Mungkin gak Planet Mars Bisa di Huni??

21 Juni 2016

sepertinya saya sudah lama tidak nge blog dan hampir 6 bulan vakum dari dunia per blog karena banyak hal yang membuat saya sedang kebingungan dengan masalah di dunia nyata, jadilah beberapa ide untuk menulis di blog mental tak bertuah. Sebenarnya ada pertanyaan di benak apabila seandainya Bumi ini terlalu padat dengan manusia apakah mungkin planet lain bisa di Huni.

Planet Mars

Planet Mars, mungkinkah bisa di Huni?

Apa itu Planet Mars

menurut tante wikipedia, Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang Romawi, Mars. Planet ini sering dijuluki sebagai “planet merah” karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaanbesi(III) oksida di permukaan planet Mars. Mars adalah planet bebatuan dengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan tudung es. Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars.
jadi intinya secara geologi di permukaan mars tidak ubahnya seperti bumi, ada gunung, lembah, gurun dan lainnya tetapi keberadaan air di mars masih menjadi sebuah tanda tanya. Karena konon katanya air lah yang di cari di mars apakah memang air yang ikanatom nya terdiri dari atom H dan O, yang bisa menjadi penentu apakah manusia bisa hidup di sana. Baca entri selengkapnya »


Belajar Bareng Di Geologi Universitas Sriwijaya

2 November 2015
Forum Geosaintis Muda Indonesia

Forum Geosaintis Muda Indonesia

Tidak terasa, sudah hampir 3 tahun Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), telah berdiri, dari sekedar ide yang di motori oleh Pak Rovicky yang waktu itu menjabat sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, kemudian beberapa anak anak muda di panas panasi dan sekarang lambat laun FGMI menjadi motor penyemangat baru untuk para geosaintis muda melakukan sumbangsih pada masyarakat Indonesia.

Dari kegiatan FGMI jugalah, sudah banyak geosaintis muda berbagi inspirasi kepada mahasiswa di kampus-kampus geosains bahkan juga menjadi pelayan untuk masyarakat baik dalam mitigasi atau menyalurkan sebagian rezeki kepada korban bencana geologi. Sudah 3 tahun ini pula lah saya berkecimpung di organisasi ini, yang menurut saya lebih dari sekedar organisasi tapi rumah untuk saling berbagi pengetahuan geosains bahkan saat ini tidak hanya orang orang geosains tetapi juga di luar itupula.. tanggal 20-21 Oktober 2015 kemarin saya di berikan kesempatan untuk belajar barengt dengan mahasiswa geologi Universitas Sriwijaya. dengan jumlah yang hadir melebihi ekspetasi saya sekitar 100 mahasiswa yang hadir, mengingatkan saya yang dulu menjadi mahasiswa S1 Geologi Universitas Diponegoro dengan segala keterbatasannya. Dan dua hari itulah saya berbagi keilmuan dan saya apresiasi sekali dengan para dosen di sana dengan segala keterbatasan.
Baca entri selengkapnya »


India Kepanasan , Indonesia apakah mungkin . . . .

8 Juni 2015
Cuaca Panas Apakah Bisa Menyerempet Ke Indonesia?? ( http://masurai.com/ )

Cuaca Panas Apakah Bisa Menyerempet Ke Indonesia?? ( http://masurai.com/ )

Beberapa minggu ini efek cuaca panas yang menyebabkan banyaknya orang yang meninggal di India menjadi berita utama disejumlah chanel berita baik media surat kabar dan dunia maya. Lalu apa penyebab India mengalami cuaca panas yang ekstrem. Menurut Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, A. Fachri Radjab, penyebab utama fenomena ini adalah terjadinya perluasan pola musim panas di India. Suhu udara naik sekitar 5 derajat celcius dari suhu yang seharusnya. Ketika melewati permukaan, suhu menyebar dan bertambah panas. Pada dasarnya aliran udara panas adalah sebuah pola musim panas yang meluas (extended summer), diindikasikan dengan suhu udara sekitar 5 derajat celcius di atas rata-rata suhu maksimumnya. Ketika aliran udara panas ini melewati permukaan daratan yang luas, maka terjadi interaksi yang pada akhirnya memperkuat aliran udara panas ini seperti yang terjadi di India.

Berikut adalah faktor-faktor penyebab perubahan cuaca ekstrem

A Faktor pemanasan laut
Memanasnya suhu muka laut dan tidak terjadinya musim kemarau pada tahun ini merupakan kondisi penyimpangan yang tergolong paling ekstrem pada data pemantauan cuaca yang pernah dilakukan di Indonesia. Pemantauan kondisi kelautan dan cuaca di Indonesia yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan memanasnya suhu muka laut yang luas di wilayah perairan Indonesia telah terlihat sejak Juli tahun 2009 dan bertahan hingga kini.

Menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia mulai terpantau pertengahan tahun lalu, meski ketika itu terjadi El Nino dalam skala moderat. ”Ketika anomali cuaca ini muncul, suhu muka laut di timur Indonesia biasanya mendingin. Namun yang terjadi sebaliknya,” ujar Edvin, yang sebelumnya adalah peneliti cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Suhu permukaan laut di atas normal ini berlangsung hingga masuk periode musim kemarau tahun ini. Suhu laut yang hangat pada Mei lalu ditunjang oleh munculnya fenomena La Nina di Samudra Pasifik yang diikuti terjadinya Dipole Mode di Samudra Hindia. Kedua fenomena ini mengakibatkan suplai massa udara dari dua samudra itu ke wilayah Indonesia. Berdasarkan data curah hujan yang tinggi sepanjang periode kemarau tahun ini, tidak tampak pola musim kemarau.

Menghangatnya perairan Indonesia akan menyebabkan terbentuknya uap air, lalu menjadi awan dan guyuran hujan di wilayah Nusantara. Apabila berlangsung lama, fenomena ini akan berpengaruh pada kawasan sekitar Indonesia hingga ke lingkup global. Kondisi suhu laut yang hangat, menimbulkan tekanan udara rendah di wilayah Indonesia, hal ini juga menyebabkan massa udara dari subtropis yang bertekanan tinggi masuk ke wilayah tropis yang bertekanan rendah.

Penyimpangan cuaca yang telah berlangsung hampir setahun ini telah berdampak luas ke daerah di luar khatulistiwa Indonesia, berupa kurangnya hujan di daratan Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Thailand, serta menimbulkan suhu dingin yang ekstrem di kawasan subtropis. Baca entri selengkapnya »


JAWA: JALUR GUNUNGAPI TUA & JALUR GUNUNGAPI MODERN

6 Desember 2014

Oleh : Awang Harun Satyana (Geolog Senior)

Saya sedang berada di dekat Merapi, Jawa Tengah. Dari posisi saya berada cukup baik pandangan ke Merapi dan ke wilayah bagian selatan Jawa. Merapi adalah gunungapi paling aktif dari busur volkanik di Jawa sebutlah Jalur Gunungapi Modern Jawa. Sementara Pegunungan Selatan Jawa juga sesungguhnya merupakan busur volkanik sebutlah Jalur Gunungapi Tua Jawa. Dua jalur gunungapi ini, Jalur Modern dan Jalur Tua membangun Pulau Jawa sejak 45 juta tahun yang lalu sampai sekarang.

Saya ingin menulis kedua jalur gunungapi tersebut, tetapi saya memberikan tekanan ke penjelasan Jalur Gunungapi Tua yang belum banyak orang mengenalnya tidak seperti halnya Jalur Gunungapi Modern, sekaligus memenuhi janji saya kepada beberapa teman untuk menuliskan tentang para gunungapi tua ini. Semoga bermanfaat.

Busur Gunung Api Pulau Jawa

Busur Gunung Api Pulau Jawa

JALUR GUNUNGAPI MODERN JAWA

Pulau Jawa adalah pulau volkanik, pulau gunungapi. Gunungapi aktif terbanyak di Indonesia ada di Pulau Jawa, yaitu 45 gunungapi, tidak termasuk 20 kawah dan kerucut volkanik di Plato Dieng dan Plato Tengger (Wikipedia, 2014).

Puncak-puncak gunungapi dari barat ke timur menjadi titik-titik elevasi tertinggi (di atas 3000 mdpl) di pulau ini. Rangkaian gunung-gunungapi ini seolah menjadi tulang punggung pulau ini. Batuan dan sedimen yang diletuskan gunung-gunungapi ini juga membangun Pulau Jawa, memberikan tanah yang subur bagi pulau ini. Saya menyebut rangkaian gunung-gunungapi ini dalam tulisan ini sebagai “Jalur Gunungapi Modern” (Recent Volcanic Arc).

Bentukan Morfologi Gunung Api

Bentukan Morfologi Gunung Api

Komposisi rata-rata produk letusan gunung-gunungapi ini adalah andesit basaltik (Nicholls et al., 1980). Dan menurut teori tektonik lempeng, gunung-gunungapi ini dihasilkan oleh proses subduksi lempeng Samudera Hindia ke bawah Pulau Jawa. Pada kedalaman antara 100-200 km, lempeng samudera ini mengalami dehidrasi karena panas, lalu air hasil dehidrasi lempeng ini menyebabkan peleburan sebagian mantel di sekitarnya, sehingga mantel menjadi lebih cair, ringan, dan naik ke dekat permukaan menjadi magma yang lalu menjadi sumber magma bagi gunung-gunungapi di atasnya. Saat magma menembus ke permukaan karena tekanan berlebih, terjadilah erupsi terjadilah gunungapi. Rangkaian gunungapi di Pulau Jawa ini kebanyakan berposisi 100 km (Engdahl et al., 2004) di atas lempeng samudera yang menunjam di bawahnya.

Gunung-gunungapi yang dimaksud di atas umum disebut gunung-gunungapi berumur Kuarter (< 2,6 juta tahun yang lalu). Meskipun demikian, proses volkanisme telah terjadi di tempat ini sejak 10 juta tahun yang lalu (Miosen Akhir) (Soeria-Atmadja dkk., 1994). Dari 10 juta tahun yang lalu artinya telah ada gunung-gunungapi di bagian tengah Pulau Jawa ini dari barat ke timur, sehingga bisa dikatakan bahwa Pulau Jawa telah dibangun oleh volkanisme pada 10 juta tahun yang lalu. Baca entri selengkapnya »


Mereka Geologist Juga . . . .

10 November 2014

Sekarang mau cerpenkan beberapa tokoh inspiratif yang sebenarnya mereka adalah geologist yang berkarya di bidang Non-Geologi dan GeoPreneurship dan terbilang cukup sukses di bidangnya. Dan kali ini mau menceritkan sedikit profil mereka seperti di bawah ini;

1. Basuki Tjahaja Purnama (Plt. Gubernur DKI Jakarta)

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM

Siapa yang tak kenal sosok fenomenal yang sekarang ini menjabat sebagai Plt. Gubernur DKI Jakarta. Ia sosok yang lebih di kenal ahok ini , kiprahnya di dunia politik sudah tak usah di ragukan lagi. Beliau menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, sejak 16 Oktober 2014. Sebelumnya Ahok merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012.Beliau pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur, yang populer sebutan masyarakat setempat dengan singkatan Kabupaten Beltim. Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015. Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82% suara. Pasangan ini dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Pada tanggal 1 Juni 2014, karena Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo telah mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah terpilih pada Pilpres 2014, tanggal 16 Oktober 2014 Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Secara otomatis, Ahok kini menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Beliau merupakan lulusan di jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Trisakti dan mendapatkan gelar Insinyur pada tahun 1990. Basuki menyelesaikan pendidikan magister pada Tahun 1994 dengan gelar Master Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya

2. Sujatmiko (Mang Okim , Pakar Batu Mulia ) 

Mang Okim (Denisugandi.com)

Mang Okim (Denisugandi.com)

Di dunia batumulia siapa yang tak kenal Ir. H. Sujatmiko, Dipl. Seorang geolog yang menekuni batu mulia sejak 1989. Lulusan geologi ITB kemudian menekuni usaha batu mulia, melalui bendera CV. Gem Agia sejak 1989, membuka galeri Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia di Jalan Pajajaran No 145. Kelahiran Pamekasan Madura, 24 Oktober 1941, mencari aneka macam batu yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia, termasuk fosil-fosil kayu yang telah membatu. Sujatmiko sendiri mengaku, menggeluti bisnis ini bermula dari ketidaksengajaan. Namun karena ia lulusan geologi di ITB dan hobi mengumpulkan batu, bisnis ini selalu memancing rasa tahu dirinya untuk menggeluti semakin dalam. “Ketika saya pertama membeli batu tiga truk, saya tak tahu mesti diapain batu-batu tersebut hampir selama setahun. Bahkan saya sempat ditipu, disanalah dinamikanya,” kenang Sujatmiko. Sujatmiko kini memiliki fasilitas workshop dan studio di Jl. Pasir Luhur nomor 20 Bandung, dengan karyawan sebanyak 25 orang yang bekerja di sebuah workshop seluas 4000m2 yang menjadi tempat divisi produksi bekerja, sekaligus tempat penyimpanan bahan baku batu mulia.

Baca entri selengkapnya »


Ada Potensi Migas?? Tapi Kok Gak Dikembangkan??

29 Oktober 2014

Lagi sedikit belajar tentang ekonomi analisis, nih sayang kalau gak berbagi. Sebentar saya masih bingung tentang statusisasi saya, saya itu geologist atau ekonom???

Potensi Migas Vs Keuntungan???

Potensi Migas Vs Keuntungan??? (sumber gambar : http://img.bisnis.com)

Di dalam pengembangan sebuah lapangan migas ada 2 faktor yang mempengaruhinya yang pertama adalah Faktor Teknis dan yang kedua Non  Teknis. Faktor teknis biasanya terkait seberapa besar prosek dan jikalau sudah melakukan sebuah pemboran adalah seberapa besar Cadangan Migas di tempat pada lapangan tersebut. Jadilah peranan orang orang bawah permukaan (Geologist, Geophisicist, dan Reservoir engineer ) akan sangat berperan disini melihat seberapa besar potensi sebuah lapangan untuk di ambil produksinya. (eksplorasi, Kalau BAHASAnya)

Setelah menemukan sebuah potensi maka para ahli migas akan merencanankan bagaimana petroleum system dan teknik yang di lakukan untuk mengambil/ memproduksi migas tersebut. Tentunya ini bukan urusan mudah untuk melakukan hal tersebut. Dan peranan ekonom migas akan mulai berperan serius di sini terutama dalam expenditure cost yang di keluarkan untuk kegiatan produksi tersebut. Namun jauh sebelum itu semua ekonom migas telah melakukan hipotesis atau istilahnya dugaan biaya yang di keluarkan  secara bisnis apabila melakukan pengelolaan migas.

1. Ekonom Vs Engineer

Kebanyakan akan terjadi benturan antara para ekonom dan engineer dalam hal perencanaan si engineer maunya A sedangkan si Ekonom berdasarkan pembiayaan maunya B, nah disinilah perlu duduk bareng antara ekonom migas dan engineer untuk menentukan komitmen pengerjaan sebuah lapangan dalam beberapa tahun. Inilah yang terjadi hampir di semua PSC, mereka punya rencanan jangka panjang dalam sebuah pengelolaan migas dan tentunya komitmen pengerjaan yang tentunya akan di diskusikan dengan lembaga/badan pemerintah terkait seperti Dirjen Migas dan SKK Migas.

Secara hitungan engineer sebuah lapangan , terdapat sebuah potensi migas namun dari perhitungan ekonom maka ternyata pengembangan lapangan tersebut tidak ekonomis. Misalnya terkait harga migas dunia yang fluktuatif, biaya produksi dan distribusi, biaya tangible dan intagible lainnya . . .  yang biasanya orang engineer lepas tangan masalah ini . . . . . Baca entri selengkapnya »


Tarakan, Mutiara Delta di Timur Laut Kalimantan

22 November 2013

Menurut Lentini Dan Darman 1996, Cekungan Tarakan termasuk daerah delta pada cekungan tipe passive margin dengan kontrol tektonik minor geser lateral. Dari anomali magnetik, cekungan ini diindikasikan terjadi pemekaran lantai samudera dengan asosiasi patahan-patahan geser berarah ke barat laut.

Cekungan ini dibatasi oleh Punggungan Sekatak Berau di sebelah barat, Punggungan Suikerbrood dan Mangkalihat Peninsula di bagian selatan, Punggungan Sempurna Peninsula di utara, dan Laut Sulawesi di sebelah timur. Untuk sub-Cekungan Tarakan yang menjadi lokasi penelitian terletak di bagian tengah dari muara Sungai Sajau

Sub cekungan Tarakan dibagi menjadi empat sub-cekungan yaitu Sub- Cekungan Tidung, Tarakan, Berau, dan Muara (Achmad dan Samuel, 1984)

1. Sub cekungan Tarakan dibagi menjadi empat sub-cekungan yaitu Sub-
Cekungan Tidung, Tarakan, Berau, dan Muara (Achmad dan Samuel, 1984)

Tektonostratigrafi Sub-Cekungan Tarakan

Tektonostratigrafi di Sub-Cekungan Tarakan terbagi dalam tiga fase; pre-rift, syn-rift dan post-rift. Pada fase post-Rift, Sub-Cekungan Tarakan menjadi passive margin yang terbagi dalam fase transgresi dan regresi (Ellen, dkk., 2008).

Pada tahap pre-rift, stratigrafi wilayah ini dialasi batuan dasar Formasi Danau yang merupakan batuan metamorf. Konfigurasi struktur diawali oleh proses rifting selama Eosen Awal, kemudian terjadinya uplift di bagian barat selama Eosen Tengah mengakibatkan erosi di puncak tinggian Sekatak sehingga tahap ini menjadi awal pengendapan siklus-1 dan berlanjut ke siklus-2 (Biantoro, dkk., 1996). Patahan-patahan normal selama rifting ini berarah relatif barat daya – timur laut.

Untuk tahap syn-rift, sedimentasi berlangsung selama Eosen dari Formasi Sembakung dan Sujau. Secara tidak selaras di atasnya pada tahap post-rift 1 dan post-rift 2 selama Oligosen sampai Miosen Awal terendapkan sedimen yang terdiri dari Formasi Seilor, Mankabua, Tempilan, Tabalar, Mesaloi dan Naintupo. Kedua tahap post-rift tersebut berlangsung pada fase transgresi

Pada fase Regresi, menumpang secara tidak selaras di atas sedimen post-rift 2 adalah sedimen delta dan sekitarnya berturut-turut Formasi Meliat, Tabul, Santul, Tarakan dan Bunyu. Pengendapan yang berlangsung cepat pada Formasi Santul menyebabkan
pembebanan lebih sehingga terjadi re-juvenasi patahan membentuk patahan tumbuh. Patahan tumbuh ini berlanjut hingga umur Pliosen dengan pengendapan siklus ke-4 pada Formasi Tarakan. Aktivitas tektonik selama Pliosen Akhir sampai Pleistosen berubah ke kompresi menghasilkan patahan geser yang di beberapa tempat dijumpai mono-antiklin dan patahan naik. Selama proses ini terjadi pengendapan Formasi Bunyu

Stratigrafi Sub-Cekungan Tarakan (Ellen, dkk., 2008)

2. Stratigrafi Sub-Cekungan Tarakan (Ellen, dkk., 2008)

Petroleum System Cekungan Tarakan

Berdasarkan analisis geokimia, batuan induk di Sub-Cekungan Tarakan adalah serpih di Formasi Meliat dan Tabul. Dua wilayah di Sub-Deposenter Sembakung-Bangkudulis dan Deposenter-utama Bunyu Tarakan memiliki kategori paling tebal untuk kedua formasi (Biantoro, dkk. 1996). Dengan ketebalan minimal 300 m untuk ketebalan serpih, nilai reflektansi vitrinit 0,65 Ro dan paleogradien geotermal > 3,5°/100 m, wilayah penghasil hidrokarbon (kitchen area) dijumpai pada kedua wilayah tersebut (Gambar 3). Baca entri selengkapnya »


Geo-Exploration Itu Asyik

28 Oktober 2013

Semoga saja tulisan ini belum kadaluarsa . . .  .
Sehingga belum terlalu basi juga untuk di konsumsi. Lama Tampaknya saya tak menulis blog semenjak hilir mudik jadi petugas administrasi di sebuah perusahaan. Dan semoga ke Administrasian ini segera berakhir.

Tapi sebelum melanjutkan nge Blog, saya mau Ngucapin dulu terima kasih kepada rekan rekan panitia Student Chapter AAPG – Universitas Sriwijaya, yang mau saya repotkan beberapa hari yang lalu. Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Universitas Sriwijaya.

Ya ini bermula saya lahir di Palembang (lo hubungannya sama Unsri???) eitss sabar dulu, Universitas Sriwijaya itu adalah salah satu Universitas yang gue impikan dahulu, jauh sebelum gue berpetualang di Pesisir Utara dan sampailah di Universitas DIponegoro (Lalu apa hubungannya lagi!!) , Oke gue jawaban hubungannya adalah ketidak selarasan antara Palembang – Lampung – Brebes – Magelang – Semarang – Jakarta dan back to Palembang.

Di Depan Student Center UNSRI

Di Depan Student Center UNSRI

One Day Course

Sebenarnya sudah lama banget ingin berkunjung ke rekan rekan universitas sriwijaya dan alhamdulillah tanggal 5 Oktober 2013 kemarin semuanya sedang di permudahkan meskipun suara serak serak basah tapi semangat berbagi tetap ada. Aplaus tetap saya berikan kepada para panitia dan para peserta. Dengan segala keterbatasan mereka mampu hadir di luar batas. Universitas Sriwijaya, kampusnya di bagi menjadi beberapa tempat (itu kalau tak salah) satu di Kota Palembang dan Satu di Inderalaya, kampusnya lumayan besar dan hijau. terus terang saya kagum dengan kampus ini , tetapi sayangnya aktivitas pembelajaran di kampus ini seakan sepi , melompong bahkan berbalik dengan aktivitas di hari biasanya.

Flyer Pengumuman

Flyer Pengumuman One Day Course

Nah gambar di atas adalah flyer saat saya ngisi di sana. Alhamdulillah ada banyak peserta yang hadir tidak hanya geophysicist tetapi juga ada anak tambang dan geologi dari Universitas Sriwijaya. Dan di mulailah hari sabtu itu dengan berbagai macam aktivitas untuk belajar bareng dan mengenalkan secara umum bagaimana Industri Migas tersebut. Baca entri selengkapnya »


Sebuah Catatan ; Fieldtrip IAGI-FGMI-MGEI Gunung Padang

14 Mei 2013
Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Gunung padang, sudah memberikan candu kepada semua peneliti untuk menelususri kebenarannya, dari sebuah batuan yang teronggok menumpuk, kini Gunung Padang mulai mendunia, tumpukan batuan itu mulai di tanyakan asal usulnya, dan bagaimana ia terbuat. Penelitian +/- 2 Tahun yang lalu yang dimulai oleh tim riset mandiri yang di pimpin oleh Dr. Danny Hilman, salah seorang pakar kegempaan yang dimiliki Indonesia saat ini

Sejak itulah warga mulai ramai mengunjungi Gunung padang, ada yang sekedar berwisata, mencari petunjuk, sampai melakukan riset. Tidak hanya wisatawan local tetapi juga mancanegara. Dan sejak saat itulah warga di sekitar mulai membangkitkan perekonomian melalui wisata Gunung Padang. 11 Mei 2013 lalu, saya bersama rekan rekan geosaintis muda lainnya melakukan kegiatan fieldtrip Gunung Padang dimana berbagai ahli profesi tak hanya geologi, bahkan pegawai Bank, mahasiswa Geografi, dan rekan rekan awam selain geosaintis pun mengikuti kegiatan ini.

Berangkat pukul 04.30 WIB, dengan berkumpul di kisaran setiabudi Jakarta Selatan, kami berangkat menggunakan satu bis. Dari Tim yang berangkat di bandung berangkat pukul 05.00 WIB. Matahari belum benar benar terbangun, tetapi semangat para peserta melebihi hal tersebut, perjalanan pun di mulai menuju Gunung Padang. Melintasi beberapa tempat menuju Cianjur, kabupaten dimana Gunung Padang ini terdapat, kita melewati jalanan khas Cibodas-Puncak Bogor, yang berliuk liuk dengan jalanan tanpa berlubang dengan sisa sisa kabut pagi menghiasi pemandangan kiri kanan bis. Banyak peserta memulai rasa penasarannya tentang Gunung Padang, yang selama ini memenuhi email mereka membahasan tentang Gunung Padang, seakan mengingatkan ketika kuliah dahulu “Back to Basic, Look At The Rock” , untuk membuktikan hal tersebut, tidak cukup dengan kata sebelum kita melihat langsung apa yang terjadi, dan biarkan insting sebagai geologist mengintepretasikan apa yang terjadi terhadap Gunung Padang.

Perjalanan ternyata +/- 2 Jam dan kami bertemu dengan peserta fieldtrip yang berangkat dari Bandung, di sekitar Cianjur, sambil menghela nafas segar pai, yang tentunya jarang di dapatkan sesegar di sini. Dari sinilah perjalanan bersama di lakukan, perjalanan masih jauh ternyata dan jalanan tak semulus layaknya liukan perjalanan Cibodas Puncak. Jalan yang hanya muat 2 mobil umum, membuta bis peserta terkadang harus berhati-hati dan menunggu antrian untuk melewatinya, dan terkadang kami harus mengalah dengan mobil mobil kecil lainnya. Dan inilah salah satu bukti, wisata Gunung Padang, tak seperti wisata wisata lainnya, dimana aksesnya terlihat lebih mudah, tengoklah Candi Borobudur dimana jalanan lebar dan bagus kita temui mulai dari muntilan sampia parkiran Mobil Candi Borobudur, atau cobalah tengok wisata Lembang yang jalanannya selalu di suplai dan di perbaiki setiap tahunnya untuk menunjang wisata Lembang, dan ini berbeda dengan jalanan menuju Gunung Padang, sepanjang jalan kita akan menemui banyak lubang jalan menganga seperti tak terurus. Jalanan kecil dengan pinggiran jurang di sebelahnya menjadi pemandangan umum di daerah ini.


Gambar 1. Jalan rusak menuju Gunung Padang, Cianjur


Gambar 2. Jalan berbukit dimana pinggirannya berupa jurang menuju Gunung Padang.

Geologi Umum Gunung Padang

Area gunung padang berada dalam deretan gunungapi pada Cekungan Bandung, yang termasuk dalam sistem busur kepulauan Sunda. Summerfield (1999) dalam Brahmantyo (2005) merinci sistem busur kepulauan ini menjadi sistem busur ganda yang terdiri atas busur magmatik/volkanik (Pulau Jawa) yang juga disebut sebagai busur dalam (inner arc), serta busur non-volkanik yang merupakan busur luar (outer arc) yang berada di laut selatan Pulau Jawa. Daerah Gunung Padang terdapat di busur magmatik/volkanik. Berdasarkan evolusi geologi Cekungan Bandung (Pannekoek, 1946 dalam Dam, 1994), fasa tektonik yang terjadi di daerah ini adalah rezim tensional yang memotong busur volkanik, bersamaan dengan kegiatan dan pengangkatan magmatik.

Gambar 3. Busur Kepulauan Sunda (Summerfield,1999 dalam Brahmantyo, 2005)

Menurut beberapa geolog yang melakukan peneliti lebih dahulu seperti Silitonga (1973), Koesmono (1976), Koesoemadinata dan Hartono (1980), Martodjojo (1984), Sujatmiko (1972), dan Alzwar (1992). litologi daerah ini secara umum terdiri dari batuan volkanoklastik yang berumur Tersier maupun Kuarter, meskipun terdapat formasi endapan marin di bagian timurlaut dari Cekungan Bandung (Tabel 2.1). Litologi di daerah Gunung Padang sendiri terdiri dari batuan gunungapi miosen akhir Formasi Beser dan batuan gunungapi Plistosen yang kemudian melanjutkan kegiatan erupsinya di Gunung Kendeng dan Gunung Patuha. Formasi Beser sendiri adalah formasi tertua diantara formasi lainnya di Pegunungan Bandung Selatan.    

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi Daerah Bandung Baca entri selengkapnya »


Subsidence, Turunnya Muka Tanah

14 April 2013
Tanah

Penurunan Permukaan Tanah

Mencoba membagikan tulisan dan semoga bermanfaat, kali ini cerpenist ingin mensharing tentang penurunan muka air tanah yang sering kali terjadi di beberapa kota besar atau di sejumlah daerah. Tulisan ini saya sumberkan dari beberapa tulisan ilmiah yang saya ambil dari beberapa tempat untuk penguatan referensi tulisan ini.

Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah ini di akibatkan oleh banyak hal seperti pembebanan di atas permukaan, hilangnya air tanah akibat eksploitasi berlebihan, gempa yang mengakibatkan rusaknya struktur tanah,  ketidakstabilan bidang tanah akibat proses tertentu, dan sebagainya.

Penurunan muka tanah ini secara tidak langsung pemaksaan memadatkan struktur tanah yang belum padat menjadi padat. UMumnya terjadi pada daerah yang tadinya berupa rawa, delta, endapan banir dan sebagainya yang di alihkan fungsi tataguna lahannya tanpa melakukan rekayasa tanah terlebih dahulu

Umumnya Kota-Kota Besar di Indonesia berada pada zona limpasan dataran banjir dan Rawa

Jakarta, Semarang, Palembang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya di Indoesia mengalami permasalahan subsidence ini. memang penurunan terkadang tidak ekstrem setiap tahunnya di beberapa wilayah tetapi bukan tak mungkin bila di biarkan terus menerus akan berdampak munculnya kerugian tidak hanya material tetapi juga korban jiwa.

Fase Penurunan Muka Tanah

Contoh Fase Penurunan Muka Tanah

Menanggulangi Subsidence

Untuk melakukan penanggulangan turunnya muka tanah biasanya dilakukan beberapa tahap penelitian terhadap struktur tanah seperti daya dukung tanah, tebal dan komposisi struktur bawah permukaan, kondisi geologi, dan berbagai hal yang terkait. Cara penangulanggan pun bermacam macam berdasarkan hasil kajian dari faktor yang mempengaruhi subsidence tersebut salah satu penanggulangannya adalah memperkuat daya dukung tanah dengan cara melakukan rekayasa geoteknik seperti suntik semen, melakukan pembangunan pondasi pada struktur tanah yang tepat, melakukan pergantian tanah lunak dengan tanah yang relatif lebih kompak, memanfaatkan penggunaan air tanah seperlunya tanpa melakukan eksploitasi berlebihan. Baca entri selengkapnya »


Jakarta Vs Venesia, “berandai-andai”?

12 Februari 2013

Seberapa Prospek Jakarta menjadi kota pariwisata air seperti venesia, Italia. Sepertinya akan menarik jikalau akan memanfaatkan potensi sungai di daerah dan tentunya banjir yang sering terjadi. Nah Cerpenist coba berandai-andai seandainya Jakarta di bandingkan dengan Venesia bias jadi hasilnya seperti ini

Jakarta

Venesia, Italy

Lalu baimana dengan pemukiman di bantaran kali ciliwung dengan pemukiman di daerah venesia.

Pemukiman Di Bantaran Kali Jakarta

Pemukiman Di Bantara Kali Venesia

Atau berangan-angan apa yang bakal mengisi sungai sungai antara Jakarta dan Venesia mungkin inilah perbandingannya saat ini.

Sampah Mengisi Sungai Jakarta

Burung-burung mengisi Sungai Venesia

Baca entri selengkapnya »


BACK TO BASIC – YANG TERJADI PADA SUATU KONVERGENSI LEMPENG-LEMPENG

12 Februari 2013

Oleh : Awang Harun Satyana (Geologist Senior, SKK Migas, 2013)


Gambar 1. Batas Lempeng Konvergen ( Encyclopedia Brittanica, 2007)

Indonesia adalah wilayah yang secara geologi merupakan pertemuan lempeng-lempeng litosfer (konvergensi). Maka kesepuluh ciri konvergensi lempeng ini semuanya telah terjadi dan akan terjadi di Indonesia.

Beberapa fakta/konsep di bawah tidak jarang kita kelirukan memahaminya, mari kita coba pahami lagi dengan benar.

1. Batas-batas lempeng konvergen adalah zona-zona tempat lempeng-lempeng litosfer bertemu. Terdapat tiga tipe utama interaksi lempeng konvergen: (a) konvergensi antara dua lempeng samudera, (b) konvergensi antara lempeng benua dan lempeng samudera, dan (c) benturan (collision) dua lempeng benua. Konvergensi (a) dan (b) akan menyebabkan penunjaman (subduction) lempeng samudera ke dalam mantel.

2. Suatu collision antarbenua akan didahului oleh subduction lempeng samudera di bawah satu benua. Samudera kemudian semakin menyempit oleh semakin mendekatnya kedua benua dan akhirnya tertutup ketika kedua benua berbenturan. Dalam proses benturan, sebagian kerak samudera akan lepas dari lempeng samudera, dan menumpu kepada satu benua dalam proses obduction. Jalur penutupan samudera atau jalur obduction ini dikenal sebagai suture benturan.

3. Kebanyakan zona penunjaman memiliki morfologi tektonik dari arah samudera ke arah benua sebagai berikut: tinggian di luar palung (outer swell), palung, busur nonmagmatik (prisma akresi, melange), cekungan depan busur (forearc basin), busur magmatik, dan cekungan belakang busur (backarc basin). Secara kontras, benturan antarbenua menghasilkan jalur lebar pegunungan lipatan dan tersesarkan yang terletak di zona benturan.

4. Penunjaman litosfer samudera menghasilkan zona gempa yang miring dan sempit, zona Wadati-Benioff, yang menerus sampai kedalaman lebih dari 600 km. Zona lebar gempa dangkal terjadi di wilayah benturan benua.

5. Deformasi kerak di zona penunjaman menghasilkan melange di forearc dan ekstensi atau kompresi di wilayah busur volkanik dan belakang busur. Benturan benua selalu dicirikan oleh kompresi lateral yang kuat yang menyebabkan pelipatan dan sesar anjak (thrust faulting).

6. Magma digenerasikan di zona penunjaman pada kedalaman 100-200 km oleh proses dehidrasi kerak samudera yang menyebabkan peleburan sebagian mantel di atasnya. Andesit dan magma asam lainnya yang seringkali tererupsi secara eksplosif adalah magma khas batas lempeng konvergen. Di tempat dalam, pluton-pluton diorit-granit terbentuk. Di zona benturan benua, magma tidak terlalu banyak, didominasi oleh granit, dan mungkin berasal dari peleburan kerak benua yang ada (anateksis). Baca entri selengkapnya »


Mitigasi Banjir Jakarta, Seharusnya Sudah Dari Dulu

23 Desember 2012

Jakarta sebuah kota besar yang tak luput dari masalah banjir ketika hujan datang, penyebabnya pasti yang selalu di salahkan adalah daerah Bogor, yang menjadi penyebab utama sokongan debit sungai yang terus bertambah. Mari kita kenali lagi Jakarta dari sudut pandang geologi.

Jakarta

DKI Jakarta (Wikimapia.org)

Berdasarkan gambaran diatas DKI Jakarta ini ternyata sudah penuh sesak dengan pemukiman tanpa adanya lahan hijau, Jakarta sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Holosen (quarter). Endapan aluvium yang belum termasifkan sepenuhnya ini berasal dari sedimentasi sungai yang berada di sekitar Jakarta seperti Ciliwung, Cisadane, Cideng, dan lainnya. Sebenarnya Jakarta dahulu memang layak untuk diperhitungkan sebagai kota strategis sebagai kota pelabuhan. Dahulu Jakarta tidak sepadat seperti ini

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

pada saat itu juga pemerintah Jakarta membuat kanal-kanal untuk mengurangi genangan akibat limpasan sungai di sekitar Jakarta, ini mitigasi pertama yang dilakukan pemerintah belanda saat itu yang menyadari banyaknya sisi negatif dari banjir yang melanda Batavia saat itu. Baca entri selengkapnya »


Curah Hujan Meningkat, Bencana Longsor Di Sekitar Kita

5 Desember 2012

Musim penghujan mulai memasuki sebagian besar kawasan Indonesia, hampir di semua daerah terjadi peningkatan curah hujan di setiap hari. Indonesia yang notabene nya merupakan wilayah tropis tak terlepas dari kondisi ini.  Sebelum kita melangkah Lebih Jauh, Kita belajar dahulu bagaimana Hujan terbentuk.

Proses Terbentuknya Hujan

terbentuknya hujan di muka bumi di pengaruhi oleh arus konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi adalah proses pemindahan panas ole gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah lainnya. Konveksi bebas dalam atmosfer turut memainkan peran penting  dalam menentukan  cuaca sehari-hari,sedangkan konveksi di lautan merupakan mekanisme pemindahan panas global yang penting

Kedua konveksi di atas dapat digunakan untuk menjelaskan terjadiya awan hujan.Uap air yang berasal dari lautan bersama-sama dengan udara,ternagkat ke  atas akibat adanya gaya tekan hingga mencapai 12 km-18 km dan kemudin membentu awan.Gumpalan awan berdiameter 5 km  mengandung kurang lebih 5 x 108 kg air.Ketika campura uap air dan udara terkondensasi,maka terbentuk hujan yang membebaskan sekitar 108 J energi ke atmosfer (sebanding dengan energi listrik yagn digunakan oleh 100.000 orang dalam sebulan).Udara kemudiantertekan ke bawah bersama-sama dengan air sehingga membentuk curah hujan yang cukup besar.Curah hujan akan melemah seiring dengan berkurangnya energi disuplai oleh campuran air dan udara yang naik ke atas

Proses Siklus Hujan

Siklus Hujan (USGS Modified (http://blog.umy.ac.id))

Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP – 1. Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP – 2. Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP – 3. Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb.

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Baca entri selengkapnya »


Universitas Itu Bernama Perpustakaan Ilmu

27 November 2012

Awang Harun Satyana, ya beliau Geolog yang sangat beruntung dimiliki Indonesia saat ini, dan salah satu orang yang membuat saya kagum terhadap beberapa tulisannya dan karyanya, Dari seorang sahabat saya sedikit membaca profil beliau dan dari akun facebook nya beliau menjabarkan tentang Universitas yang ia dapati pasca lulus dari sarjana Geologi Universitas Padjajaran, Universitas itu bukanlah Universitas ternama yang menghasilkan geolog handal di bidangnya tetapi dari sebuah Universitas bernama, “Perpustakaan Ilmu” , dan berikut yang saya dapati kata-kata beliau dari akun facebook beliau tentang Guru-guru hebat di dalam perpustakaan tersebut :

Sebagian Buku yang dimiliki Pak Awang Harun Satyana dari 9000 Buku yang ia Kumpulkan

ini ruangan kerja saya sekaligus pojok sekolah saya. Kalau saya di rumah, hampir sebagian besar waktu saya ada di pojokan ini, terutama mulai jam 22 sampai dini hari. Ini sebagian saja dari sekitar 9000 buku yang saya mulai kumpulkan dari 33 tahun yang lalu. Berbagai ilmu dari berbagai zaman ada di dalamnya. Inilah sekolah saya, tanpa teman, tanpa lulus, tanpa gelar, dengan ribuan guru bernama para penulis buku. Hampir 300 publikasi paper, artikel, buku2 kursus teknis, dll sudah saya hasilkan dalam 20 tahun terakhir, sebagian ditulis dari pojokan ini, di tengah keheningan malam atau dini hari hanya dengan satu jiwa: passion, dan satu spirit: ekstrem autodidak!

sekali kita mempunyai cinta yang dalam akan suatu ilmu, tentu kita akan menekuninya dan berbuat banyak untuknya, juga menceritakannya kepada banyak orang; tidak peduli kita dihargai atau tidak, tidak peduli kita bekerja sebagai peneliti atau bukan. Hanya dibutuhkan cinta, ketekunan, konsistensi dan keberanian; maka semuanya akan terjadi dengan baik dan suatu saat akan terjadi bahwa ilmu tersebut berbalik mencintai kita.

Ini pojok yang nyaman buat saya. Dengan hampir 9000 buku di rumah, sekitar 1000 buku di foto ini, cukup sulit menempatkannya. Hampir semua dinding di rumah sudah ditutupi rak2 buku, rak2 buku juga ditinggikan dari tahun ke tahun, akhirnya mencapai langit2, he2… Buku2 itu telah banyak menemani saya kala sendiri, melatih pikiran, meluaskan pengetahuan, dan membantu saya dalam menghasilkan karya2 tulis.

Kho Ping Hoo seri Bukek Siansu, Suma Han, Pendekar Super Sakti dll, seri Godam, Gundala, seri Jaka Sembung, seri si Buta Gua Hantu, Mandala pendekar sungai ular, Panji Tengkorak, atau wayang2 RA Kosasih, atau seri komik2 cerita dunia dalam 3 warna seperti Gulliver, Pulau Harta, dsb (pasti Herman tahu ini) itu koleksi2 saya saat SMP-SMA yang masih ada sampai sekarang, ditambahi lagi seri Dora Emon, Dragon Ball dll anime Jepang bawaan anak2 saya saat mereka masih SD-SMP ada juga. Juga novel2 asli atau terjemahan dari novelist Pearl S Buck, John Grisham, dll atau Marga T dan Mira W, dan seri lengkap Harry Potter bawaan istri saya, semua ada, termasuk roman2 Indonesia dari Pujangga Baru ada semua, di dalam satu kamar sendiri, kamar buku2 fiksi namanya. Dari 9000 koleksi buku itu, sekitar 2000 buku2 fiksi.

meskipun buku2 klasik kini mesti bersaing dengan buku2 atau publikasi digital yang dengan mudah diakses dari Ipad, elegi Gutenberg namanya – saat buku2 cetak tergusur buku2 digital, buku2 klasik yang tetap saya sukai, ada perasaan tertentu yang tak tergantikan oleh digitalisasi tersebut. Rumah saya pertama dulu, hampir 20 tahun yl, walupun kecil saja, 3 kamar, 2 kamarnya perpustakaan he2…sebab saya membawa sekitar 3000 buku, istri saya membawa 1000 buku. Betul, setiap penulis pasti pembaca.

mempunyai perpustakaan sendiri adalah salah satu cita-cita saya dari kecil. Dari sejak SD kelas 6 saya sudah menggunakan semua uang jajan saya buat beli buku, saya juga menyurati kedubes2 asing di Jakarta buat minta buku. Saya juga suka memulung buku2 dari tempat sampah rumah2 gedongan. Akhir tahun pelajaran biasanya waktu terbaik buat saya berburu buku2 bekas di tempat sampah tersebut, sebab buku2 pelajaran anak2 rumah gedongan itu biasanya dibuang saja. Dan seminggu sekali saya menghabiskan waktu berburu buku di tukang loak, sebab hanya buku2 loak yang terbeli oleh saya sebagai anak SD-SMA. Apa yang saya peroleh dengan sulit, pasti akan saya pertahankan semampu saya. Buku2 dari segala zaman itulah guru2 saya.

Itulah tulisan beliau yang tentunya bagi siapapun yang membaca akan tahu betul bagaimana guru-guru hebat tersebut telah membentuk pengetahuan Pak Awang Harun Satyana yang membuat siapapun akan kagum melihatnya.

Dan berikut tulisan mengenai profil beliau yang saya ambil dari blog sahabat saya http://aveliansyah.wordpress.com

Profil : Awang Harun Satyana Baca entri selengkapnya »