Batubara –> Mengenal Lebih dekat CBM

Coal bed Methana menjadi wacana baru, tentunya akan semakin menarik, hal ini tak lepas dengan potensi batubara yang ada di negeri ini saat ini. Pengembangan keilmuan tentang Coal Bed Methana mulai menarik para investor asing untuk berlomba menemukan energi yang akan menjadi fenomena baru tentunya.

Cleat Batubara

Gas yang tersimpan didalam Celah batubara

Coal bed methana, sesuai dengan namanya mempunyai potensi CH4 dan potensi tersebut mempunyai manfaat yang besar tentunya untuk pengemabangan energi selanjutnya. Sejumlah formasi di Indonesia merupakan penghasil batubara yang bagus seperti Formasi Muara enim, Formasi Tanjung, Formasi Balikpapan, Formasi Lahat, dan beberapa formasi lainnya. Pengolahan produksi gas batubara ini relatif lebih hijau daripada penambangan batubara itu sendiri.

Lingkungan Pengendapan
Lalu di mana saja batubara itu terbentuk? secara esensi batubara berasal dari tumbuhan yang kemudian terendapkan dengan proses burial dan pressure sehingga membentuk batubara (Itu mungkin teori yang mudahnya). Batubara umumnya di temukan pada daerah lingkungan pengendapan flood plain, ox bow lake, delta plain delta front, lacustrine, lagoon, zona zona creveasse play, dan beberapa daerah lainnya. tetapi hal ini akan bergantung pada sumber nya, apabila keterdapatan sumber pohon pohon besar, relatif akan membentuk batubara yang cukup tebal. Sedangkan pada daerah delta front akan di tumbuhi tumbuhan yang relatif lebih kecil daripada daerah sungai

http://earthonlinemedia.com/ipg/images/lithosphere/fluvial/alluvial_stream.jpg

Lingkungan Pengendapan Sungai

 

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.

Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Tabel 1

Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara

(Diesel, 1992)

Environment Subenvironment Coal Characteristics
Gravelly braid plain Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur
Sandy braid plain Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur
Alluvial valley and upper delta plain channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur
Lower delta plain Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur
Backbarrier strand plain Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur 

regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur

Estuary channels, tidal flats, fens and marshes mainly bright coal with high GI and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dandelta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998).

Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapanchannel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.

Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapanlevee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple laminationdan paralel lamination.

Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh darichannel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.

Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis. Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.

Geokimia Batubara Untuk CBM

Pengembangan gas tak akan lepas dari kimianya dan itulah pentingnya pengukuran kandungan kimia untuk menentukan seberapa besar batubara ini akan menghasilkan gas yang bagus, perlunya pengukuranVolatile Matter, Ash, Fixed Carbon, maceral Analysis, Sulfur, dan vitrinite analysis punya indikasi yang kuat untuk mengetahui seberapa kualitas batubara yang dihasilkan.

Klasifikasi Batubara

Klasifikasi Batubara

Pada tabel diatas , semakin tinggi nilai vitrinite menunjukan kualitas batubara yang baik, selain itu nilai vollatile matter yang semakin besar menunjukan kualitas batubara yang rendah. Selain vitrinite analysis ada juga pengaruh pembentukan batubara yaitu dari maceral nya. Maceral merupakan bagian terkecil dari batubara yang bisa teramati dengan mikroskop. Maseral dikelompokan berdasarkan tumbuhan atau bagian tumbuhan penyusunnya menjadi tiga grup yaitu Vitrinitit (ialah hasil dari proses pembatubaraan materi humic yang berasal dari selulosa (C6H10O5) dan lignin dinding sel tumbuhan yang mengandung serat kayu (woody tissues) seperti batang, akar, daun, dan akar),Liptinite (Liptinit tidak berasal dari materi yang dapat terhumifikasikan melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari dari jenis tanaman tingkat rendah seperti spora, ganggang (algae), kutikula, getah tanaman (resin) dan serbuk sari (pollen) ) dan Inertinite (berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar dan sebagian lagi berasal dari hasil proses oksidasi maseral lainnya atau proses decarboxylation yang disebabkan oleh jamur dan bakteri).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: