Identifikasi Resiko Tsunami

9 September 2013

Besarnya resiko bencana tsunami yang terjadi di sepanjang pesisir Indonesia, sepertinya layak untuk di buatkan cerita pendek, ya hitung hitung sebagai sebuah mitigasi dan pembelajaran bersama apa itu Tsunami.

Resiko Tsunami

Resiko Tsunami

Pengertian Tsunami

Istilah “tsunami” di adopsi dari bahasa Jepang, dari kata tsu (W) yang berarti pelabuhan dan nami ($£) yang berarti ombak. Dahulu kala, setelah tsunami terjadi, orang orang Jepang akan segera menuju pelabuhan untuk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan akibat tsunami, sejak itulah dipakai istilah tsunami yang bermakna “gelombang pelabuhan”. Selama ini tsunami masih dianggap bencana alam yang tidak membahayakan (underrated hazard), karena kedatangannya yang cukup jarang. Banyak penyebab terjadinya tsunami, seperti gempa bawah laut (ocean-bottom earthquake), tanah longsor bawah laut (submarine landslide), gunung berapi (volcanoes), dan sebab lainnya.

Di antara penyebab itu, gempa bumi bawah lautlah yang paling sering dan paling berbahaya. Longsor bawah laut dengan ukuran longsor sebesar benua juga berbahaya, tapi efektifitas tsunami akibat longsor bawah laut masih jauh di bawah efektifitas tsunami akibat gempa bumi. Gempa bumi bisa disebabkan oleh berbagai sumber, antara lain letusan gunung berapi (erupsi vulkanik), tumbukan meteor, ledakan bawah tanah (seperti uji nuklir), dan pergerakan kulit bumi. Yang paling sering kita rasakan adalah karena pergerakan kulit bumi, atau disebut gempa tektonik.

Berdasarkan seismologi (ilmu yang mempelajari fenomena gempa Bumi), gempa tektonik dijelaskan oleh “Teori Lapisan Tektonik”. Teori ini menyebutkan, lapisan bebatuan terluar yang disebut lithosphere atau litosfer mengandung banyak lempengan. Di bawah litosfer ada lapisan yang disebut athenosphere, lapisan ini seakanakan melumasi bebatuan tersebut sehingga mudah bergerak. Di antara dua lapisan ini, bisa terjadi tiga hal, yaitu lempengan bergerak saling menjauh, maka magma dari perut Bumi akan keluar menuju permukaan Bumi. Magma yang sudah dipermukaan bumi ini disebut lava.

Lempengan bergerak saling menekan, maka salah satu lempeng akan naik atau turun, atau dua-duanya naik atau turun. Inilah cikal gunung atau lembah, atau lempengan bergerak berlawanan satu sama lain, misalnya satu ke arah selatan dan satunya ke arah utara. Ketiga prediksi tersebut akan menimbulkan getaran yang dilewatkan oleh media tanah dan batu. Getaran ini disebut gelombang seismik (seismic wave), bergerak ke segela arah. Inilah yang disebut gempa. Lokasi di bawah tanah tempat sumber getaran disebut fokus gempa. Baca entri selengkapnya »


BACK TO BASIC – YANG TERJADI PADA SUATU KONVERGENSI LEMPENG-LEMPENG

12 Februari 2013

Oleh : Awang Harun Satyana (Geologist Senior, SKK Migas, 2013)


Gambar 1. Batas Lempeng Konvergen ( Encyclopedia Brittanica, 2007)

Indonesia adalah wilayah yang secara geologi merupakan pertemuan lempeng-lempeng litosfer (konvergensi). Maka kesepuluh ciri konvergensi lempeng ini semuanya telah terjadi dan akan terjadi di Indonesia.

Beberapa fakta/konsep di bawah tidak jarang kita kelirukan memahaminya, mari kita coba pahami lagi dengan benar.

1. Batas-batas lempeng konvergen adalah zona-zona tempat lempeng-lempeng litosfer bertemu. Terdapat tiga tipe utama interaksi lempeng konvergen: (a) konvergensi antara dua lempeng samudera, (b) konvergensi antara lempeng benua dan lempeng samudera, dan (c) benturan (collision) dua lempeng benua. Konvergensi (a) dan (b) akan menyebabkan penunjaman (subduction) lempeng samudera ke dalam mantel.

2. Suatu collision antarbenua akan didahului oleh subduction lempeng samudera di bawah satu benua. Samudera kemudian semakin menyempit oleh semakin mendekatnya kedua benua dan akhirnya tertutup ketika kedua benua berbenturan. Dalam proses benturan, sebagian kerak samudera akan lepas dari lempeng samudera, dan menumpu kepada satu benua dalam proses obduction. Jalur penutupan samudera atau jalur obduction ini dikenal sebagai suture benturan.

3. Kebanyakan zona penunjaman memiliki morfologi tektonik dari arah samudera ke arah benua sebagai berikut: tinggian di luar palung (outer swell), palung, busur nonmagmatik (prisma akresi, melange), cekungan depan busur (forearc basin), busur magmatik, dan cekungan belakang busur (backarc basin). Secara kontras, benturan antarbenua menghasilkan jalur lebar pegunungan lipatan dan tersesarkan yang terletak di zona benturan.

4. Penunjaman litosfer samudera menghasilkan zona gempa yang miring dan sempit, zona Wadati-Benioff, yang menerus sampai kedalaman lebih dari 600 km. Zona lebar gempa dangkal terjadi di wilayah benturan benua.

5. Deformasi kerak di zona penunjaman menghasilkan melange di forearc dan ekstensi atau kompresi di wilayah busur volkanik dan belakang busur. Benturan benua selalu dicirikan oleh kompresi lateral yang kuat yang menyebabkan pelipatan dan sesar anjak (thrust faulting).

6. Magma digenerasikan di zona penunjaman pada kedalaman 100-200 km oleh proses dehidrasi kerak samudera yang menyebabkan peleburan sebagian mantel di atasnya. Andesit dan magma asam lainnya yang seringkali tererupsi secara eksplosif adalah magma khas batas lempeng konvergen. Di tempat dalam, pluton-pluton diorit-granit terbentuk. Di zona benturan benua, magma tidak terlalu banyak, didominasi oleh granit, dan mungkin berasal dari peleburan kerak benua yang ada (anateksis). Baca entri selengkapnya »