Panasnya Jakarta, Bukan Karena Neraka Bocor

16 Oktober 2014

Beberapa minggu ini media tengah mengambil sebuah headline berita yang cukup menarik yaitu suhu Jakarta yang mencapai 40 derajat celcius yang artinya suhu tersebut tidak seperti biasanya. Dari beberapa cerita mengatakan beberapa hal ini di sebabkan oleh Neraka Bocor . “Ini umpatan di beberapa warung kopi yang sering menjadi bahan candaan kalau panas nya mencapai 40 derajat celcius seperti panas kopi yang sedang di seduh . . ” lalu mengapa panas jakarta bisa mencapai suhu seperti itu. Tidak lain adalah Radiasi sinar matahari yang langsung menuju permukaan di jakarta karena kurangnya uap air dan ruang serah radiasi di jakarta sehingga panas yang di sebabkan oleh radiasi menyelimuti permukaaan.

Radiasi matahari

Radiasi Matahari Ke Bumi  (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari Ke Bumi (Sumber: azimuthproject.org)

Radiasi Matahari sendiri adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor.
1.Jarak Matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan Matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan energi Matahari 2.Intensitas radiasi Matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.
3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara Matahari terbit dan Matahari terbenam.
4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi

Cahaya matahari pada permukaan bumi terdiri dari bagian yang langsung dan bagian yang baur. Radiasi langsung datang dari arah matahari dan memberikan bayangan yang kuat pada benda. Sebaliknya radiasi baur yang tersebar dari atas awan tidak memiliki arah yang jelas tergantung pada keadan awan dan hari tersebut (ketinggian matahari), baik daya pancar maupun perbandingan antara radiasi langsung dan baur
Energi matahari yang ditransmisikan mempunyai panjang gelombang dengan range 0,25 mikrometer sampai 3 mikrometer (untuk di luar atmosfer bumi atau extraterrestrial), sedangkan untuk di atmosfer bumi berkisar antara 0,32 mikrometer sampai 2,53 mikrometer. Hanya 7% energi tersebut terdiri dari ultraviolet (AM 0), 47% adalah cahaya tampak (cahaya tampak memiliki panjang gelombang 0,4 mikrometer sampai 0,75 mikrometer), 46% merupakan cahaya inframerah.

Beberapa hal dapat mempengaruhi pengurangan intensitas irradiance pada atmosfer bumi . Pengaruh tersebut dapat berupa:
1.  Pengurangan intensitas karena refleksi (pemantulan) oleh atmosfer bumi
2.  Pengurangan intensitas oleh karena penyerapan zat-zat di dalam atmosfer (terutama oleh O3, H2O, O2, dan CO2)
3.  Pengurangan intensitas oleh karena Rayleigh scattering
4.  Pengurangan intensitas oleh karena Mie scattering

Lalu masalah atsmosfer yang makin terbuka atau di istilahkan oleh efek rumah kaca dan istilah kerennya Global warming menjadi salah satu issue yang sering di angkat. Lalu bagaimana dengan Jakarta? kurangnya ruang serap dan ruang terbuka hijau menjadi panas di Jakarta akhir akhir ini di sebabkan oleh hal tersebut tentunya ada faktor lain juga yang perlu di perhitungkan yaitu musim kemarau.

Ruang Terbuka Hijau Jakarta

Menurut Sarwo Handayani, Kepala Bappeda DKI Jakarta (www.Jakarta.go.id) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan penambah ruang terbuka hijau sebanyak 80.89 ha selama 2008 – 2010. Namun jumlah ini masih belum memenuhi standar RTH yang berdasarkan UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana luas RTH minimal 30% dari luas suatu kota. Nur Febrianti dan kawan kawan tentang Ruang Terbuka Hijau di jakarta menjelaskan tentang penggunaan tata guna lahan di jakarta dapat di lihat pada gambar di bawah ini

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Ruang Terbuka Hijau Jakarta 2007 dan 2013 (Nur Febrianti 2013)

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Jakarta Vs Venesia, “berandai-andai”?

12 Februari 2013

Seberapa Prospek Jakarta menjadi kota pariwisata air seperti venesia, Italia. Sepertinya akan menarik jikalau akan memanfaatkan potensi sungai di daerah dan tentunya banjir yang sering terjadi. Nah Cerpenist coba berandai-andai seandainya Jakarta di bandingkan dengan Venesia bias jadi hasilnya seperti ini

Jakarta

Venesia, Italy

Lalu baimana dengan pemukiman di bantaran kali ciliwung dengan pemukiman di daerah venesia.

Pemukiman Di Bantaran Kali Jakarta

Pemukiman Di Bantara Kali Venesia

Atau berangan-angan apa yang bakal mengisi sungai sungai antara Jakarta dan Venesia mungkin inilah perbandingannya saat ini.

Sampah Mengisi Sungai Jakarta

Burung-burung mengisi Sungai Venesia

Baca entri selengkapnya »


Curah Hujan Meningkat, Bencana Longsor Di Sekitar Kita

5 Desember 2012

Musim penghujan mulai memasuki sebagian besar kawasan Indonesia, hampir di semua daerah terjadi peningkatan curah hujan di setiap hari. Indonesia yang notabene nya merupakan wilayah tropis tak terlepas dari kondisi ini.  Sebelum kita melangkah Lebih Jauh, Kita belajar dahulu bagaimana Hujan terbentuk.

Proses Terbentuknya Hujan

terbentuknya hujan di muka bumi di pengaruhi oleh arus konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi adalah proses pemindahan panas ole gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah lainnya. Konveksi bebas dalam atmosfer turut memainkan peran penting  dalam menentukan  cuaca sehari-hari,sedangkan konveksi di lautan merupakan mekanisme pemindahan panas global yang penting

Kedua konveksi di atas dapat digunakan untuk menjelaskan terjadiya awan hujan.Uap air yang berasal dari lautan bersama-sama dengan udara,ternagkat ke  atas akibat adanya gaya tekan hingga mencapai 12 km-18 km dan kemudin membentu awan.Gumpalan awan berdiameter 5 km  mengandung kurang lebih 5 x 108 kg air.Ketika campura uap air dan udara terkondensasi,maka terbentuk hujan yang membebaskan sekitar 108 J energi ke atmosfer (sebanding dengan energi listrik yagn digunakan oleh 100.000 orang dalam sebulan).Udara kemudiantertekan ke bawah bersama-sama dengan air sehingga membentuk curah hujan yang cukup besar.Curah hujan akan melemah seiring dengan berkurangnya energi disuplai oleh campuran air dan udara yang naik ke atas

Proses Siklus Hujan

Siklus Hujan (USGS Modified (http://blog.umy.ac.id))

Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP – 1. Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP – 2. Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP – 3. Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb.

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Jenis-Jenis Awan Dan Ketinggiannya

Baca entri selengkapnya »


HAARP, Benarkah Pengendali Cuaca Di Era Modern ?

26 November 2012

Kondisi cuaca yang saat ini di bilang tak menentu dan ekstrem, menjadikan sebuah pertanyaan tersendiri. Apakah kondisi alam memang benar berubah atau di ubah secara sengaja??? Pernahkah mendengar sebuah teknologi canggih yang di bangun oleh US Air Force, US Navy Force, dan University of Alaska. Oke Mari kita belajar apa itu HAARP

HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program)

HAARP adalah project investigasi yang bertujuan untuk “memahami, menstimulasi,dan mengontrol proses ionospheric yang dapat mengubah kinerja komunikasi dan menggunakan sistem surveilans”. Dimulai pada tahun 1992, project ditargetkan selesai dalam 20 tahun kedepan (selesai tahun 2012). proyek ini mirip dengan beberapa pemanas ionospheric yang tersebar di seluruh dunia dan memiliki bagian besar diagnostik instrumen yang memfasilitasi penggunaannya untuk meningkatkan pemahaman ilmiah yg berkenaan dgn ionosfir dinamika. Walaupun ditakutkan akan digunakan sebagai senjata pemusnah massal, ilmuwan yang terlibat dalam aeronomy, ruang sains, atau fisika plasma mengabaikan ketakutan ini sebagai teori yang tak berdasar.

Teknologi HAARP

Teknologi HAARP

Bagaimana HAARP Berkerja ?

HAARP “menembakkan” gelombang radio frekuensi dari yang sangat rendah hingga yang sangat tinggi keatas atmosfir. Salah satu efeknya akan mempengaruhi ionosfir dan stratosfir menjadi hangat, menciptakan awan dan merubah iklim dunia. Jika diubah dengan frekuensi lainnya, maka gelombang radio frekuensi  tersebut dapat terpantul oleh ionosfir dan kembali lagi ke Bumi untuk menciptakan gempa bumi atau bahkan dapat mempengaruhi pikiran manusia. Dan masih ada beberapa kemampuan HAARP lainnya.

Salah satu stasiun HAARP ada di Alaska yangt terdiri dari 360 antena. Masing-masing antena menghasilkan daya pancar minimal sebesar 10.000 watt (Untuk melihat Lokasi silahkan Di Klik) Baca entri selengkapnya »