebuah penelitian mengatakan bahwa kromosom di hampir belahan bumi menunjukan kromosom tertentu yang identik dengan nenek moyang manusia di Afrika  sebagai gambaran bisa di lihat sebagai berikut

Sejarah Kromosom Manusia

Sejarah Kromosom Manusia

Apakah penelitian ini punya hubungan yang kental dengan penemuan sejarah peradaban yang akhir akhir ini gentir di beritakan mengenai Gunung Padang, sebuah situs megalitikum yang berdasarkan temuan temuan baru tentu akan mendukung aspek tulisan ini bahwa peradaban manusia Indonesia telah maju. berikut saya tuliskan kembali  tulisan mengenai gunung padang menurut pak ANdi arief melalui akun facebooknya

 

” (RELEASE) PYRAMID-SAND Gn PADANG INDONESIA- Dari Hasil lab metalurgi: “ancient cemen”‘ atau “perekat’ atau “suar” Gn Padang yang ditemukan diantara tumpukan batu2 andesit kekar kolom pada sisi lereng yang curam di daerah batas antara teras 1 dan 2 yang dilakukan tim arkeologi telah menghasilkan hal penting tentang komposisi semen yaitu : 41% kuarsa mono kristalin, 45% oksida besi magnesium dan 14%lempung. Oksida terdiri dari hematite (11%), magnetite (29%) dan beberapa jenis oksida besi yang tidak spesifik. (5%).
Sementara itu, hasil analisis laboratorium terjadap pasir halus ayak (well sorted) yang dikumpulkan pada saat pengeboran di teras 5 sampai dengan kedalaman 15 meter terdiri dari konsentrat butiran kuarsa 68%, oksida besi magnesium 22% dan silikat gelas 10%. Tidak ditemukan lempung (clay) dalam komposisi tersebut diinterpretasikan sebagai “pasir Piramid“ (PYRAMID -SAND)
Hal ini diperkuat Analisis lab difraksi X ray, belum ditambah hasil petrografi.
Oksida besi di semen dan “pasir pyramid” Gn Padang menjelaskan adanya “proses” intervensi manusia dengan pemanasan dan pembakaran untuk memurnikan konsentrasi . Tidak ditemukan konsentrasi dominan dari mineral oksida besi magnesium dari banyak analisis petrografi potongan sangat tipis batuan kekar kolom dari 2 lokasi titik pengeboran di Gn. Padang.
Sementara Usia situs : 1. Umur dari lapisan tanah (60 cm di bawah permukaan) ,sekitar 600 tahun SM (Lab Batan)
2. Umur dlapisan pasir-kerikil kedalaman sekitar 3-4 meter di Bor-1 sekitar 4700 tahun SM atau lebih tua (Lab Batan).
3. Umur lapisan tanah urug di kedalaman 4 meter ruang yang diisi pasir (di kedalaman 8-10 meter) di bawah Teras 5 pada Bor-2,sekitar 7600-7800 SM (Lab Miami Florida)
4. Umur pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor-2, sekitar 11.600-an tahun SM atau lebih tua (Lab Batan) 5. Umur dari lapisan kedalaman 5 meter sampai 12 meter,sekitar 14500 – 25000 SM/atau lebih tua (lab Miami Florida) (DR Bediarto Ontowirjo, TTRM) “

Di dalam tulisan diatas menyebutkan umur pasir yang paling tertua yang mengisi rongga adalah 25 ribu SM dan ini sesuai dengan prediksi proses migrasi manusia telah sampai ke negeri ini sekitar 50 ribu tahun yang lalu. tentunya secara tidak langsung fungsional bentukan punden berundak atau piramida atau segitiga menjadi bangunan ciri khas budaya lama untuk penyembahan

Bentukan Punden Berundak Gunung Padang

Bentukan Punden Berundak Gunung Padang

Baca entri selengkapnya »


Mitigasi Banjir Jakarta, Seharusnya Sudah Dari Dulu

23 Desember 2012

Jakarta sebuah kota besar yang tak luput dari masalah banjir ketika hujan datang, penyebabnya pasti yang selalu di salahkan adalah daerah Bogor, yang menjadi penyebab utama sokongan debit sungai yang terus bertambah. Mari kita kenali lagi Jakarta dari sudut pandang geologi.

Jakarta

DKI Jakarta (Wikimapia.org)

Berdasarkan gambaran diatas DKI Jakarta ini ternyata sudah penuh sesak dengan pemukiman tanpa adanya lahan hijau, Jakarta sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Holosen (quarter). Endapan aluvium yang belum termasifkan sepenuhnya ini berasal dari sedimentasi sungai yang berada di sekitar Jakarta seperti Ciliwung, Cisadane, Cideng, dan lainnya. Sebenarnya Jakarta dahulu memang layak untuk diperhitungkan sebagai kota strategis sebagai kota pelabuhan. Dahulu Jakarta tidak sepadat seperti ini

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

pada saat itu juga pemerintah Jakarta membuat kanal-kanal untuk mengurangi genangan akibat limpasan sungai di sekitar Jakarta, ini mitigasi pertama yang dilakukan pemerintah belanda saat itu yang menyadari banyaknya sisi negatif dari banjir yang melanda Batavia saat itu. Baca entri selengkapnya »


Curah Hujan Meningkat, Bencana Longsor Di Sekitar Kita

5 Desember 2012

Musim penghujan mulai memasuki sebagian besar kawasan Indonesia, hampir di semua daerah terjadi peningkatan curah hujan di setiap hari. Indonesia yang notabene nya merupakan wilayah tropis tak terlepas dari kondisi ini.  Sebelum kita melangkah Lebih Jauh, Kita belajar dahulu bagaimana Hujan terbentuk.

Proses Terbentuknya Hujan

terbentuknya hujan di muka bumi di pengaruhi oleh arus konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi adalah proses pemindahan panas ole gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah lainnya. Konveksi bebas dalam atmosfer turut memainkan peran penting  dalam menentukan  cuaca sehari-hari,sedangkan konveksi di lautan merupakan mekanisme pemindahan panas global yang penting

Kedua konveksi di atas dapat digunakan untuk menjelaskan terjadiya awan hujan.Uap air yang berasal dari lautan bersama-sama dengan udara,ternagkat ke  atas akibat adanya gaya tekan hingga mencapai 12 km-18 km dan kemudin membentu awan.Gumpalan awan berdiameter 5 km  mengandung kurang lebih 5 x 108 kg air.Ketika campura uap air dan udara terkondensasi,maka terbentuk hujan yang membebaskan sekitar 108 J energi ke atmosfer (sebanding dengan energi listrik yagn digunakan oleh 100.000 orang dalam sebulan).Udara kemudiantertekan ke bawah bersama-sama dengan air sehingga membentuk curah hujan yang cukup besar.Curah hujan akan melemah seiring dengan berkurangnya energi disuplai oleh campuran air dan udara yang naik ke atas

Proses Siklus Hujan

Siklus Hujan (USGS Modified (http://blog.umy.ac.id))

Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP – 1. Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP – 2. Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP – 3. Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb.

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Baca entri selengkapnya »