Belajar Bareng Di Geologi Universitas Sriwijaya

2 November 2015
Forum Geosaintis Muda Indonesia

Forum Geosaintis Muda Indonesia

Tidak terasa, sudah hampir 3 tahun Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), telah berdiri, dari sekedar ide yang di motori oleh Pak Rovicky yang waktu itu menjabat sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, kemudian beberapa anak anak muda di panas panasi dan sekarang lambat laun FGMI menjadi motor penyemangat baru untuk para geosaintis muda melakukan sumbangsih pada masyarakat Indonesia.

Dari kegiatan FGMI jugalah, sudah banyak geosaintis muda berbagi inspirasi kepada mahasiswa di kampus-kampus geosains bahkan juga menjadi pelayan untuk masyarakat baik dalam mitigasi atau menyalurkan sebagian rezeki kepada korban bencana geologi. Sudah 3 tahun ini pula lah saya berkecimpung di organisasi ini, yang menurut saya lebih dari sekedar organisasi tapi rumah untuk saling berbagi pengetahuan geosains bahkan saat ini tidak hanya orang orang geosains tetapi juga di luar itupula.. tanggal 20-21 Oktober 2015 kemarin saya di berikan kesempatan untuk belajar barengt dengan mahasiswa geologi Universitas Sriwijaya. dengan jumlah yang hadir melebihi ekspetasi saya sekitar 100 mahasiswa yang hadir, mengingatkan saya yang dulu menjadi mahasiswa S1 Geologi Universitas Diponegoro dengan segala keterbatasannya. Dan dua hari itulah saya berbagi keilmuan dan saya apresiasi sekali dengan para dosen di sana dengan segala keterbatasan.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Mitigasi Banjir Jakarta, Seharusnya Sudah Dari Dulu

23 Desember 2012

Jakarta sebuah kota besar yang tak luput dari masalah banjir ketika hujan datang, penyebabnya pasti yang selalu di salahkan adalah daerah Bogor, yang menjadi penyebab utama sokongan debit sungai yang terus bertambah. Mari kita kenali lagi Jakarta dari sudut pandang geologi.

Jakarta

DKI Jakarta (Wikimapia.org)

Berdasarkan gambaran diatas DKI Jakarta ini ternyata sudah penuh sesak dengan pemukiman tanpa adanya lahan hijau, Jakarta sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Holosen (quarter). Endapan aluvium yang belum termasifkan sepenuhnya ini berasal dari sedimentasi sungai yang berada di sekitar Jakarta seperti Ciliwung, Cisadane, Cideng, dan lainnya. Sebenarnya Jakarta dahulu memang layak untuk diperhitungkan sebagai kota strategis sebagai kota pelabuhan. Dahulu Jakarta tidak sepadat seperti ini

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

Kota Batavia di Tahun 1888 (Sumber Wikipedia)

pada saat itu juga pemerintah Jakarta membuat kanal-kanal untuk mengurangi genangan akibat limpasan sungai di sekitar Jakarta, ini mitigasi pertama yang dilakukan pemerintah belanda saat itu yang menyadari banyaknya sisi negatif dari banjir yang melanda Batavia saat itu. Baca entri selengkapnya »


Tatanan Tektonik Geologi Di Kepala Burung Papua

27 November 2012

Struktur Regional Papua

Geologi Papua dipengaruhi dua elemen tektonik besar yang saling bertumbukan dan serentak aktif (Gambar 1). Pada saat ini, Lempeng Samudera Pasifik-Caroline bergerak ke barat-baratdaya dengan kecepatan 7,5 cm/th, sedangkan Lempeng Benua Indo-Australia bergerak ke utara dengan kecepatan 10,5 cm/th. Tumbukan yang sudah aktif sejak Eosen ini membentuk suatu tatanan struktur kompleks terhadap Papua Barat (Papua), yang sebagian besar dilandasi kerak Benua Indo-Australia.

Periode tektonik utama daerah Papua dan bagian utara Benua Indo-Australia dijelaskan dalam empat episode (Henage, 1993), yaitu (1) periode rifting awal Jura di sepanjang batas utara Lempeng Benua Indo-Australia, (2) periode rifting awal Jura di Paparan Baratlaut Indo-Australia (sekitar Palung Aru), (3) periode tumbukan Tersier antara Lempeng Samudera Pasifik-Caroline dan Indo-Australia, zona subduksi berada di Palung New Guinea, dan (4) periode tumbukan Tersier antara Busur Banda dan Lempeng Benua Indo-Australia. Periode tektonik Tersier ini menghasilkan kompleks-kompleks struktur seperti Jalur Lipatan Anjakan Papua dan Lengguru, serta Antiklin Misool-Onin-Kumawa

Elemen tektonik Indonesia dan pergerakan lempeng-lempeng tektonik (Hamilton, 1979).

Gambar1. Elemen tektonik Indonesia dan pergerakan lempeng-lempeng tektonik (Hamilton, 1979).

Tektonik Papua, secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu Badan Burung atau Papua bagian timur dan Kepala Burung atau Papua bagian barat. Kedua bagian ini menunjukkan pola kelurusan barat-timur yang ditunjukan oleh Tinggian Kemum di Kepala Burung dan Central Range di Badan Burung, kedua pola ini dipisahkan oleh Jalur Lipatan Anjakan Lengguru berarah baratdayatenggara di daerah Leher Burung dan juga oleh Teluk Cenderawasih (Gambar 2).

Struktur Regional Papua

Gambar 2. Struktur Regional Papua

Tatanan Tektonik Kepala Burung Papua

Daerah Kepala Burung mengalami kompresi ke selatan sejak Oligosen sampai Resen. Kompresi ini merupakan hasil interaksi konvergen miring (oblique) antara Lempeng Benua Indo-Australia dan Lempeng Samudera Pasifik-Caroline (Dow dan Sukamto, 1984). Elemen-elemen struktur utama adalah Sesar Sorong, Blok Kemum – Plateu Ayamaru di utara, Sesar Ransiki, Jalur Lipatan-Anjakan Lengguru dan Cekungan Bintuni dan Salawati di timur dan Sesar Tarera-Aiduna, Antiklin Misool-Onin-Kumawa dan Cekungan Berau di selatan dan baratdaya. Cekungan-cekungan Bintuni, Berau dan Salawati diketahui sebagai cekungancekungan Tersier. Baca entri selengkapnya »


Lingkungan Pengendapan Delta

6 November 2012

Definisi

Pengertian delta adalah sebuah lingkungan transisional yang dicirikan oleh adanya material sedimen yang tertransport lewat aliran sungai (channel), kemudian terendapkan pada kondisi di bawah air (subaqueous), pada tubuh air tenang yang diisi oleh aliran sungai tersebut, sebagian lagi berada di darat/subaerial (Friedman & Sanders, 1978, vide Serra, 1985). Delta terbentuk di hampir semua benua di dunia kecuali di Antarika dan Greenland, yang daerahnya tertutup salju), dimana terdapat pola penyaluran sungai dengan dimensi yang luas dan jumlah material sedimen yang besar (Boggs, 1987). Pada umumnya, delta akan terbentuk apabila material sedimen dari daratan yang terangkut lewat sungai dalam jumlah yang besar masuk ke dalam suatu tubuh air yang tenang (standing body water). Sebagian material yang terendapkan di muara sungai tersebut terendapkan pada kondisi subaerial (Barrel, 1912 vide Walker 1984). Proses pengendapan pada delta menghasilkan pola progradasi yang menyebabkan majunya garis pantai. Litologi yang dihasilkan umumnya mempunyai struktur gradasi normal pada fasies yang berasosiasi dengan lingkungan laut (marine facies). Dalam pembentukan delta, material sedimen yang dibawa oleh sungai merupakan faktor pengontrol utama.

Delta Mississippi

Gambar Delta Mississippi

Pembentukan delta dikontrol oleh interaksi yang rumit antara berbagai faktor yang berasal/bersifat fluviatil, proses di laut dan kondisi lingkungan pengendapan. Faktor-faktor tersebut meliputi iklim, pelepasan air, muatan sedimen, proses yang terjadi di mulut sungai, gelombang (wave), pasang surut (tide), arus, angin, luas shelf, dan lereng (slope), tektonik, dan geometri cekungan penerima (receiving basin) akan mengontrol distribusi, orientasi, dan geometri internal endapan delta (Wright et al., 1974, vide Walker, 1984).

Hanya beberapa proses saja yang tergolong sangat penting dalam mengontrol geometri, proses internal yang bersifat progradasi pada delta (progradational framework) serta kecenderungan arah penyebaran (trend) delta, yaitu : pasokan sedimen, tingkat energi gelombang, dan tingkat energi pasang surut (Galloway, 1975; Galloway & Hobday, 1983 vide Boggs, 1987). Ketiga faktor inilah yang nantinya akan sangat berperan dalam penggolongan delta ke dalam tiga tipe dasar delta yang sangat fundamental yaitu (1) fluvial-dominated, (2) tide-dominated, dan (3) wave-dominated (Boggs, 1987). Adanya dominasi diantara salah satu faktor pengontrol tersebut akan mempengaruhi geometri delta yang terbentuk. Menurut Curray (1969) delta memiliki beberapa bentuk yang umum, yaitu :
1. Birdfoot : Bentuk delta yang menyerupai kaki burung
2. Lobate : Bentuk delta seperti cuping
3. Cuspate : Bentuk delta yang menyerupai huruf (v)
4. Arcuate : Bentuk delta yang membundar
5. Estuarine : Bentuk delta tidak dapat berkembang dengan sempurna

http://www.pnas.org/content/104/43/16804/F1.large.jpg

Klasifikasi Delta menurut Galloway (1975) Vide Serra (1985)

Baca entri selengkapnya »


Tentang Geologi (Postingan ke 100)

20 April 2012

Akhirnya tulisan/postingan sudah menuju angka 100, suka duka menulis mulai nyari bahan , sampai mod-modan menulis dihadapi. Dan di edisi special yang ke 100 serta mengucapkan terim kasih atas kunjungan yang telah mencapai angka 60 Ribu menurut wordpress, saya mau posting tentang Jurusan Geologi di Indonesia dan Ngapain aja Kuliahnya

Kita runut dengan apa itu Geologi

Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kebumian, jadi bukan cumin batu yang kita pelajari, walaupun banyak yang bakal bilang dengan kita ketika kuliah nanti bahwa kita kurang kerjaan , tak lebih tak kurang kita selalu ngelihatin batu. Cabang ilmu Geologi sangat banyak sekali, mulai dari geoteknik (Menangani hal hal rekayasa teknik), hidrogeologi (Belajar tentang air), Mineralogi (Mempelajari tentang mineral), Geologi Migas (Belajar sangkut paut tentang oil & Gas), sedimentologi (memahami tentang sedimen), Vulkanologi (Kegunungapian), dan masih banyak lagi

Cara Masuk Geologi ?

Cara masuknya banyak cara, mulai dari spmb, undangan tes masuk, PMDK, dan beberapa universitas juga ngadain Ujian Masuk. Geologi merupakan bagian IPA, beda dengan Geografi yang IPS. Tapi jangan takut kala anak anak IPS mau ngambilnya, jurusan ini bukan jurusan mematikan ataupun jurusan unggulan tapi prospektif buat masa depan, soal itu kalian akan tahu sendiri nantinya. Soal mata kuliah hmmm….. Kalian hanya akan menemui banyak kesulitan di semester semester awal saja, karena kalian akan beradaptasi dengan hal hal aneh.


Dimana ada Niat di Situ Ada Jalan Baca entri selengkapnya »