Sebuah Catatan ; Fieldtrip IAGI-FGMI-MGEI Gunung Padang

14 Mei 2013
Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Fieldtrip IAGI-MGEI-FGMI

Gunung padang, sudah memberikan candu kepada semua peneliti untuk menelususri kebenarannya, dari sebuah batuan yang teronggok menumpuk, kini Gunung Padang mulai mendunia, tumpukan batuan itu mulai di tanyakan asal usulnya, dan bagaimana ia terbuat. Penelitian +/- 2 Tahun yang lalu yang dimulai oleh tim riset mandiri yang di pimpin oleh Dr. Danny Hilman, salah seorang pakar kegempaan yang dimiliki Indonesia saat ini

Sejak itulah warga mulai ramai mengunjungi Gunung padang, ada yang sekedar berwisata, mencari petunjuk, sampai melakukan riset. Tidak hanya wisatawan local tetapi juga mancanegara. Dan sejak saat itulah warga di sekitar mulai membangkitkan perekonomian melalui wisata Gunung Padang. 11 Mei 2013 lalu, saya bersama rekan rekan geosaintis muda lainnya melakukan kegiatan fieldtrip Gunung Padang dimana berbagai ahli profesi tak hanya geologi, bahkan pegawai Bank, mahasiswa Geografi, dan rekan rekan awam selain geosaintis pun mengikuti kegiatan ini.

Berangkat pukul 04.30 WIB, dengan berkumpul di kisaran setiabudi Jakarta Selatan, kami berangkat menggunakan satu bis. Dari Tim yang berangkat di bandung berangkat pukul 05.00 WIB. Matahari belum benar benar terbangun, tetapi semangat para peserta melebihi hal tersebut, perjalanan pun di mulai menuju Gunung Padang. Melintasi beberapa tempat menuju Cianjur, kabupaten dimana Gunung Padang ini terdapat, kita melewati jalanan khas Cibodas-Puncak Bogor, yang berliuk liuk dengan jalanan tanpa berlubang dengan sisa sisa kabut pagi menghiasi pemandangan kiri kanan bis. Banyak peserta memulai rasa penasarannya tentang Gunung Padang, yang selama ini memenuhi email mereka membahasan tentang Gunung Padang, seakan mengingatkan ketika kuliah dahulu “Back to Basic, Look At The Rock” , untuk membuktikan hal tersebut, tidak cukup dengan kata sebelum kita melihat langsung apa yang terjadi, dan biarkan insting sebagai geologist mengintepretasikan apa yang terjadi terhadap Gunung Padang.

Perjalanan ternyata +/- 2 Jam dan kami bertemu dengan peserta fieldtrip yang berangkat dari Bandung, di sekitar Cianjur, sambil menghela nafas segar pai, yang tentunya jarang di dapatkan sesegar di sini. Dari sinilah perjalanan bersama di lakukan, perjalanan masih jauh ternyata dan jalanan tak semulus layaknya liukan perjalanan Cibodas Puncak. Jalan yang hanya muat 2 mobil umum, membuta bis peserta terkadang harus berhati-hati dan menunggu antrian untuk melewatinya, dan terkadang kami harus mengalah dengan mobil mobil kecil lainnya. Dan inilah salah satu bukti, wisata Gunung Padang, tak seperti wisata wisata lainnya, dimana aksesnya terlihat lebih mudah, tengoklah Candi Borobudur dimana jalanan lebar dan bagus kita temui mulai dari muntilan sampia parkiran Mobil Candi Borobudur, atau cobalah tengok wisata Lembang yang jalanannya selalu di suplai dan di perbaiki setiap tahunnya untuk menunjang wisata Lembang, dan ini berbeda dengan jalanan menuju Gunung Padang, sepanjang jalan kita akan menemui banyak lubang jalan menganga seperti tak terurus. Jalanan kecil dengan pinggiran jurang di sebelahnya menjadi pemandangan umum di daerah ini.


Gambar 1. Jalan rusak menuju Gunung Padang, Cianjur


Gambar 2. Jalan berbukit dimana pinggirannya berupa jurang menuju Gunung Padang.

Geologi Umum Gunung Padang

Area gunung padang berada dalam deretan gunungapi pada Cekungan Bandung, yang termasuk dalam sistem busur kepulauan Sunda. Summerfield (1999) dalam Brahmantyo (2005) merinci sistem busur kepulauan ini menjadi sistem busur ganda yang terdiri atas busur magmatik/volkanik (Pulau Jawa) yang juga disebut sebagai busur dalam (inner arc), serta busur non-volkanik yang merupakan busur luar (outer arc) yang berada di laut selatan Pulau Jawa. Daerah Gunung Padang terdapat di busur magmatik/volkanik. Berdasarkan evolusi geologi Cekungan Bandung (Pannekoek, 1946 dalam Dam, 1994), fasa tektonik yang terjadi di daerah ini adalah rezim tensional yang memotong busur volkanik, bersamaan dengan kegiatan dan pengangkatan magmatik.

Gambar 3. Busur Kepulauan Sunda (Summerfield,1999 dalam Brahmantyo, 2005)

Menurut beberapa geolog yang melakukan peneliti lebih dahulu seperti Silitonga (1973), Koesmono (1976), Koesoemadinata dan Hartono (1980), Martodjojo (1984), Sujatmiko (1972), dan Alzwar (1992). litologi daerah ini secara umum terdiri dari batuan volkanoklastik yang berumur Tersier maupun Kuarter, meskipun terdapat formasi endapan marin di bagian timurlaut dari Cekungan Bandung (Tabel 2.1). Litologi di daerah Gunung Padang sendiri terdiri dari batuan gunungapi miosen akhir Formasi Beser dan batuan gunungapi Plistosen yang kemudian melanjutkan kegiatan erupsinya di Gunung Kendeng dan Gunung Patuha. Formasi Beser sendiri adalah formasi tertua diantara formasi lainnya di Pegunungan Bandung Selatan.    

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi Daerah Bandung Baca entri selengkapnya »