Nenek Moyangku Kemungkinan Orang Afrika

3 Juli 2013

gak sengaja membuka sebuah presentasi yang membuat saya tertarik tentang migrasi manusia, dan ternyata asal muasal kemunculan manusia diperkirakan berasal dari Afrika. Lha kok afrika??? ya ternyata manusia di afrika 200 ribu tahun lalu sudah mulai ada dan terus bermigrasi ke seluruh dunia.

Proses Migrasi Dunia (national Geographic Indonesia 2006)

Proses Migrasi Dunia (National Geographic Indonesia 2006)

Persebaran pun di mulai dengan migrasi manusia ke bagian asia barat dan di sekitar jazerah arab kisaran 70 ribu tahun yang lalu dan selanjutnya menyebar ke arah australia kurang lebih 50 ribu tahun yang lalu dan migrasi terakhir manusia menuju Amerika selatan 12 ribu tahun yang lalu.  Lalu bagaimana kita tahu bahwa Afrika adalah nenek moyang kita??? sebuah penelitian mengatakan bahwa kromosom di hampir belahan bumi menunjukan kromosom tertentu yang identik dengan nenek moyang manusia di Afrika  sebagai gambaran bisa di lihat sebagai berikut

Sejarah Kromosom Manusia

Sejarah Kromosom Manusia

Apakah penelitian ini punya hubungan yang kental dengan penemuan sejarah peradaban yang akhir akhir ini gentir di beritakan mengenai Gunung Padang, sebuah situs megalitikum yang berdasarkan temuan temuan baru tentu akan mendukung aspek tulisan ini bahwa peradaban manusia Indonesia telah maju. berikut saya tuliskan kembali  tulisan mengenai gunung padang menurut pak ANdi arief melalui akun facebooknya

 

” (RELEASE) PYRAMID-SAND Gn PADANG INDONESIA- Dari Hasil lab metalurgi: “ancient cemen”‘ atau “perekat’ atau “suar” Gn Padang yang ditemukan diantara tumpukan batu2 andesit kekar kolom pada sisi lereng yang curam di daerah batas antara teras 1 dan 2 yang dilakukan tim arkeologi telah menghasilkan hal penting tentang komposisi semen yaitu : 41% kuarsa mono kristalin, 45% oksida besi magnesium dan 14%lempung. Oksida terdiri dari hematite (11%), magnetite (29%) dan beberapa jenis oksida besi yang tidak spesifik. (5%).
Sementara itu, hasil analisis laboratorium terjadap pasir halus ayak (well sorted) yang dikumpulkan pada saat pengeboran di teras 5 sampai dengan kedalaman 15 meter terdiri dari konsentrat butiran kuarsa 68%, oksida besi magnesium 22% dan silikat gelas 10%. Tidak ditemukan lempung (clay) dalam komposisi tersebut diinterpretasikan sebagai “pasir Piramid“ (PYRAMID -SAND)
Hal ini diperkuat Analisis lab difraksi X ray, belum ditambah hasil petrografi.
Oksida besi di semen dan “pasir pyramid” Gn Padang menjelaskan adanya “proses” intervensi manusia dengan pemanasan dan pembakaran untuk memurnikan konsentrasi . Tidak ditemukan konsentrasi dominan dari mineral oksida besi magnesium dari banyak analisis petrografi potongan sangat tipis batuan kekar kolom dari 2 lokasi titik pengeboran di Gn. Padang.
Sementara Usia situs : 1. Umur dari lapisan tanah (60 cm di bawah permukaan) ,sekitar 600 tahun SM (Lab Batan)
2. Umur dlapisan pasir-kerikil kedalaman sekitar 3-4 meter di Bor-1 sekitar 4700 tahun SM atau lebih tua (Lab Batan).
3. Umur lapisan tanah urug di kedalaman 4 meter ruang yang diisi pasir (di kedalaman 8-10 meter) di bawah Teras 5 pada Bor-2,sekitar 7600-7800 SM (Lab Miami Florida)
4. Umur pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor-2, sekitar 11.600-an tahun SM atau lebih tua (Lab Batan) 5. Umur dari lapisan kedalaman 5 meter sampai 12 meter,sekitar 14500 – 25000 SM/atau lebih tua (lab Miami Florida) (DR Bediarto Ontowirjo, TTRM) “

Di dalam tulisan diatas menyebutkan umur pasir yang paling tertua yang mengisi rongga adalah 25 ribu SM dan ini sesuai dengan prediksi proses migrasi manusia telah sampai ke negeri ini sekitar 50 ribu tahun yang lalu. tentunya secara tidak langsung fungsional bentukan punden berundak atau piramida atau segitiga menjadi bangunan ciri khas budaya lama untuk penyembahan

Bentukan Punden Berundak Gunung Padang

Bentukan Punden Berundak Gunung Padang

Baca entri selengkapnya »


Sebuah Catatan ; Fieldtrip IAGI-FGMI-MGEI Gunung Padang

14 Mei 2013
Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Gunung padang, sudah memberikan candu kepada semua peneliti untuk menelususri kebenarannya, dari sebuah batuan yang teronggok menumpuk, kini Gunung Padang mulai mendunia, tumpukan batuan itu mulai di tanyakan asal usulnya, dan bagaimana ia terbuat. Penelitian +/- 2 Tahun yang lalu yang dimulai oleh tim riset mandiri yang di pimpin oleh Dr. Danny Hilman, salah seorang pakar kegempaan yang dimiliki Indonesia saat ini

Sejak itulah warga mulai ramai mengunjungi Gunung padang, ada yang sekedar berwisata, mencari petunjuk, sampai melakukan riset. Tidak hanya wisatawan local tetapi juga mancanegara. Dan sejak saat itulah warga di sekitar mulai membangkitkan perekonomian melalui wisata Gunung Padang. 11 Mei 2013 lalu, saya bersama rekan rekan geosaintis muda lainnya melakukan kegiatan fieldtrip Gunung Padang dimana berbagai ahli profesi tak hanya geologi, bahkan pegawai Bank, mahasiswa Geografi, dan rekan rekan awam selain geosaintis pun mengikuti kegiatan ini.

Berangkat pukul 04.30 WIB, dengan berkumpul di kisaran setiabudi Jakarta Selatan, kami berangkat menggunakan satu bis. Dari Tim yang berangkat di bandung berangkat pukul 05.00 WIB. Matahari belum benar benar terbangun, tetapi semangat para peserta melebihi hal tersebut, perjalanan pun di mulai menuju Gunung Padang. Melintasi beberapa tempat menuju Cianjur, kabupaten dimana Gunung Padang ini terdapat, kita melewati jalanan khas Cibodas-Puncak Bogor, yang berliuk liuk dengan jalanan tanpa berlubang dengan sisa sisa kabut pagi menghiasi pemandangan kiri kanan bis. Banyak peserta memulai rasa penasarannya tentang Gunung Padang, yang selama ini memenuhi email mereka membahasan tentang Gunung Padang, seakan mengingatkan ketika kuliah dahulu “Back to Basic, Look At The Rock” , untuk membuktikan hal tersebut, tidak cukup dengan kata sebelum kita melihat langsung apa yang terjadi, dan biarkan insting sebagai geologist mengintepretasikan apa yang terjadi terhadap Gunung Padang.

Perjalanan ternyata +/- 2 Jam dan kami bertemu dengan peserta fieldtrip yang berangkat dari Bandung, di sekitar Cianjur, sambil menghela nafas segar pai, yang tentunya jarang di dapatkan sesegar di sini. Dari sinilah perjalanan bersama di lakukan, perjalanan masih jauh ternyata dan jalanan tak semulus layaknya liukan perjalanan Cibodas Puncak. Jalan yang hanya muat 2 mobil umum, membuta bis peserta terkadang harus berhati-hati dan menunggu antrian untuk melewatinya, dan terkadang kami harus mengalah dengan mobil mobil kecil lainnya. Dan inilah salah satu bukti, wisata Gunung Padang, tak seperti wisata wisata lainnya, dimana aksesnya terlihat lebih mudah, tengoklah Candi Borobudur dimana jalanan lebar dan bagus kita temui mulai dari muntilan sampia parkiran Mobil Candi Borobudur, atau cobalah tengok wisata Lembang yang jalanannya selalu di suplai dan di perbaiki setiap tahunnya untuk menunjang wisata Lembang, dan ini berbeda dengan jalanan menuju Gunung Padang, sepanjang jalan kita akan menemui banyak lubang jalan menganga seperti tak terurus. Jalanan kecil dengan pinggiran jurang di sebelahnya menjadi pemandangan umum di daerah ini.


Gambar 1. Jalan rusak menuju Gunung Padang, Cianjur


Gambar 2. Jalan berbukit dimana pinggirannya berupa jurang menuju Gunung Padang.

Geologi Umum Gunung Padang

Area gunung padang berada dalam deretan gunungapi pada Cekungan Bandung, yang termasuk dalam sistem busur kepulauan Sunda. Summerfield (1999) dalam Brahmantyo (2005) merinci sistem busur kepulauan ini menjadi sistem busur ganda yang terdiri atas busur magmatik/volkanik (Pulau Jawa) yang juga disebut sebagai busur dalam (inner arc), serta busur non-volkanik yang merupakan busur luar (outer arc) yang berada di laut selatan Pulau Jawa. Daerah Gunung Padang terdapat di busur magmatik/volkanik. Berdasarkan evolusi geologi Cekungan Bandung (Pannekoek, 1946 dalam Dam, 1994), fasa tektonik yang terjadi di daerah ini adalah rezim tensional yang memotong busur volkanik, bersamaan dengan kegiatan dan pengangkatan magmatik.

Gambar 3. Busur Kepulauan Sunda (Summerfield,1999 dalam Brahmantyo, 2005)

Menurut beberapa geolog yang melakukan peneliti lebih dahulu seperti Silitonga (1973), Koesmono (1976), Koesoemadinata dan Hartono (1980), Martodjojo (1984), Sujatmiko (1972), dan Alzwar (1992). litologi daerah ini secara umum terdiri dari batuan volkanoklastik yang berumur Tersier maupun Kuarter, meskipun terdapat formasi endapan marin di bagian timurlaut dari Cekungan Bandung (Tabel 2.1). Litologi di daerah Gunung Padang sendiri terdiri dari batuan gunungapi miosen akhir Formasi Beser dan batuan gunungapi Plistosen yang kemudian melanjutkan kegiatan erupsinya di Gunung Kendeng dan Gunung Patuha. Formasi Beser sendiri adalah formasi tertua diantara formasi lainnya di Pegunungan Bandung Selatan.    

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi Daerah Bandung Baca entri selengkapnya »